Showing posts with label anehaneh. Show all posts
Showing posts with label anehaneh. Show all posts

Friday, August 31, 2012

Japanese Otaku…?

Hahaha… this thing came up when I talked to my Japanese friends about many things I know about Japan, from the language to Jpop musicians to dorama then... to anime. Firstly, they amazed with how I spoke the language (only in very simple sentence) in correct pronunciation, then I admit that I know it all from those bunch of anime, dorama and songs. Then..., “So you’re a Japanese OTAKU”. Dhuaaaar!

I thought that otaku refers to those freaks who always watching anime and socially excluded... Really, I’m not in that level of freakiness, though, yes, I’m also freak :D I can watch 3 to 5 episodes of anime or dorama per day (note: when I don’t have any assignment to be submitted soon ;p), and I had more than 1000 Japanese song mp3s, I ever sing in a Jpop-and-rock-cover-band, and I also cosplayed. Huwooo...

When I posted the pictures I took when I visited Mibudera temple (Shinsengumi Heritage Site) in Facebook, my Japanese friends started to ask me how come I know that place?? It rarely appears in tourism reviews for Kyoto. Yeah, only those who know Shinsengumi, and interested in it will visit that place. And... I think I really freak of Shinsengumi stuffs since I read the manga Kaze Hikaru (author: Watanabe Taeko).

Maybe for some people who didn’t know nor interested in Shinsengumi stuffs, it will be boring to visit the sites. Beside Mibudera temple (former Shinsengumi homebase), there is also Yagi house nearby the temple (place where Shinsengumi first founded). And in the second place..., I have to pay for ticket to get inside the house... only listening storytelling which is, unfortunately, only in Japanese (sweats), cannot take pictures also. But, I felt so happy to get inside. See..., I’m freak!


And then, my freakiness is not stops only in Mibu.

Couple weeks after that, me and Naoya (Japanese) and Chor (Thai) visited Kyoto International Manga Museum. And this museum is really a great place to read mangas and relax. The museum collects manga from all over the world, yeeeah, I found Indonesian mangas too!! They also collect Japanese manga from 1950s (if I’m not mistaken). And the most fascinating is the “Wall of Manga” which allows you to read all of the mangas there (but sorry, mostly in Japanese) and you can read everywhere in the museum. I like to read in the outside of the building, in the front field, because I couldn’t stand with the AC temperature :D hehehe. Besides, in the field, you can freely read with the most comfortable position (you can lay down in the ground for sure). For this time, the three of us became too busy with our own world.

(Chor)

(Naoya)


And lastly, the thing makes me labeled as Japanese otaku was because I saw Rurouni Kenshin movie. Firstly I just asked my Japanese friend, how to watch cinema in Kyoto and where is it. Suddenly one of my Japanese friend, Dohi, kindly offered to accompany me watching. Then the plan was spreaded among the Japanese students, “Atid san I saw you visited Mibudera, you also wanna see Rurouni Kenshin?? You know, I also like Kenshin,” then the conversation gets longer, only talking about Shinsengumi and Kenshin. Hahaha...

(Dohi)


It’s not too bad to become freak. Eventhough I looks too much talking, but actually I’m shy and don’t know what to talk to new friends. So, sometimes my freakiness can break the wall and help me a lot in making friends. Besides, it also take me to many unusual places, for example as I mentioned above, and also new experiences that not all of my friends or even any other visitors in Kyoto did that. Above all, maybe my strong interest about Japan leads me to struggle and pray a lot to get myself there, even only a while. 

And as my friends Kojima and Nagakawa said, nowadays it’s not really bad to be otaku, as long as you still live in the real world. 

Which type are you? ;)

Wednesday, March 28, 2012

Super Junior's Super Show #4 Bangkok




Hey hey!!
Yeah, I got a chance to see this super amazing Kpop idol show in Thailand.
Yeah, most of Kpop idols held a show here.

And here's the complete story HERE (written in Indonesian)

This was my firts experience.

Enjoy!

Thursday, March 22, 2012

Super Show!

Sawadeekaa!!

Hay hay friends, how are you all? How’s life lately? Really I had a much messed up academic life. Very hard to concentrate only on studying, my brain easily got tired, full then blows! Hahaha...

Sudah dari dulu aku niati kalau ke Thailand aku akan menonton salah satu konser K-pop. Why? It’s just because there are many K-pop idol held their shows here, they got a lot of fan base in Thailand. Bener lho, style disini bahkan udah sangat kekorea-koreaan, both girls and boys. It is so easy to find a girl like those SNSD girls, or boy like those Super Junior guys. Dari ujung rambut sampe ujung kuku kelingking kaki. Hihihi... Nggak percaya? Just come to Thailand and and witness it yourself, but you should note, jangan sampai salah tebak itu cowo atau cewe beneran, there are a lot of ladyboys and tomboys here :D

Ok, since it was confirmed that Super Junior would come to Thailand for Super Show 4 (SS4), I save some money for watch the show. I’M NOT AN ELF (Ever Lasting Friend, Super Junior’s fan), but I really curious how could the Korean idol make a wonderful show as I watched in Youtube, and how they could get that much of loyal fans widespread! 

Dan di hari yang telah ditentukan, beberapa hari setelah aku kembali ke Thailand dari liburanku di Indonesia, salah satu temenku di kampus, mbak Silvi, langsung ngajak buat beli tiketnya. Aku sih oye oye aja, demi memuaskan rasa penasaranku. Mbak Silvi udah well prepared banget, cari info sana-sini , sedangkan diriku udah terima ngikut aja, hehehe. Pagi-pagi kami udah ke Future Park Rangsit buat ngantri tiket, dan jreng jreng… ternyata antriannya sudah panjang saudara-saudara sebangsa dan setanah air *sweat.


Repotnya, karena kami mai chai khun thai (bukan orang Thai), jadinya mau cari info apa-apa sulit, sedikit sekali orang Thai di luar kampus yang bisa diajak ngomong bahasa Inggris, even penjaga loketnya. Jadi ceritanya kami dibarisin di parkiran, dan di parkiran itu kita dikasih nomor. Oh please, jangan bayangkan antri di parkiran itu baik-baik saja, it was so damn HOT there! Bulan-bulan gini di Thailand suhu udara bisa bikin orang mandi keringat. Setelah dibagikan nomor antrian, barulah kami bisa nunggu panggilan dengan adem di depan gerai TRUE (one of the cellular provider here). 

