Showing posts with label people. Show all posts
Showing posts with label people. Show all posts

Wednesday, March 2, 2011

Aria

Hayyy friends!! Hope you always fine, happy and healthy :)

It is so rarely I mention someone’s name as title for my post. But he is so special, for me, at least. Hehehe...

Why he become so special to me?

As written in my post before, Thank You for Made Me Smile Again..., he became one of the most important people to me since I knew him in early 2010. Actually, it was my sister who introduced him to me after she came back from Surabaya to do her research project. And Aria was the officer in the factory where she did the observation in. My sister told me about him a lot. Yup, he was an interesting man, I think. And he really is.

Dia adalah sahabat pena terbaikku. Hahaha, pasti udah lama kan kalian nggak mendengar frase “sahabat pena”? Padahal dulu sistem pertemanan seperti ini ngetren banget lho, waktu aku masih SD, jaman Majalah Bobo masih jadi konsumsi bocah-bocah seumuranku. Konsep pertemanan yang terjalin dengan saling berkirim cerita melalui pos, yang alamatnya biasa didapat dari majalah tersebut (bagi kalian yang dulu baca Bobo, pasti pernah lihat di setiap posting anak-anak pasti di bawahnya ada alamatnya, hehehe).

Jaman sekarang, mungkin era berkirim surat udah nggak njaman, udah ada metode-metode elektronik yang lebih cepat dan efisien untuk sekedar mencari teman, berkenalan dan saling bertukar cerita. Tinggal search di FB, add as friend (atau sambil kirim PM buat kenalan), approved, dan mulailah saling bertukar cerita. Nah, begitu juga lah perkenalanku dengan arek Suroboyo ini. Tiba-tiba namanya muncul di friend request (yang waktu itu di tempatku masih ada 180-an pending request *nggayaaa :P), sepertinya namanya familiar, aku approve, dan berkenalan lah kami.

Dia seumuran denganku, at least tahun lahirnya sama, tapi tuaan dia (yes!), walaupun suka merasa sok lebih muda (wew). Bahkan angkatannya pun sama. Ironisnya, dia lulus satu setengah tahun lebih cepet dari aku, hiks. Dia kuliah di ITS jurusan desain produk, yang mana itu adalah jurusan yang kuinginkan juga waktu SMA dulu, tapi akhirnya aku give up karena nggak bisa nggambar (dan keterima di UGM duluan, khah khah khah...). Oke, dari background yang sesama desainer (dalam skala yang beda jauuuhhh...) itulah yang bikin kami jadi nyambung dan cepet akrab. Dan juga, kami punya interest dan taste yang hampir sama, terutama soal desain, traveling, dan makanan (yang ternyata dia juga suka banget kare). Hehhee...

Why I called him my best pen pal? Atau lebih tepatnya disebut "text" pal yaa, karena kami berkomunikasi melalui tulisan, SMS atau wall-to-wall di FB. Bertukar cerita, mimpi dan semangat. Dan dia juga salah satu yang membuatku bersemangat untuk menyelesaikan TA, walaupun lebih banyak ngejeknya sih. Hahaha... ampun mas! Besides, we also shared stories and dreams. Sometimes he asked my opinion to be his consideration before make some important decision. That’s what friends are for :)

Di posting tersebut diatas, aku bilang dia adalah sahabat yang belum pernah kutemui di dunia nyata. But now, I already met him, IN REAL!

Agak kaget memang waktu ketemu dia pertama, a bit different than I thought, physically, he looks maturer than in his FB profile picture, hihihi. Tapi lucunya, kok proses “canggung” itu hanya berlangsung beberapa detik aja ya. Habis itu kami ngobrol lancar-lancar aja, seperti dia itu temenku SMA yang dulu akrab banget dan kemudian beda kota, terus ketemu lagi. But that was actually our first rendezvous.

Then, he took me and my cousins around the city!! Yeaah! Beginilah backpacker, “memanfaatkan” teman untuk jalan-jalan, lagipula dia kan yang lebih tau jalan. Kalo kami sendirian, walaupun bawa peta tetep aja kesasar (FYI, sehari sebelumnya kami bertiga salah jalan waktu keluar dari stasiun ke hotel, hehehe).

Seperti halnya ketika kopdar dengan temen-temen MP sekalian (yang udah pernah kopdar sama aku), kami juga ngobrol sangat-sangat banyak di sela-sela city tour itu. Walaupun aku jalan bersama 2 ekor sepupu, tapi aku sama dia malah “ngecipris” sendiri, sampai 2 adikku itu bak obat nyamuk bakar, diem di pojokan dan berasap, hahaha. Entahlah, rasanya banyak hal yang bisa kami obrolin, seperti udah kenal dia bertahun-tahun sekalipun kami belum pernah bertemu sebelumnya.


