Showing posts with label share. Show all posts
Showing posts with label share. Show all posts

Wednesday, August 24, 2011

Chasing Scholarship #3

Yeaah!! Ini masih cerita bersambung dari kejar-kejaranku dengan Beasiswa Unggulan (BU) Dikti. Semalam aku mengantuk, jadi ceritanya kuteruskan lagi hari ini, kebetulan kuliah kosong, hihihi.

Setelah mendapat kembali paspor, dan juga dapat tiket (at least dapat kode booking-nya sih), aku pun segera mengurus surat ijin ke jurusan. Aku ke kantor Admission, ambil form, dan ngasihin ke administrator program studi-ku, Miss Vineeta. Untung dia baik, jadi urusan minta tanda tangan sama advisor-ku, Prof.Routray dia yang mintain, kiss kiss Vineeta!!!

Semua urusan keimigrasian kelar, urusan di kampus juga kelar, dokumen-dokumen yang musti dibawa juga kelar, lega rasanya. Tapiii… aku lupa kalo masih ada satu syarat lagi yang belum, foto 4x6 latar belakang putih. Sebel deh, sebenernya malam sebelumnya aku sudah edit pake sotosop, udah cantik dan oke. Baru kuinget, eh, mau cetak dimana ini? Kan disini nggak ada Photo Talk (tempat cetak foto langgananku di Jogja). Siaaal, masa aku harus ikutan ngantri jepret di potobox depan kantor admission? Aduh maluu. Ehm, untungnya sempat ketemu Pak Made, orang Indonesia yang satu dorm sama aku, beliau bilang katanya di deket Language Center itu ada tukang foto, nggak mahal pula, cuma 100 Baht, sama kayak di potobox. Maka, kucobain lah foto di situ. Lagi-lagi, aku selalu dikira orang Thai deh, tau-tau si bapak udah ngomong aja pake bahasa Thai, yang selalu kutangkis dengan, “I cannot speak Thai,”, “Sorry, I thought you’re Thai, you looks like Thai,” hedeeeh. Gimana hasil fotonya? Not bad laaah, walaupun mukaku jadi lebih masam dan nggak bisa aku sotosop!!! Hiks.

Hari kamis Pagi, aku nggak ada kuliah, dan (sorry) lagi nggak puasa. Aku pun cari sarapan ke cafeteria. Disana aku ketemu sama Pak Thiang, orang Indonesia juga, dan dikasih tau rute penghematan dari AIT ke Bandara Suvarnabhumi naik BTS. Wih, kedengerannya menarik kan? Aku pun mulai atur strategi, harus berangkat lebih dulu berjam-jam dari jam keberangkatan nih.

Barang-barang bawaan siap, titipin si Pinki (sepedaku) ke temen, dan aku pun berangkat!

Dari AIT, naik bis kuning nomor 29 ke Chatucak, di situ ada stasiun BTS Mo Chit. Dari Mo Chit lanjut naik BTS ke Phaya Thai. Dan dari Phaya Thai naik BTS Airport Link ke Bandara Suvarnabhumi dengan selamat, sehat sentausa. Bener lho, lebih hemat banget. Kalo naik taksi bisa sekitar 450 Baht, dan ini hanya 95 Baht, dan lebih seru pulaaa! (tapi tidak dianjurkan kalo lagi bawa barang bawaan banyak)

Sampai di Bandara Suvarnabhumi, masih jam 4. Padahal penerbanganku masih jam 8. So, aku pun meng-hedon lagi di bandara, makan pad thai/mi Thailand (sorry buat yang lagi puasa… ini cuma kebetulan aja pas itu aku lagi nggak puasa). Slruup. Sekitar jam 5 an baru aku self check-in. Dan menunggu lagi berjam-jam glundungan di bandara superluas itu dengan gejenya!

(pergejean di Bandara Suvarnabhumi)

(pad thai...slrup!)