15 menit kemudian, nomor urut 20an dipanggil, dan TIKET HABIS! What??? Sold out in 15 minutes? Nggak nyangka banget animonya bakalan kayak gitu. Dan beberapa abege udah pada tumpah airmatanya nangis-nangis, mbak Silvi mulai sibuk nelponin temennya buat pesen online tapi ternyata habis juga. Di tengah-tengah keputusasaan, aku bilang sama mbak Silvi, “Ayo ayo kita cari sampai dapat,” dan tiba-tiba ada ibu-ibu yang ngejual tiketnya buat kita, tapi cuma satu. Ya udah, I passed it to her. Tau-tau dari loket ada yang bilang sisa tiket 2, mbak Silvi langsung maju, dan tiket yang tadi dibeli dijual lagi. Hahaha... aku bengong aja, how can these people trade ticket that fast, still cannot get the idea :D Sayang sekali, 2 temanku di Indonesia yang nitip nggak bisa dapat, maafkan kami... this was really out of our control... hope we can meet each other in Indonesia :) Then, seminggu sebelum konser digelar, kami pun menukarkan voucher tiketnya, ke tiket resminya yang bentuknya mirip kartu ATM, hehehe, but it is nice actually.


And here comes the D day! March 17, 2012. Saturday.


Kami berangkat sekitar jam 2 an dari kampus, setelah mbak Silvi selesai nge-lab. Kami naik bis 510 menuju ke IT Square di dekat bandara Don Mueang (ini bandara internasional lamanya Thailand, sekarang jadi bandara untuk penerbangan domestic aja). Dari situ kita naik taksi menuju IMPACT Arena Muang Thong Thani. Aku piker, ngapain juga dateng gasik banget banget kayak gitu, orang acaranya sendiri masih jam 6 nanti. But olala~ ternyata disana ribuan ELF udah ngantri sambil bawa bantal guling selimut di depan pintu masuk. What the hell were they doing? Iya, ngantri masuknya biar dapet posisi enak pas nonton. Owalah...


Aku nggak gitu tertarik buat ngantri nggak jelas kayak gitu, mendingan jalan-jalan, puter-puter, lihat-lihat ada apa aja sih disana. Ternyata di luar acara konser itu sendiri, ada beberapa panggung dan gerai merchandise, baik yang official sponsor maupun non official. Ada panggung yang menampilkan cover dance ala Super Junior. Walaupun Cuma cover dance, cewek-cewek yang nonton pun tetep jejeritan lho, hedeh dik... ntar malah suaramu abis pas Suju-nya nongol lho...


Puas puter-puter cari light stick, kami pun mulai berasa panas dan gerah, tapi cari yang jual kipas rata-rata kipasnya nggak enak, walaupun pake foto-foto personil Suju :D Aku tiba-tiba puny aide buat cari kipas gratisan dari produk sponsor. Pertama, pura-pura tertarik sama produk minuman susu rasa pisang, setelah nyicip segelas kecil dan ngobrol-ngobrol bentar sama mbak SPG-nya dengan bahasa Inggris yang nggak lancar, akhirnya kami nekat nanya, “How we can get the fan?” dan dia langsung ngasih kipasnya, “Oh this is for you, free” YAY!!! Eh pas dipake kipasan, nggak terlalu enak juga, loyo gitu kipasnya, hahaha! Terus lihat kipasnya Fanta kok kayanya enak dan bentuknya lucu. Kami puter-puter lagi, ketemu lah gerai Fanta dan kali ini langsung nekat aja minta kipas, eh langsung dikasih, plus balon  gebuknya, seorang dapat dua pula. Fu fu fu... (dasar mental gratisan!)


It’s time to get in. Tapi tetep ya, harus antri. Salutnya, orang sini antrinya fair-fair aja, datang telat ya dapet belakang, nggak ada tuh asal serobot-serobot. Tertib. Point plus for Thai ELF! Lucunya, kami nggak cuma ngantri bareng para adik-adik abege (yang membuat kami berasa ahjumma/tante-tante), tapi juga barengan sama ibu-ibu. Wih, nggak tau juga kenapa ibu-ibu ini juga ikutan nonton konser Super Junior yang kebanyakan fans lainnya adalah gadis-gadis remaja dan embak-embak (kami). Sebelum masuk ke dalam gedung, kami harus melalui security check, tas kami dibuka dan nyebelinnya air minum mau nggak mau harus ditinggal di luar, padahal kami udah beli yang satu liter, jaga-jaga bakal kehausan dan seret. Hiks.


Sampai di dalam, masih harus nunggu sekitar sejam sebelum para personel Super Junior unjuk gigi. Penonton banyak yang nggak sabar, sampai-sampai iklan aja diteriakin dan bikin gelombang-gelombang nggak jelas. Aku sendiri sampai keluar masuk gedung gara-gara kebelet pipis dan haus. Hahaha! Bener-bener peraturan yang nyusahin sih. Tapi menurut hipotesis mbak Silvi, sepertinya sih biar nggak bocor dan bikin orang kepeleset.
Setelah sabar menunggu sambil nonton iklan, akhirnya lampu mulai dipadamkan dan terdengarlah opening song “SUPERMAN” dan sedikit-sedikit personel Super Junior mulai menampakkan wujudnya. Aku mulai excited, seperti apa sih mereka dalam wujud nyata. Wanna know? They are much more handsome and cute in real. Hahahaha!

Openingnya sudah bikin aku mangap. Dance performance, efek lampu, hydrolic-moving-stage nya keren buangettt, plus kembang api yang beberapa kali meletus, dan plus air mancur yang nggak tau gimana nggak bikin penonton kebasahan, plus lagi kostum yang dipakai Super Junior di opening itu keren sekali. Okay, perfect opening! One thing, maybe you will ask, how about their singing skill? Don’t ask, all I can hear clearly is the fans screaming loud right to my ear. Dammit!