And, as I mentioned in the post before (again), he promised me to treat me in Zangrandi, a famous home-made ice cream in Surabaya. He kept his promise and really treated me there. Hyaah, he’s kind of a so-sweet person and somehow he could make me speechless by his words and what he does.

Furthermore, after I came back to Jogja, he became busier in his new job, but we still contact each other almost every day. Some people assumed that we’re in a relationship or something. I don’t know yet, I also cannot see the future, whether we could be lover or not, I enjoy this friendship so much. And if love someday may come to us, let’s see what will happen next :)



To @Aria_Sung , thanks for the song “Untukmu” that you and the band Hailback had composed for me, really makes me miss the day we met and play around the city, I wait for you to visit my city too, so soon! :)

Sunday, December 26, 2010

Souvenir dari Merapi

Oke friends, I wasn’t visiting Merapi area today, but I was about to have lunch in my favorite restaurant Jejamuran, and suddenly my eyes catch such an interesting thing in a souvenir stall around the restaurant.



Yup!!! Menarik kan? Dijual VCD dokumentasi erupsi Merapi 2010. Oke, buat yang nggak tertarik, mungkin akan berpikir ini sekedar memanfaatkan peluang aja dari musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Merapi beberapa minggu lalu. Tapi sekarang Merapi (syukurnya) udah mulai tenang, tapi saudaranya, Gunung Bromo yang mulai bergejolak. Sayangnya berita erupsi Gunung Bromo nggak seheboh Merapi waktu itu, karena ketutup sama hingar-bingar euphoria Piala AFF. Kasiannya…

Oke, back to this interesting piece. Awalnya aku juga berpikiran kayak gitu sih, “Wow, ada juga orang yang menjadikan dokumentasi bencana sebagai souvenir yaaa…,”. Aku berlalu begitu aja melewati lapaknya dan menikmati makan siangku di Jejamuran. Sedikit pamer, menu makan siangku ini bener-bener enak, sampai-sampai aku rela nahan laper di perjalanan dari rumahku di Prambanan sampe ke Sleman, kira-kira 25 km lah, dengan perut udah laper kruyuk begitu sampai di tempat. Mana pake ngantri buat dapet tempat duduk pula. Kruuuk… Sambil nunggu makanan jadi, aku SMS-an sama temenku di Surabaya, ternyata dia penasaran juga sama tempat makan ini. Yup, sesuai namanya, tempat makan ini menyediakan menu-menu dari bahan dasar jamur-jamuran yo ge ge thok. Ada sate jamur (yang paling yummy versi adikku), tongseng jamur (my fave), rendang jamur (my parent’s choice), lumpia jamur, dadar jamur shitake, dan lain-lain yang berjamur (lho?). Silakan membayangkan dan ngiler sendiri. Hahahaha!

Wah, sepertinya aku mulai keluar jalur ya ceritanya. Oke oke, jadi habis kenyang menyantap hidangan berjamur itu (waks!), aku kok tiba-tiba kepikiran sama jualan VCD tadi ya. Kok menarik sekali… Di tengah maraknya wisata bencana di Jogja tercinta, ada juga yang menawarkan souvenir dokumentasi bencana sebagai pelengkap. Komplit sudah!


Antara etika dan informasi

Essentially, aku nggak setuju sama wisata bencana dan sejenisnya, termasuk orang yang nonton banjir lahar dingin di Kali Code. Selain bahaya dan terlalu riskan, rasanya nggak etis aja ya… musibah kok dijadikan tontonan. Beda misalnya kalau sudah agak lama berlalu, ya at least sampai bencananya bener-bener berhenti dan masa berdukanya selesai. Coba bayangkan, lagi panik-panik dan sedih-sedihnya kita ditinggal sanak saudara karena musibah, eh… ada orang-orang yang segar bugar sehat wal afiat dan bahagia datang buat foto-foto dengan latar belakang lokasi musibah plus korban-korbannya, males banget nggak sih? Kira-kira begitu.