Dan lagu-lagu berikutnya pun mengalir. Ada beberapa lagu yang aku sama sekali nggak ngerti and I just kept annoy mbak Silvi by asking “What is this song?” to her. Once again, I’m not ELF. Ada sesi dimana para personel Suju perform in solo, duo or group. Yang nyanyi solo, sudah pasti KRY, Kyuhyun, Ryeowook dan Yesung. Suara mereka emang mantap dan pantas jadi vocal leader untuk boyband kruyukan seperti Suju. Ada juga duo Eunhyuk-Donghae yang seru banget dan pastinya dancenya keren. Selain personil Suju sendiri, ada juga Henry dan Zhoumi dari Super Junior M, I like them, because they greet people in English! Bonus juga penampilan Sulli dan Amber personilnya f(x), Sulli was so cute and Amber was really cool ^^d


Show Super Junior ternyata nggak cuma parade nyanyi dan nari aja, ada sesi dimana mereka cuma bercanda ria di panggung tapi penonton tetep jejeritan. Disini sebagai orang Indonesia yang nonton di negeri gajah, kami cuma bisa bengong karena there was no translation in English at all. Super Junior spoke in Korean, and the translator spoke in Thai, we are lost in translation. Just can see what they’re doing, but not what they’re talking about.

Dari konser selama 4 jam itu, akhirnya ketemu juga jawaban atas rasa penasaranku. They’re very entertaining, and they UNDERSTAND how to entertain people, how to service fans. Oops, Siwon did so many fan services in this show, and Leeteuk kinda disappoint his fans by gave the rose to the old granny. Semua personelnya berusaha banget buat akrab dan deket dengan penonton, beberapa tulisan, bendera, boneka, sama mereka diambilin. Penontonnya nggak hanya orang-orang Thai aja, tapi juga beberapa dari negara tetangga, bahkan Eropa. Wow. Niat banget ya...

Mereka tampil total walaupun itu konser hari kedua buat mereka. Dalam hati aku bingung juga, apa mereka nggak bosan yaa tampil kayak gitu terus? Nampak seneng terus, apa mereka bener-bener sedang gembira? Kadang artis pintar menyembunyikan perasaannya di panggung. Tapi ada yang nggak bisa disembunyikan dari salah satu mereka, Yesung nampaknya nggak terlalu sehat, beberapa kali tertangkap dia batuk, padahal he’s one of the vocal leader. I really appreciate he tried so hard to hide it. 

"Sorry Sorry" nampaknya udah menjadi lagu kebangsaan mereka. Rasanya seru banget waktu lihat mereka nyanyi lagu ini. Sayangnya mereka sudah nggak ber-13 lagi, jadi rasanya panggung kurang rame, apalagi ditambah absennya Heechul dari konser ini, tambah sepi aja (pantes adikku nggak ngiri-ngiri amat waktu aku bilang mau nonton, she’s a big fan of Hee-nim!). Tapi di salah satu lagu, Heechul nongol di layar dan semua personel Suju langsung hormat sama idol paling eksentrik ini. Hm, yang bikin aku sedikit kecewa, lagu-lagu mereka yang sangat so sweet kayak No Other dan Marry You nggak dibawain, walaupun penonton udah insist, sampe nyanyiin Marry You sendiri, tapi mereka nggak bawakan. Sayang sekali... :( padahal aku suka banget dua lagu itu, dan udah kutunggu-tunggu.

But I enjoyed the show over all, even though I had to stand for 4 hours long! In the moshpitt area, there was no chaos, semuanya tertib. Satu yang nggak tertib, jejeritannya, ampun! Tapi nggak ada desak-desakan, dorong-dorongan, injek-injekan seperti yang (mungkin) terjadi di Indonesia. Dengan begitu, semua penonton kan jadi bisa menikmati dengan aman dan nyaman.

Everything such as costumes, stage, lighting, back dancers, falling papers, falling balloons, fireworks and waterfalls are set up in a very good arrangement. No wonder that Super Show of the Super Junior is one of the most waited K-pop idol show, and why the ticket is sold out only in 15 minutes. And why they extend the show into 3 days in Thailand. All my questions answered after I watch the show. That was so great! 

Actually this is the view from where I stand, hahaha!

Monday, January 9, 2012

Kancilen, Thai Edition

I cannot sleep tonight
I don't know why
I felt headache
even I took medicine two times

STILL CANNOT SLEEP

(wish I can sleep after I write this)

I drink this tonite to fill my stomach, so damn hungry...

Monday, June 27, 2011

Me and the Indonesian Language Proficiency Test (Madness, Again)


Hay hay people! As always, how are you these days? Is it a bit cool in the morning in your place? Jogja is a bit chilly in the morning lately, but very blistering in mid day. Hosh!

It was Wednesday morning when the SMS from Balai Bahasa received in my phone, “Mbak, besok UKBI jam 8.30, mohon datang sebelumnya,” what the hell… I was in Jakarta that time, and my train to Jogja still had 11 hours to go! I texted my friend to tell the officer if the next day I come later than 1 hour, it means I cancel the test. My train planned to be arrived in Jogja at 4.30 AM, but I didn’t know what was happened in the previous stations (I slept during the trip), I arrived in Jogja at 6.30 AM. WHOAAAT! I only had 1 hour to the test time, and my house is in Prambanan.

Aku sampai rumah, langsung taruh tas, mandi bebek, ambil pensil 2B, setip dan rautan, nggak lupa duit 40.000 (as stated in the UKBI brochure), langsung meluncur lagi ke Kota Yogyakarta (BGM Gamelan ngepop ala FTV). Dan sampai disana… Belum ada orang, termasuk petugasnya. Apik tenan…

Selang beberapa menit, aku duduk-duduk di depan Balai Bahasa, datanglah seorang ibu-ibu dengan tergopoh-gopoh, “Maaf ya mbak, tadi saya nganter anak saya dulu,” Oh noo… katanya suruh datang sebelum jam 8.30, dan ini sudah hampir jam 9! (dahiku langsung berlipat) Lalu aku disuruh duduk di suatu ruangan, menunggu peserta lainnya datang. Oke, I admit it, saya adalah seorang yang sangat mengutamakan punctuality, yang mana orang-orang Indonesia kebanyakan enggak! Sering banget tuh kalau ada acara atau janjian, aku dateng tepat waktu, bahkan seringnya sih kecepetan. Kalaupun harus telat, pasti ngasih tau dulu kalo bakal telat. Makanya aku suka bete banget kalau ada orang yang ngaret, nggak ngabarin pula *sigh.