Tapi keberadaan si VCD dokumentasi ini membuatku berpikir agak lain. Waktu kutanya sama penjualnya, ini siapa yang bikin? “Ini suami temen saya, dia kameraman yang jadi korban erupsi Merapi, istrinya yang minta tolong saya njualin” ehm, bener atau enggaknya pernyataan itu, tapi aku cukup tersentuh juga. Apa juga tujuannya ya? Sekedar memanfaatkan peluang (yang aku tau ini bakal cuma sesaat) atau emang pengen menyebarkan informasi? Akhirnya mamaku beli VCD ini (FYI, beliau emang kerjanya koordinasi urusan kesehatan saat bencana).



Sampai rumah, kami tontonlah VCD ini bersama-sama. Cukup lengkap juga, mulai dari sebelum Merapi meletus, waktu upacara Labuhan yang dipimpin Mbah Maridjan, evakuasi lansia dan balita, sampai erupsi yang melanda Cangkringan (yang mana kata si mbak penjualnya, kameraman ini menjadi korbannya). Lengkap juga, dan informatif. Salut buat kameraman dan editornya.

Aku jadi mikir, orang Jogja sekarang mulai kreatif ya? Mulai sadar pariwisata, sadar dikunjungi orang banyak, sehingga menimbulkan ide-ide baru buat memasarkan daerahnya. Sebagai (calon) planner, ini bener-bener keren. Selama ini aku selalu berpikir kalau wisata di Jogja itu hanya seperti permen tanpa bungkus, walaupun manis, tapi nggak menarik buat dibeli karena kemasannya kurang meyakinkan.

Apakah kemasan wisata itu?

Wisata nggak hanya bisa dijual obyeknya. Ambil contoh wisata alam Merapi. Bagi kalian yang pernah berkunjung ke Kaliurang dan sekitarnya, disana ada gardu pandang, ad ataman bermain, ada museum, ada vila-vila, ada tempat makan, dan lain-lain. Itu baru kemasan fisiknya. Atraksi lainnya? Seingetku sih ada pertunjukan Jathilan setiap hari Minggu, terus ada juga wisata kuliner jadah-tempe, trekking, dll. Tapi sayang, apa sih yang bakal kita bawa sebagai cenderamata dari situ? Yaaah… kadang ada juga sih yang jualan foto-foto Gunung Merapi, atau bunga edelweiss kering, tapi kok kayak kurang ada touch-nya gitu…

Nah, VCD ini bisa jadi cinderamata yang cukup menarik buat melengkapi “kemasan” itu. Dengan harga yang cuma 25.000 rupiah, penonton bisa dapat informasi dokumentasi lengkap mengenai erupsi Merapi yang paling menghebohkan satu dekade terakhir ini. Isinya komplit, walaupun secara sinematografi rasanya kayak nonton acara mbangun deso di TVRI tahun 90an, bukan kayak nonton dokumentasi ala Metro TV atau TV One. Tapi secara konten, saluuuut… video ini nggak se-lebay yang di tipi-tipi, walaupun esensi ketegangannya masih kerasa.

Here’s some caps of the movie

Ritual Labuhan yang dipimpin Mbah Maridjan (kiri) dan proses evakuasi sebelum erupsi (kanan)

Proses evakuasi lansia dan balita

Detik-detik sebelum letusan Merapi

Desa Kinahrejo dan sekitarnya setelah erupsi Merapi

Oke friends, bagi kalian yang berminat, silakan datang ke Jejamuran dalam waktu dekat ini. Soalnya aku nggak tau, apa dia masih jualan disana atau nggak kalo kalian kelamaan. Sebenernya aku bisa aja sih ngopy, tapi kok ya… nggak tega aja mbajaknya. Hahaha…

Saturday, May 8, 2010

Coffeeshop Conversations


Takdir kadang mempermainkan kita dengan cara yang unik.


And it actually happens to me. Remember a story about love I had posted few months ago? Ya, it was a story about us, me… and him.


Suatu ketika aku menulis status di Facebook seperti ini, “Am I become more like Summer Finn (in thought)?”. Yap, aku habis nonton 500 Days of Summer, and I very impressed with that movie. Setelah beberapa bulan menjadi jomblo hina, aku sepertinya mulai malas menjalin hubungan dengan pria (ya bukan berarti berganti orientasi ke wanita juga sih, hehehe). Capek hati dan pikiran, rasanya enak ya si Summer Finn itu, nggak mau pacaran, padahal Tom Hansen mati-matian mengejar dia, dan padahal hubungan mereka juga terlihat layaknya pasangan kekasih, tapi apa daya, si wanitanya tetep kukuh nggak mau pacaran. Sampai tiba-tiba ketemu pria lain, cocok, langsung menikah deh. Hmm, “You don’t wanna be somebody’s girlfriend, but now you’re married?” protes Tom. Hahaaha… enak bener ya… Summer bisa bikin hati pria hancur berkeping-keping dengan jawaban simple, “Sebenarnya saat bersama kamu, aku nggak yakin denganmu…”. Oke. Cukup sedikit reviewnya. Back to our main topic. Tiba-tiba ada seseorang yang comment, “500 day of summer ya?”, and it was from him.

I kinda surprise and… (honestly) speechless. Tapi kujawab juga sih, simple, “Iya, habis nonton itu,”. Inilah titik dimana aku “bertemu” lagi dengan dia, setelah 2 tahun kami menjalani hidup kami masing-masing. I’m with my ex-boyfriend and him with his ex-girlfriends. Lucu juga ketika kami bertemu lagi. Di XXI, yang mana ternyata kami punya hobi yang sama, nonton film, akut. Yah, dari nonton-nonton-nonton berikutnya, kemudian makan-makan, dan berakhir ngobrol di coffeeshop favoritnya. Pembicaraan kami yang awalnya hanya tanya-menanya kabar yang terlewatkan selama 2 tahun itu lalu berkembang ke saling mengenal (lagi) satu sama lain. And actually, I’m a bit surprise with his changes. Especially his personality, his thought… his experience of life changed him a lot, to be a better person.

We shared many things, and I figure out that we also had many similarities of thought and interest. We both love music, movie, visual arts, and writing. Dan yang terakhir itulah yang membuat kami bertemu lagi, lewat tulisan kami di blog pribadi masing-masing. Sejenak kembali ke titik dimana ternyata aku pernah disayangi sedemikian dalamnya dan dengan bodohnya aku menyia-nyiakannya. Perfect. Inilah poin saat aku berpikir kembali, apakah kedekatan kami ini adalah kompensasi terhadap yang terjadi 2 tahun yang lalu? (I asked myself) Berkali-kali aku memikirkannya, berkali-kali juga jawabannya TIDAK. Kali ini nggak ada sangkut pautnya dengan yang dulu, dan biarlah yang berlalu tetap ada di masa lalu, tanpa harus kembali ke titik itu lagi untuk menjalani hari-hari ke depan.

Dan semakin aku mengenal dia, semakin banyak hal yang kupelajari lagi dalam berhubungan dengan manusia. Dia menjadi teman, sahabat, mentor, bahkan kakak buatku. Partner diskusi sekaligus bercanda yang menyenangkan. Dan entahlah hal-hal baik apalagi yang akan kudapat dengannya. Masa depan tetap aku nggak bisa melihatnya, tapi yang kulakukan sekarang adalah mencoba memberi kesempatan lagi pada hatiku untuk menyayangi seseorang lagi, dengan tetap menjadi diriku sendiri. Yeah, I’m a person who is not easily understandable, but he try to understand me, and I appreciate all of his efforts.

Terkadang teman-teman kami bingung sendiri, kenapa “it’s complicated”? We both single, but what we feel and act is somehow like a couple, why don’t we get into a relationship? Ah…relationship is not our highest priority now, kami masih harus mengejar kelulusan kami dulu. Setelah itu? Ya…still, if there’s a chance, let’s start loving. Masih banyak yang harus dilakukan, masih banyak yang harus dipelajari, dan, santai saja... masih banyak obrolan-obrolan seru lagi, to share our stories and dreams...at the coffeeshop.

“Do you heart me darling? Answer me for sure…hahaha,” asked him. Hm…, maybe yes, I do really care of you and, I can’t help it, I always thinking of you.

Dan… ya… bener kan? Memang lucu, takdir punya caranya sendiri untuk mempermainkan manusia…

He’s the one who risk his life to take a complicated journey into a labyrinth.

ありがとう ねえ。。。My Mr.  It’s Complicated


Sunday, May 2, 2010

Kota Berbudaya, Budaya Kota


Kota berbudaya? Maksudnya kota dengan nuansa budaya yang kerasa banget, yang dimana-mana pamer ciri khas budaya tradisionalnya? I live in Jogja since I was a child. And people call this city as City of Students, City of Culture, karena itu harus menonjolkan sangat-sangat citra “pelajar”nya atau “budaya”nya secara visual, fisik saja, atau jargon saja? Oh, please, bukan sesempit itu.