Waktu menunggu, datanglah 2 anak perempuan seumuran sama aku, berkulit putih, badan pendek kecil, dan bermata sipit, dari Vietnam. Oh ternyata tes kali ini diikuti juga sama peserta asing, buat ngukur kemampuan bahasa Indonesia mereka. Nggak berapa lama, datang lagi mbak-mbak berjilbab dari UNY, yang ikutan tes ini buat syarat CPNS. Hmm… baiklah, sebelum memulai cerita mengenai prosesi UKBI hari itu, akan kubahas dulu apa itu UKBI.

UKBI, Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia atau bahasa Inggrisnya Indonesian Language Proficiency Test. Yap, ini adalah tes Bahasa Indonesia, setara dengan TOEFL atau JLPT. Tujuannya ya menguji kemampuan peserta dalam menggunakan Bahasa Indonesia. Materi dan prosedur tesnya mirip banget dengan TOEFL, ada listening (dengaran), written expression, dan reading (memahami bacaan). 

Kedengarannya aneh kan, ada tes Bahasa Indonesia? Awalnya aku juga bingung. As I ever said before, I recently am looking for scholarship/financial aid to support my Master study. Dan ketika sedang browsing beasiswa unggulan Kemendiknas, tiba-tiba ada requirement yang menyebutkan harus menyertakan hasil Uji Kemampuan Bahasa Indonesia. Haaah? Emang ada ya? *garuk-garuk kepala. Aku pun seperti biasa langsung bercurhat ria sama temenku, anaknya dosen pembimbingku juga, yang lagi sama-sama cari beasiswa gara-gara udah diterima duluan sama universitas di luar tapi nggak ada biaya. Eh ternyata dia dapat informasi, tesnya diadakan di Balai Bahasa (di Jogja itu ada di Kotabaru, belakangnya Mirota Bakery), dan dia udah tanya kesana, katanya harus nunggu kuota peserta terpenuhi, yaitu 20 orang. Ah, daripada nggak jelas, akhirnya aku tanya langsung deh ke Balai Bahasa, dan sialnya ternyata yang daftar tes itu baru 2 orang, yaitu 2 pemudi dari Vietnam tersebut diatas. Hiks. Padahal kami butuh banget, setidaknya sebelum bulan Juli.

Aku pun meninggalkan nomor HP, biar bisa dikabari kalau kuota sudah terpenuhi. Selain itu, aku juga gathering temen-temen buat ikutan UKBI juga, sampe woro-woro di Twitter dan Facebook. Dan sampai 3 minggu setelah itu masih juga belum ada kabar kepastian dari Balai Bahasa, entah gimana negosiasinya, tiba-tiba temenku itu ngabarin, “Tid, kata ibunya Balai Bahasa, bakal diadakan ujian special nih, karena kuotanya belum penuh, tapi kira-kira minggu depan gitu,” katanya di telpon, and you know what? Waktu itu hari Jum’at siang, aku lagi ada di stasiun Tugu, nunggu kereta buat berangkat ke Bandung dan baru akan pulang setelah urusan visa selesai (yang masih nggak tau kapan). Wew. Que sera sera… kita tunggu saja kabar selanjutnya, kapan tanggal fixed nya. And as I mentioned above, kabar itu baru kudapet sehari sebelum tanggal tes. Double wew.

(Me and my sister @ Nanny's Pavillion, Bandung. 
Look, we aren't look alike, right?)

Setelah kehebohan sebelum tes (hiperbolis), akhirnya kami pun masuk ke ruang tes yang super luas! FYI, biasanya tes ini diikuti oleh instansi yang sekali tes pesertanya mencapai ratusan orang. Tapi karena bukan lagi musim tes, maka lembaga ini lagi sepi order tes. Biasanya yang menyelenggarakan tes ini adalah beberapa perguruan tinggi yang memasukkan UKBI sebagai syarat kelulusan atau syarat untuk ujian pendadaran. Sekarang, karena dipandang penting, maka UKBI menjadi syarat juga untuk penerimaan pegawai atau beasiswa (seperti kasus saya). Karena ini tes special order, maka ruangan yang super luas itu hanya diisi oleh 6 orang peserta, aku, 2 cewek Vietnam, mbak-mbak UNY, temenku, dan Dakunk (temen yang berhasil kuseret ikut UKBI).

Tes dimulai.

Tet tereteeet!

Seksi satu, dengaran/listening. 40 soal.

Sumpah mau ngakak waktu denger music opening listening section versi Indonesia ini. sampai sulit kuungkapkan dengan kata-kata, karena… seperti soundtrack film-film tahun 90an! Dan, ehm, cara bicara dan aksen pembicaranya persiiiiis banget kayak di film-film tahun 90an itu, bahasanya baku banget, dan kaku. Aduuuh… perutku sampai rasanya kayak dikocok, tapi mau ketawa nggak enak, akhirnya aku gigitin pensil deh buat nahan ketawa. Dari segi materi, soal listening hampir sama lah kayak TOEFL. Tanpa bermaksud merendahkan, karena aku juga belum lihat nilainya, tapi buat orang Indonesia ini terlalu gampaaaang.

Seksi dua, written expressions. 25 soal.

Seperti biasanya soal-soal written expressions. Ada 2 bagian dari satu kalimat yang dicetak tebal/bold, yang mana salah satunya itu salah, dan harus memilih yang benar dari pilihan A B C D. Lumayan lah, yang ini harus pake logika, feeling, dan teori Bahasa Indonesia (yang mana aku lupa semua!).

Seksi tiga, pemahaman bacaan/reading. 40 soal.