Dalam pemahamanku soal ini, kota berbudaya, nggak hanya secara fisik semata. Nggak hanya bangunan-bangunan bagus dan “klasik” berjajar rapi, tapi juga budaya baik masyarakatnya. Orang boleh bilang Amerika adalah negara yang nggak kerasa iklim budayanya, tapi aku inget banget gimana ramahnya orang di Boston, waktu itu tiba-tiba ada bapak-bapak yang nunduk terus meraih kakiku, sebagai orang Indonesia yang terbiasa curigaan, aku pun kaget dan menjauhkan kakiku, eh ternyata si bapak cuma mau ngikat tali sepatuku yang lepas kemana-mana. Walah, kalau disini, boro-boro mau naliin, peduli pun enggak, kalo iya, pasti ada maunya (masih kebawa deh curigaannya).

Oke, kembali lagi. Apa sih yang bikin kota-kota di Indonesia nampak semrawut? Core problemnya ada di masyarakatnya sendiri, yang kurang aware dengan lingkungan dan sumberdayanya sendiri. Didukung juga dengan budaya merusak dan suka me-reject duluan. Bukan bermaksud nge-blame siapapun disini, tapi menangkap fenomena yang terjadi.

Pernah kan kalian lihat telpon umum? Mungkin sekarang udah nggak jaman sih, tapi jaman aku SMP dulu, telpon umum jadi fasilitas komunikasi yang signifikan buat aku menghubungi papa atau mama, minta dijemput, hehe. 10 tahun lalu, telpon umum itu aja kondisinya sudah parah, ada yang udah nggak bisa dimasukin koin karena keseringan digetok-getok atau disodok-sodok sama anak-anak (biasanya keluar uang recehannya lho), ada juga yang udah nggak ada gagangnya, heran kan, buat apa sih nyolong gagang telpon umum?

Kalo mau bandingin sama di luar negeri, kondisinya masih utuh dan berfungsi baik walaupun udah bertahun-tahun. Kesadaran kita buat memelihara fasilitas umum masih kurang sekali. Padahal kalau demo, semua demi kepentingan rakyat, apa fasilitas yang disediakan itu nggak sesuai dengan masyarakat ya? Giliran ngeliat negara lain, negara tetangga aja bisa punya subway train, kitanya ngiri, pengen, trus nyalahin pemerintah lagi. Padahal mikir juga kalau mau ngasih fasilitas hebat kayak gitu, orang kereta api biasa aja kacanya sering pecah gara-gara dilemparin, gimana mau bikin subway mahal-mahal?



Common views; city view from roof top, stalls and illegal parking, washing clothes in the river. Could you imagine the pollution? See… environmental destructions is not always wealthy people's works!


Di sisi lain, maintenance fasilitas umum juga masih kurang sih. Orang jogja pasti inget antusiasme menyambut beroperasinya bus Trans Jogja kapan hari itu, angkutan umum ber-AC, yang jalurnya teratur, murah lagi, cuma 3000. Tapi nggak selang berapa lama, hmm, AC-nya mulai nggak dingin dan kalau malem lampunya remang-remang, oh moga-moga habis ini nggak ada yang bawa-bawa ayam atau kambing ke dalam bis juga, bisa-bisa bernasib sama kaya colt. Lupakan masalah ayam dan kambing, kembali ke maintenance, pihak penyelenggara juga harus cepat tanggap donk kalau ada penurunan kualitas dari fasilitas umum, karena itu juga mempengaruhi kenyamanan penggunanya, nggak worth it lah masa bayar 3000 tapi kualitas gopek. Nanti orang jadi ilfil juga mau pake kan?

Jadi ingat kajian pedestrian di semester 6 dulu, kenapa masyarakat perkotaan di Indonesia lebih suka naik kendaraan daripada jalan kaki? Iyalah, gimana enggak, jalan kaki di jalan-jalan besar di Indonesia sama kayak bunuh diri, rawan ketabrak, paling minimal keserempet. Kenapa? Karena kita nggak nggak bisa jalan dengan nyaman di trotoar. FYI, trotoar di Indonesia itu milik tanaman sama PKL.

Selain budaya ngerusak dan nggak bisa memelihara fasilitas umum, satu lagi, nyolongan (I had mention it before). Ini sih sama saja nyolong fasilitas umum, nyolong space buat pejalan kaki. Mengorbankan orang lain untuk kepentingan pribadi. Oke lah, dalam hal ini mereka buat cari makan, tapi pejalan kaki juga sama-sama cari makan,  right? Efek dari penyerobotan pedestrian space ini adalah semakin berkurangnya pejalan kaki, naik angkutan umum juga nggak nyaman, jadinya pada naik kendaraan pribadi, lalu lintas padat, polusi udara dan krisis energi, ozon bolong dan dampak secara luasnya, global warming.


Traditional transportation, less pollution, but what about time effectiveness?
We still need for speed

Kalo gitu, bukan cuma jadi urusan pemerintah dan pengembang aja, tapi masyarakat juga. Masyarakat punya peran yang sangat sangat signifikan dalam menjaga keberlanjutan (sustainability) lingkungan. Perlu sedikit menggeser mind-set masyarakat dulu disini. Gimana ya, biar semuanya lebih merasa memiliki kota. Kerjasama yang kompak dan harmonis antara masyarakat, pemerintah, dan pengembang, semua stakeholders turut aktif dalam perannya masing-masing. Nggak perlu muluk-muluk kan buat menciptakan kota yang sustainable, benerin dari yang kecil-kecil aja. Kalo kata Pak Ridwan Kamil, “Yang dilakuin mungkin nggak sampai bisa mengubah 1% dari keruwetan seluruh kota Jakarta, tapi paling enggak yang nggak sampai 1% itu bermanfaat bagi masyarakat,”.

Kota berbudaya di masa depan yang aku bayangin, bukan cuma physically kaya Kyoto, tapi masyarakatnya juga lebih respect dengan lingkungan, nggak cuma bisa menuntut tapi juga bisa memelihara kotanya. Kota berbudaya bukan hanya dimana-mana joglo, dimana-mana batik, dimana-mana etnik atau yang klasik-klasik saja, tapi harus dibangun juga “budaya” itu sendiri. Budaya itu kan adalah satu hasil peradaban manusia, sudah bukan waktunya kita cuma nuntut fasilitas, masih hobi ngerusak, nyerobot hak orang atau nyolong. Sekarang waktunya lebih aware pada sekeliling, pelihara fasilitas yang udah ada, kan kita juga yang menikmatinya.

Mari kita bangun budaya positif mulai dari diri sendiri, untuk menuju kota yang “berbudaya”.

Joglo, a Javanese traditional architecture

Kotagede residential view

Jogja corner: walls of mural


Artworks on public spaces during Jogja Jamming Biennale X
(December 2009-January 2010)


FOR THE FUTURE!!!
未来のために
FOR LIFE!!!
生活のために

Sunday, February 28, 2010

Calling You

lalalalala
A song calling for you
It’s calling for you
lalalalalala

lalalalala
Even thought I’m calling for you like this
Even if I calling for you
lalalalalala

A Song Calling for You – SS501


Semalem aku disms sama seseorang, “Kok kamu sekarang manggil aku (nama asli) terus sih?” Hah? Aku bengong, ya, bengong lagi, what’s wrong with that? Dan akhirnya aku menjelaskan kalo aku sebenernya lebih suka manggil pake nama asli daripada julukan. Kenapa? Intensinya beda.

Seperti pertama kali kita memanggil “mama” dan “papa” pada orang tua kita. Walaupun setelah 22 tahun akhirnya aku memanggil mereka dengan ngaco, “mamo” dan “papo”. Dan panggilan keluargaku ke aku pun macem-macem. Mamaku memanggilku “kabme”, hahaha…ini Malang-an banget, dibalik dari kata “embak”. Sedangkan papaku dengan romantisnya memanggilku “jeng”, ihik ihik…. Terus adikku, dulunya dia memanggilku “embak” seperti biasa, tapi gara-gara keracunan RO (Ragnarok Online) akhirnya sejak SMA sampai sekarang dia memanggilku “cc”(cicik). Hehehe…