Nggak seheboh TOEFL, karena sebagai native speaker, kita nggak perlu menerjemahkan lagi kalimat-kalimat dalam bacaan. Kalau TOEFL kan harus melewati fase “translating” dalam otak buat memahami bacaan, dan masih harus “translating” soalnya lagi, dan masih harus “translating” lagi buat jawabannya juga. Kalau ini tinggal baca aja, jawab pertanyaan, kalau bingung jawabannya apa tinggal lihat bacaan lagi.

Selesai.

Aku keluar paling cepet. Kenapa? Bukannya sombong karena bisa Bahasa Indonesia, tapi karena aku udah nggak konsen lagi buat mengoreksi ulang jawabannya. I was too tired after spending a whole night in train… :(

Secara umum keberadaan tes ini boleh juga. Walaupun banyak kekurangan di sana-sini. Buku soalnya nggak diperbarui. Mungkin aja mereka punya beberapa versi tes, tapi bukunya bener-bener lusuh dan banyak coretan. Terutama buat seksi dengaran, udah pada dititikin jawabannya. Answer sheet-nya, walaupun peserta harus menghitamkan lingkaran dengan pensil 2B, tapi jelas itu bukan answer sheet untuk computer, karena nggak ada garis-garis kalibrasinya.

Sebenarnya aku agak merasa lucu, kenapa kita harus ambil tes ini? Kita orang Indonesia, native speaker Bahasa Indonesia. Masa nggak cukup kah bekal kompetensi Bahasa Indonesia kami waktu sekolah? Sampai-sampai candaanku sama temenku itu gini, “Po (apa) perlu aku bawa nilai UAN-ku waktu SMA dulu? Nilainya kan dah bagus,” hahaha… Aku nggak tau, menurutku sih, kalau konsep materinya seperti TOEFL, harusnya tes ini lebih pas untuk orang asing, TOEFL kan juga “for foreign language”. Sedangkan native Indonesian lebih pas ada tesnya sendiri. Tapi… setelah kupikir lagi, nggak apa-apa lah, daripada harus susah-susah belajar lagi, teori Bahasa Indonesia kan susaaaah!

Newest news, sekitar 2 jam lalu aku diSMS sama Balai Bahasa kalau sertifikat UKBI-nya udah jadi. Aku masih menyelesaikan ngetik posting ini. Karena nggak ada koneksi internet, aku pending deh postingnya. Aku save. Terus berangkatlah ke Balai Bahasa. Dan taraaaah... ehem ehem... skor yang saya peroleh adalah... 705 dengan peringkat kemahiran "Unggul". Fufufu... Leganya... Sekarang saatnya kembali ke ranah scholarship hunting!!! Semangat, and (again) never stop learning and keep being modest :)

Sunday, June 12, 2011

Wedding Inspirations




Don't get it wrong! I'm not about to get married so soon or preparing my own wedding. I just love to see and collect the wedding photos from many sources, such as greenweddingshoes and Etsy. Really loves those wedding stuffs :)

Hmm... many of them are stuffs I want for my own wedding someday, but since I am purely Javanese, maybe it would be a lot of adjustments with the culture here :D but I really love it.

Maybe the photo collections here could give inspriration for those who will get married sooner than me.

Enjoy them all, and get inspired!

---
Related posts:

http://nekopinku.multiply.com/journal/item/164

and

http://nekopinku.multiply.com/journal/item/183

PS: I didn't change the file name, you may Google it if you want the complete sets :D hehehe...

Friday, May 6, 2011

Mendadak Model


Hellow hellow friends, after a full-day raining yesterday, today Jogja is a bit warm :) Yes, there’s always sunshine after rain!

Yeaaah, sebenernya siang ini rencananya aku mau ngirim e-mail ke salah satu perguruan tinggi yang kemarin kudaftar, gara-garanya lupa menyertakan selembar translate Ijazah. Terus rencananya juga mau ngetik revisi naskah publikasi, gara-gara tadi pagi mendadak sama si bapak dosen (yang ganteng dan baik hati) aku di-SMS suruh cepetan kirim revisinya… Ohh, maaf bapak, kemarin saya masih ribet bolak-balik Jogja-Bandung menguras hati… (dan duit, hiks).

Oke, penyakit lamaku kambuh. Tak terkendali kalo udah ketemu dengan koneksi internet cepat. So that, aku pun mulai iseng browsing sana-sini. Buka blogger juga (hmm, gini-gini aku punya blogspot juga, walaupun isinya cuma curcol nggak jelas). Liat-liat link di sisi kanan laman blog-ku, triiing… tiba-tiba teringat sesuatu.

KLIK.

KLIK. KLIK.

Dan… taraaaah!

(you can click here)

Yes, this is me. Actually, that was my hand and my body. Hahaha!!!

Jadi ceritanya, waktu aku ke Bandung kemarin, temenku yang kosnya aku tumpangi, tau-tau menanyakan, “Mbak, mau jadi modelku ya,” ha? What? Model? Ehm, sempat pede selangit, berasa cantik. “Itu lho, model tas, buat human scale aja, ntar kepalanya kupotong,” weeew… ternyata begitu!

Dan besoknya beneran, pagi-pagi aku dioyak-oyak suruh cepet-cepet mandi. Alamak!!! Mandi pagi di Bandung sungguh bukan hal yang menggairahkan, ademnya ampuun deh. Dan habis ganti baju, belum sisiran belum dandan (even pake bedak pun belum), aku langsung diseret keluar kostnya, dan difoto di gang sempit sambil sesekali harus merapatkan diri ke tembok karena ada motor lewat. Ahak-ahak. Dan diatas itu semua, KEPALA SAYA DIMUTILASI!!! Jadi yaah, cuma tangan dan badanku aja yang nampang deh. Gwahaha… (ketawa gagak, masih nggak iklas! :D)


Monday, March 28, 2011

TOEFL Madness

Hay hay hay! こんばんわ みんな! 元気 だった?

AKU SETRESSS, SODARA-SODARA!!!