Dalam relationship, aku biasanya memanggil pacarku dengan nama panggilan asli mereka. Walaupun lebih tua, tetep aja aku jarang memanggil mereka menggunakan “mas”, habis rasanya kesannya genit sih. Pacarku yang terakhir kupanggil “abang”, karena kultur keluarganya begitu. Hmm… aku punya kisah sendiri dengan ini. Aku memanggilnya dengan panggilan “genit” gitu, sebenernya agak risi sih, tapi aku mencoba respect terhadap dia, masak katanya mau serius kok aku manggilnya kayak manggil teman-teman biasa. Yaya, akhirnya dengan inisiatif sendiri, aku pun memanggilnya begitu, dan dia membalas dengan memanggilku “adik” duh, padahal aku geli jua dipanggil begitu, karena secara struktur keluarga, aku ini kakak tertua dan di keluarga besar pun aku anak pertama dari anak pertama, jadi aku jaraaaang banget dipanggil “adik”. Seiring berjalannya waktu, aku mulai terbiasa dengan panggil-memanggil seperti itu, tapi… tapi tapi tapi, suatu ketika, waktu marahan, nggak sengaja aku menyebut dia dengan “kamu” dan menyebut diri sendiri dengan “aku”, dan dia tambah marah. Hah? Sebenernya itu kejadian yang nggak sengaja, dan secara kultur, itu adalah hal yang biasa untuk menyebut diri sendiri “aku” dan menyebut dia dengan “kamu”. Kenapa jadi masalah? Lama-lama urusan panggilan ini jadi masalah yang cukup pelik dalam hubungan kami. Aku, selfishly, mulai merasa terpaksa untuk memanggil dia dengan panggilan itu. Ya, menurutku, panggilan itu kan sukarela, bukan karena diwajibkan! Bahkan dalam hubungan aku dengan orang lain yang paling intimate, dengan keluarga, pun panggilan itu bisa bersifat fleksibel, tapi kok sama dia malah enggak, sifatnya mutlak. Huh…

Oke, enough for curcol. Let’s talk about the topic. Panggilan.

Buatku, dalam sebuah panggilan terhadap seseorang, terkandung makna respect dan intimacy di dalamnya. Bukan berarti segalanya bisa digeneralisasi. Aku memanggil seseorang biasanya dengan nama yang dia kenalkan padaku pertama kali. Tapi biasanya seiring dengan intimacy yang dibangun, akhirnya panggilan itu bisa saja berkembang.

Contohnya sama si Dakunk, temenku. Aku kenal dia dari SMP dengan nama aslinya, Danar. Dan 3 tahun setelah lulus SMP kami ketemu lagi di kuliah, sekelas pula. Temen-temen memanggilnya “Dakonk” panggilannya waktu SMA. Awalnya aku males banget ikutan manggil dia Dakonk. Tapi waktu aku panggil Danar, eh dianya nggak gitu ngeh. Jadinya aku kepaksa ikutan manggil dia "Dakunk", beda dikit lah. Hahahaha… Kisah lain, sahabatku sendiri deh, namanya Kartini, tapi aku panggil “mbak Tini”. Secara umur dia seumuran sama aku (beda 4 bulan tuaan dia sih), tapi secara angkatan akademik dia diatasku setahun (2004) walaupun akhirnya kami jadi seangkatan di kuliah. Gara-gara kebiasaan, aku masih memanggilnya dengan tambahan “mbak” di depan namanya, bukan karena aku nggak akrab, malah udah kelewat akrab ma dia, tapi panggilan ini menurutku karena ada factor historisnya, yaitu dia adalah kakak kelasku waktu SMA, seorang anak PMR yang selalu nolong aku setiap aku pingsan waktu latian t***i (censored). Hahahaha!!!

So, dalam memanggil orang lain dengan “panggilan sayang”nya masing-masing, aku bisa berbeda caranya. Belum tentu orang yang kupanggil/memanggilku dengan panggilan mesra itu bener-bener punya intensitas hubungan yang se”mesra” itu, dan belum tentu juga orang yang kupanggil/memanggilku dengan formal hubungannya juga formal dan kaku.

Semuanya tergantung cara kita memaknai respect dan intimacy yang tersirat di dalamnya…


Saturday, February 27, 2010

Festival Liong di Pekan Kebudayaan Tionghoa Yogyakarta V




Oyeah, hari ini segala rencana berjalan lancar, termasuk nonton puncak acara Pekan Kebudayaan Tionghoa V di Jalan Malioboro. Menu utamanya, jelas atraksi Liong (naga) yang konon terpanjang se- Asia Tenggara, 130 meter lho! (bener atau nggak-nya silakan dicek sendiri)

Dan seperti biasa, kalau ada festival, jalan ini ditutup untuk kendaraan, jadi seneng, bisa sliwar-sliwer di jalan paling kondang di Jogja ini tanpa kawatir bakal keserempet mobil. Sayangnya, kendaraan tradisional seperti becak dan andong nggak dicegat, jadi tadi aku sempet hampir ketabrak moncong kuda!!! *nguik*