Nggak bisa dipungkiri, lama nggak belajar dan sekalinya harus belajar lagi malah males-malesan, hasilnya ya kayak gini ini, setres sendiri. Kenapa? Yup, sesuai judul, aku harus menghadapi yang namanya tes TOEFL, yang mana sudah 2 tahunan lebih I never formally learning English. Huff…

Karena kenekatanku yang kuat untuk meraih pendidikan yang lebih tinggi, tapi dengan kapasitas otak yang pas-pasan dan budaya bermalas-malasan ala kucing yang masih melekat kuat, aku harus menghadapi segala macam ugo rampe daftar-mendaftar sekolah pascasarjana. Salah satu syaratnya, ya tes TOEFL ini. Dan target skor untuk mendaftar di perguruan tinggi dalam negeri minimal 450, untuk ke luar negeri (negara tujuanku masih termasuk ASEAN kok) minimal 500. Hosh!

Sebenernya sampai beberapa hari yang lalu aku masih menganggap tes ini gampang. Gimana enggak, 2 tahun yang lalu TOEFL score-ku nyampe 500-an, jadi kali ini kemungkinan besar aman lah… Yah, kemakan sama kecongkakan hati, maka saya pun merasa berada di atas angin, kipas-kipas aja, males belajar serius. Tapi itu kan udah 2 tahun yang lalu...

Dan akibat kesombonganku itu, beberapa hari yang lalu aku nyoba tes simulasi TOEFL, yah, itung-itung buat latihan lah. Pas ngerjain sih rasanya bisa-bisa aja (sok-sokan banget ya?). Tapi beberapa menit kemudian, aku keluar, dan hasil tes simulasi bisa langsung dilihat. DOENGGG!! Kok skor-ku nggak nyampe 500? Mlorot banget. Dan siang itu mendadak mentalku langsung down :( Uwaa... ternyata skill bahasa Inggrisku menurun drastis. Kayak gini gimana mau daftar ke luar, apalagi mau nyari beasiswa. Uff… (nangis darah, gigit-gigit meja)

Sialnya lagi, hari Senin-nya, yup, today, I have to take ITP TOEFL test. Dengan skill dan mental yang ancur-ancuran, dan tadi malam juga masih aja malas-malasan buat belajar, aku pun nekat tetep dateng dan mengikuti tes. Ah, hadapi dengan berani aja, gitu kataku dalam hati, menghibur diri :D hehee.

Jam 8.15 an, aku masuk ke ruang tes dengan mantap, cari tempat duduk sesuai nomor yang ditentukan, dan menduduki kursi di pojokan. Wih, posisinya asik nih. Nggak lama, di sebelahku duduk seorang mas-mas yang wajahnya familiar, mirip sama, ehm, mantan pacar yang sudah nikah. Olala~ bukan bukan, ternyata itu kakaknya mantan! Hahaha, habis mukanya mirip lho, beneran. Basa-basi bentar sama si mas mantan calon kakak ipar, dan rangkaian upacara tes TOEFL pun dimulai.

Jam 8.30 an, dibagikan Examinee Handbook dan mengisi identitas di answer sheet. Di dalam Examinee Handbook itu ada contoh-contoh soal, coba iseng-iseng jawab, liat kuncinya, eh bener semua. Naik lagi deh kepercayaan diriku yang runtuh akibat tes simulasi kemarin. Terus diputar juga contoh conversation buat listening comprehention. Waaah, kedengerannya enak dan jelas banget pronounciationnya. Bisa laaah! Jadi mendadak semangat.

“Let’s start begin with section one, part a,” tes dimulai. Semua peserta khusyuk mendengarkan dengan hati-hati. Satu persatu nomor dilewati, ha kok semakin ke belakang pronounciationnya makin gak jelas dan si speaker ngecipris dengan speed ultra cepat. Kupingku kelabakan. Belum lagi, that damn answer sheet for computer makan waktu yang lumayan buat menghitamkan setiap lingkarannya. What the...!

Lanjut dengan section 2, structure and written expression. Ini sebenarnya bagian yang gampang sulit sulit! Nampaknya gampang, cuma ngisi bagian yang kosong dengan kata-kata yang udah ada di option. Tapi buat ngisi kata yang tepat itu kok recall ilmunya lamaaaa banget ya… “Ini harus pake have atau has ya?” atau “Ini pake verb 1, 2 apa verb-ing ya?” jadi ribet sendiri mikirnya. Lebih ribet lagi di bagian written expression, suruh nyari kata yang salah. Bingung setengah mati! Yang bener aja nggak tau gimana mau nyari yang salah atuh paaak? (jeritan hatiku di tengah ujian). Lagi asik-asiknya ngerjain soal, “Sisa waktu untuk section ini masih 5 menit lagi,” kata bapak-bapak pengawas. WHAT? 5 menit. Dan kulihat di answer sh*t-ku, masih ada 20an soal lagi! BAGUS! Ngerjain 20 soal dalam 5 menit? Tarik maaang! Aku pun ngebut nggarapnya, ngebut mata dan ngebut otak juga. Siaaaal!!!

Section 3, yang terakhir, reading comprehention. Bacaannya panjang-panjang gilaaa! Dan entahlah, kenapa vocabulary yang dipake susah-susah bener, sampai bingung itu padanan katanya apa. Mataku sampe jereng bolak-balik dari pertanyaan ke bacaan, ke pertanyaan lagi, ke bacaan lagi, baru ke option jawaban, dan masih nguing-nguing menghitamkan lingkaran-lingkaran itu. Uff… lama juga ternyata aku nggak pernah bersentuhan sama lembar jawab computer (LJK). Dan lagi-lagi, pas seru-serunya ngerjakan soal, si bapak pengawas bilang, “Waktunya masih 5 menit lagi,” masih paaaak?? Ampun deh… kali ini aku bener-bener rasanya kayak kejar-kejaran sama monyet waktu kecil dulu, deg-degan kuadrat!!! Nggak bisa konsen lagi deh ngerjakan 10 ekor soal yang teakhir, dan sialnya, answer sheet-ku sudah keburu diambil sama si embak-embak pengawas. AAAAHHH… embaaak… masih ada 2 soal yang belum aku lingkarin tuuuh!!! (nangis ngguling-ngguling, garuk-garuk lantai…) Huhuhu.

Dengan pasrah, aku melangkah gontai meninggalkan ruang tes. Terserah computer mau berkata apa, tapi please, bikin skornya jadi 501 ya… (penuh harap).

Oke friends, what I want to share by this post were: never stop learning and keep being modest.

がんばれー!

(@ Didipy Gerobakku, warung jus tempat nongkrong favorit)

Monday, February 7, 2011

My First Time Job Fair-ing


Hay hay hay people, how are you all? Wish you always fine: healthy and happy. Hehehe.

There are three basic things came into my mind directly after receiving graduation letter (Surat Keterangan Lulus/SKL): study, career, relationship.

As I wrote before, I would like to look for scholarship overseas to continue my study as my first priority. Then one day, one of my friends asked me, “Why do you want to take a master degree?”, eeem… --silent for a while—thinking a bit hardly. I don’t know why, I answer this, “I want to be a professor,” am I dreaming or sleep-talking? Maybe. But remember, I AM A DREAMER. Then my friend asked again, “Why you want to be a professor?”. I’m silent for quite a while… “I don’t know, I just feel like I’m fitted to be a researcher and I want to work in academic field,”. (Please someone throw me a mirror, so I can see my own face. Whatt? Really, my GPA is only 3.42 and I want to be a researcher? You must be joking, pink caaat?).

Hehehe… yes, I realized that I am dreaming. But what else can I do? If there are no big dreams, there would be no big goals to reach, no efforts would take to reach it, and it would be nothing. So, as for me, having dream is much much better than not. Isn’t it? ;)

Okay… Jadi gini, sebenernya hari Sabtu kemarin aku iseng-iseng main ke job fair ECC (Engineering Career Center) di GSP. Ceritanya jaman dulu, sekitar tahun 2007-2008an, aku juga ikutan acara ini, sebagai panitia, tepatnya jadi liaison officer/LO dua kali bertutur-turut. Waktu itu sih rasanya liatin peserta job fair itu kok melas banget ya… they much more like a buch of hopeless jobless people. Hahaha… I’m sorry for saying this, but that was what I thought that time :D Nah, setelah beberapa tahun berselang, dan saya juga baru saja merasakan SKL yang masih hangat, wah jadi antusias banget nih buat nyari pekerjaan, itung-itung buat nyari pengalaman sih. See, I am now one of those hopeless jobless people!

Karena hari Jumat-nya ada acara (jalan-jalan ke Kali Progo), maka aku baru menjadwalkan jalan-jalan ke job fair hari Sabtunya. Setelah malamnya janjian sama salah satu temen baikku di kampus, Rabian (sebenernya dia adik angkatanku, tapi ngelangkahin aku lulusnya, hiks), maka hari itu saya pun menjelajah area job fair bersama dia yang udah duluan jalan-jalan (dan apply-apply) disitu. Haha, jalan-jalan di job fair aja pake guide!

Oke, hari itu aku nggak bawa apa-apa sebenernya, selembar CV pun enggak. Karena… aku emang niatin buat looking around aja, nggak niatin mau apply. Tapi beberapa perusahaan ada yang hanya pake form aja buat apply, iseng-iseng aku isi dan masukin deh. Hehehe… tapi perusahaannya kebanyakan nggak nyambung menyambung sama kuliahku sih. Jadi aku cuek aja.

Eh, pas turun ke lantai 1, ada stand di pojokan, yang sebenernya dekorasi booth-nya enggak menarik (nggak se-ngejreng Schlumberger, Chevron dll), tapi kok fieldnya menarik ya… apa coba? Desain interior. Hahaha… as you know, I’m not an interior design graduate. Yah, karena menarik, aku pun mampir ke kantor ibuku buat ngeprint CV dan numpuk di stand perusahaan itu. Ditanyain macam-macam: bisa ini-itu nggak, ada pengalaman ini-itu (jelas enggak, baru lulus juga). Dan aku pun jawab yang iya-iya aja sekenanya. Beberapa program computer memang aku nggak bisa-bisa banget sih, tapi kan bisa dipelajari (ngeles). Hahaha.

Oke, aku pun habis itu pulang, nothing to lose lah, nggak mikir bakal dipanggil lagi atau nggak, secara spek-ku masih belum oke juga. Habis itu aku latihan band dan sepanjang Sabtu malem itu aku cuma mikirin soal seleksi band besoknya.

Besoknya, I was all about band audition. Tapi aku dah nyiapin juga sih kalo-kalo dipanggil tes atau mau dateng ke job fair lagi buat (iseng-iseng) apply. Nah, ndelalah kok ya tasku itu ketinggalan, dan baru nyadar pas udah nyampe Jalan Godean. FYI, rumahku di Prambanan, di timur Kota Jogja, dan Jalan Godean itu di barat Kota Jogja. Yes, nggak mungkin balik. Dan pagi itu aku belum juga dapet SMS panggilan, jadi aku nyantai aja deh, yang penting nyanyi sebaik-baiknya.

Eh, pas banget habis nyanyi, pas mau pulang, ada SMS dari nomor tak dikenal. Pas mau mbuka, malah ditelpon papaku yang udah jemput. SMSnya baru kubuka di mobil. Dan WHAAAATTT!!!

“Segera datang ke stand sekarang untuk mengikuti tes admin,”

Mampuuusss! Aku masih pake kostum seleksi band yang kalo diliat dari pucuk Merapi udah kaya country girl, tinggal nambah sepatu boot sama sapi aja. Hahahah… Mana baju ganti juga ketinggalan. Surat-surat ketinggalan. Even worse, kuitansi buat tiket masuk juga ketinggalan. Te-o-el-o-el. Tapi ya udahlah, apapun yang terjadi dateng aja deh.

Sampai disana, I was so damn unlucky, tiket buat non membernya udah nggak ada yang njaga. Aku bingung. Muter-muter, eh ketemu sama temen yang panitia, dan dia ngeh sama aku. Aku bilang deh, “Mas, iki aku diundang tes, tur aku lali nggowo kuitansine, piye aku sing mlebu ki?” (Mas, aku dipanggil tes, tapi aku lupa bawa kuitansinya, gimana aku yang masuk nih?). Aku langsung digandeng gitu aja dan masuk tanpa screening. HORE!!!