Mulai jam 5 sore, warga sudah memadati jalan malioboro. Semua antusias dan penasaran, semuanya tumplek di sini. Nggak peduli umur, status social, agama dan etnis. Yang cina dan pribumi pun campur baur nonton festival ini. Entah kenapa, aku mulai ngerasa sedikit sentimental melihatnya. Yah, Indonesia, dengan segala keragamannya, yang pribumi maupun pendatang, semuanya punya hak untuk dapat apresiasi terhadap budayanya. Aku rasa Jogja memang layak untuk dapat gelar Kota Budaya, walaupun secara tourism masih kalah jauh dari Bali. Tapi keragaman budaya yang terdapat di Jogja bisa dibilang benar-benar kaya. Yang menarik juga, di tengah tengah parade cina-cinaan ini, terselip kontingen dari Palu. Palu gituuu? Hehehe, aku memang punya kenangan dan kesan tersendiri sama kota ini sih. Ya, walaupun nggak sesuai tema, tapi oke lah… kita apresiasi keberadaan mereka yang memperkaya dan meramaikan acara ini.

Yang menarik di acara ini jelas parade barongsay dan liong dunk!!! Berbagai macam barongsay memamerkan kebolehannya, dari yang besar sampai barongsay yang kecil dan imut-imut, dimainkan sama anak-anak pula, aiiihh… Terus ada juga yang bagi-bagi kue keranjang, dan LUCKY, aku dapat satu!! Moga-moga jadi keberuntunganku. Hehehe… Ada juga atraksi tari kreasi baru, akulturasi Jawa dan Cina dari sanggar tari terkenal di Jogja Natya Lakshita (Didik Nini Thowok) dan Djaduk Ferianto. Ada-ada aja deh kreasinya. Ada juga arak-arakan becak yang dihias dengan bentuk 12 shio, kayak ondel-ondel gitu, sayangnya secara estetik menurutku kurang bagus dan nggak imut (terlihat serem malah). Yang nggak kalah menarik, ada atraksi jatilan ampyang, yang dimaenkan sama anak-anak keturunan cina. Duh, kawaii-kawaii bener lho mereka.

Atraksi utama, arak-arakan Liong terpanjang se Asia Tenggara muncul. Emang bener, tuh liong gede banget. Sampe satu tiang dibawa sama 3 orang, dan kami hanya bisa melongo lihatnya. Waaah, kereen!! Tapi yang bikin aku seneng bukan soal Liongnya, tapi yang mbawa, duh akang-akang itu… kaya anak-anak boyband semua!! Ohohoho… *ngiler*

Selesai lihat pawai, aku dan teman-teman pun menyerbu Ketandan. Ini adalah salah satu kampong pecinan (China Town) di Jogja. Walaupun pas hari biasa jalan ini Nampak sepi-sepi aja, tapi sejak pecan kebudayaan dibuka, kampong ini ruame banget. Semalem sampai kami haru sesak napas waktu masuk kesini. Ada macem-macem yang dijual, mulai makanan, pernak-pernik cina, pameran mi, jasa ramal, karaoke, stand bank, panggung budaya, sampai penjual ular!!! Seru banget. Waktu lihat di panggung, ada yang nyanyi ala boyband gitu juga lho, howaa… terus ada simbah-simbah yang dengan lincah dan pedenya nyanyi berbagai macam lagu, dari lagu cina, sampai campur sari, dan dia juga sempet duet sama sang maestro tari Didik Nini Thowok. Kocak banget!!!

Ah ya ah ya, setelah acara ini selesai, kira-kira jam 22.00, ada pesta kembang api. Bagus banget!!! Kembang api awalnya kecil-kecil, terus ada yang besar, dan langit jadi terang benderang, walaupun bunyinya kaya ada bom. Hehehe... I do really love fireworks!!! (foto hanabi menyusul ya)

Yeah, once more, this event makes me proud to be citizen of Jogja....

Jogja, nggak hanya sekedar kota pelajar, kota gudeg, kota budaya dan apapun sebutannya itu, tapi Jogja merupakan daerah yang bener-bener istimewa, dengan segala khas budayanya, kehidupannya.

At last, selamat datang tahun macan!!! Semoga tahun ini segalanya lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya!!!


PS: I'm so sorry for the blur pictures, my camdig is not too good for night shots...

Sunday, June 28, 2009

Thai-girl who looks like me ^^v




My friend in Japan tagged me this picture... She said that the girl wears glasses looks like me. Her name is Pin Chang, from Thailand. Both her and my friend are now studying in Japan.

My friend also tagged Pin Chang on one of my photo. Hahahaa... I never met her before, n I still guessing her reaction when she see my photo which tagged her name by my friend.

Hahahaa... for Ajeng... now u meet 1 of my 4 twins on this world... ^^d

(eh, kembaran manusia itu 4 apa 7 sih di dunia ini???)