Akhirnya berhasillah saya mengikuti tes dari si perusahaan desain interior tersebut. Dan pas liat soalnya, olala~ bukannya susah sih, but I need more time and references to work on it, madam… setengah jam aku cuma memandangi 2 lembar kertas yang disodorin. Mikir lama. Baru bisa nggarap, dan NGAWUR!! Hahaha… dan sepertinya saya diliatin sama mas-mas dan mbak-mbak yang pada ndaftar juga ke perusahaan itu. Mereka rapi jali, pake kemeja, celana bahan, dasi, rok bahan, sepatu hak tinggi. Sedangkan aku? Rok terusan, kemeja lengan pendek dengan diikat di perut, sepatu flatron, dan rambut awul-awulan. Kontras.

Yah, akhirnya selesai juga aku nggarap soal-soal yang diberikan. Aku pun melangkah keluar dengan enteng. Aku pengen sih dapet pekerjaan itu, tapi jodoh kan Allah yang menentukan, kalau memang jodohku, pasti dapet deh pekerjaan itu. Nothing to lose, at least I've tried :)


Monday, January 17, 2011

Knit Things


As you know, knitting/crocheting is now become my new hobby. Though it seems like grandmother activity or anything, I don't care. I just enjoy knitting to fill my "waiting" time, every where, every time. I always bring yarns and the hakken pen in my bag. So, when I feel bored, I just doing it, and... Voila! Here comes any creations. Some of it can be useful but some of them are only ended in my knit bag. Hahaha...

Meer Chambell and the Turtle in the knitted flower

My Mother's brooch

Butterfly kiss!

I made this phone case only for her :)

And here's my knit basket!


Saturday, December 25, 2010

I'm in Fashion


I’m not a fashion blogger, actually. Though I love to post my photo with different clothes, or following many different fashion blogs, and some of friends said that I’m kinda stylish in campus. Huahaha…  In fact, I don’t really care with the way I look, and you know what, I can wear the same outfit in the same week. I only have few daily clothes in my wardrobe.

How I describe my style…

Basically, I’m a department store girl. When girls at my age loves to shop in boutiques or special clothing stores that only sell one item for one piece of dress, so there’s no one else have the same clothes as theirs. But me? I ever met my friend wearing the same outfit as mine in my campus, and we just laughed together!!! For me, it doesn’t matter that someone else wearing the same cloth as mine, because it will always look different, depend on who wore the cloth and how they wore the cloth ;)

Couple years ago, I loved to be a very-different person, look strange or weird was my fashion statement. I loved to wear mini skirt over the pipe jeans trousers, or tied pashmina around my belly. Sounds weird, huh? Yeah. I thought that mainstream fashion is only for people who have more money to buy that (damn) good clothes, and feminine character. Me? I’m not that rich to afford the clothes, I was a (very) tomboy girl and had no taste on fashion at all. I didn’t really like grooming, not even wore good looking clothes or put any make ups. I thought it made me look natural and honest, not hiding anything underneath the clothes or make up.

Lately, I become more paying attention of my look. My father said, “Good grooming represent that you have good respect of yourself. So, grooming well, and people will respect you,”. That’s really changed my mind about fashion. Fashion is a part of good grooming, and if you could see wider, fashion is not about wearing an expensive exclusive branded clothes, but it is how you wear even an ordinary or unbranded clothes to be look good and fit on you, your body and your character. Also, comfy is a must, no bargain.

I prefer to be look very simple and casual for daily activities: going to campus, survey, etc. I look just like any other girls in campus, with shirts, jeans, jacket, canvas shoes, and glasses. Very ordinary. My mother told me that a girl should put any accessories to complete the look, so I also wear accessories, such as earrings, necklace, bracelets. I only wear two rings in my sweet-fingers (anyone know what is “jari manis” in English??), one in the right is from my mother, a small sparkling ring, and one in the left is a silver ring I bought in Bali when I was in high school. Usually, I didn’t put any make ups on my face, only few touch of powder and lip balm. My sister puts full make up every day, and she also teach me how to use make up, especially eye-shadowing and eye-linering, I always weak on doing it.

My daily outfit, I put batik outer top to give unique touch


For special occasions, actually I love traditional fabrics, especially batik. A while ago, I loved batik hunting with my girl-bestfriend, looking for new and fresh designs, and then take it to the tailor. My favorite tailor is actually my driver’s wife, so I could get the very cheap charge, yay!!! *bounce bounce* So now, I have more semi-to-formal clothes in my wardrobe and not much worry when I have to attend some semi-to-formal events. Besides, I now also love to wear pretty shoes. Remember, in one episode in Hana Yori Dango/Meteor Garden/Boys Before Flower, there’s a nice quote about shoes, “Beautiful shoes will take you to beautiful place,”. For shoes partner, there’s one of my favorite fashion item, stocking. I don’t know, I feel uncomforted, especially when I wear short skirt, without a pair of stockings. Make ups? As usual, I adjusted it with my dress tone. I also make experiment in eye-shadowing. Again, my sister teach me how to use it correctly. How can she become so good-skilled in make up? She learns (and inspired) from Michelle Phan, a young make up artist.

I love batik and any Indonesian traditional clothes <3


I love earthy colors, like terracotta orange, soil brown, or leaf green, plus sky blue. Solid colors I loved is white. But why I put “pink” in my blog name? Because my sister ever told me that I look good in pink, oh really? LOL. Yup, I have too many pieces in earthy color. I don’t know what influenced me. Some said that Taurus is fitted in that earthy colors, I’m quite sure, in fact, some of my Taurean friends also love these colors and they look good on it.

I love this outfit the most! Earthy color, simple and comfort


My inspiration on fashion is come from many sources, books, magazines, fashion blogs, cosplay, etc. I’m not strictly fixing on my style in one style like vintage or modern or edgy or retro or you-name-it etc. My personal fashion statement is simple and a bit unique, whatever the style-name is. But the most important is… COMFORT!

Hahaha, I laughed after finish edited this picts, I looks like zooming my size :D


Here’s some of my favorite inspiring bloggers, I don’t make any border or theme, but I’m sure you will know how my personal taste is. Enjoy blog walking and get inspired.


PS: also check out  me and my sister’s blog Sosweetan, thank you!

My final presentation (Insya Allah) would be held on December 29, please wish me luck, friends!!! <3 love you all!