(ada colokan charger!! Oh, serasa hidup kemabalii, hapenya)

Demi apa aku nyampe lagi di Indonesia tengah malam buta, ke Jakarta pula, bukan Jogja atau Surabaya… Semua demi BU Dikti! Hehehe, yeaa, demi beasiswa dan kelancaran studiku di masa depan. Hehehe. Sok imut deh. Tapi yang menyenangkan (dan sudah kuduga), papaku ikutan jemput! Fufuu… kangennya aku… mana papa bawa titipan mama, sekeranjang bumbu Bamboe buatku! Senaaangnya… Walaupun habis itu ternyata papa harus balik ke Jogja lagi.

Jumat siang, aku sudah siap pindahan ke hotel tempat acara pembekalan. Masih nggak ada bayangan juga acaranya bakal kayak apa, walaupun sudah dikasih rundown di undangannya, soalnya kok kayaknya bakal boring abis cuma dengerin presentasi. Ternyataaaa, boro-boro bosen, kita jadi kayak orang kalap aja, karena harus melengkapi dokumen ini-itu yang mana di undangan, pengumuman, maupun buku panduan nggak tercantum. Beberapa harus di-copy lagi, beberapa harus buat baru (contohnya bikin akun bank baru, yang bikin aku pusing, mana ada bank buka haris Sabtu? Minggu aku dah harus balik ke Thailand pula). So little time, so much things to be done. Huft… 

Menurutku beasiswa ini worth it juga, karena selain tuition dan registration fee dibayar penuh, duit living cost-nya juga cukup, bangeeeeett… bahkan bisa dipake jalan-jalan! Aku juga heran, kenapa bisa sebesar itu. Karena dari pengamatanku selama beberapa waktu di Thailand, dengan biaya segitu, aku yang aku pake cuma setengahnya untuk bertahan hidup di tengah kerasnya alam (halah). Dengan begitu, anak Indonesia yang sekolah di luar negeri nggak bakal nggembel lagi, hobi lirik-lirik barang bekas, dan jadi kurus saking hematnya. I am so lucky :)

Tapi, ini nggak dikasih begitu saja, ini pake uang rakyat, dan harus ada timbal-baliknya ke rakyat Indonesia. Konsekuensi dari menerima beasiswa ini adalah kita harus mengabdi kepada rakyat Indonesia sebagai dosen. Bagi mereka yang udah nyantol di universitasnya masing-masing sih asik-asik aja, lha saya… mau mengikat janji sama UGM aja udah kebentur IPK… :”( jadinya mau nggak mau mengabdinya kepada Dikti, dan harus rela ditempatkan di mana saja, termasuk di Indonesia timur. Yeeeaaah!!! Semangaat! (FYI, walaupun udah terikat dengan universitas tertentu, nggak menutup kemungkinan harus siap juga untuk menutup kekurangan SDM dosen di daerah lain. Hehehe… sami mawon to :D

Beberapa orang bilang, kenapa aku mau-maunya diikat sama beasiswa ini. Hm, selain karena aku juga belum punya ikatan pekerjaan sama instansi mana pun, setelah waktu 5 tahun mengabdi itu kan aku juga bebas menetukan jalanku sendiri. Mungkin meneruskan studi lagi ke jenjang PhD, atau jadi praktisi, atau lanjut jadi dosen. Semuanya ada di tanganku sendiri. Aku sih bismillah aja menandatangani beasiswa ini, semoga memang jalan yang terbaik.

Setelah dua hari berturut-turut ber-hectic ria bersama Dikti dan urusan kontrak-kontraknya yang super duper belum jelas, bahkan guarantee letter-ku pun belum keluar. Gimana aku mau ganti status funding di kampus nih kalo belum dapat GL? :( kalau nggak ada GL, nggak bisa ganti status, nggak ganti status nggak keluar invoice, nggak keluar invoice nggak cair pula beasiswa, snif. Semoga semuanya berjalan lancar seperti seharusnya. Eh, lucunya, aku sudah dibawakan SPPD lho, semacam surat perjalanan. Hihihi, berasa PNS aja :D

“Pokoknya, belajarlah sebaik-baiknya disana, bawalah ilmu buat bangsamu,” – Papa

“… Semangat belajar ya di sana. Pulanglah dengan bawa kebanggaan. Aku sayang kamu ;’)” – si Kamen Rider

So, now, I’m in Thailand again. Dunia kuliah dimulai kembali, dan kuakui kalau godaan untuk beralih dari focus disini tinggi banget. Temen-temen dari berbagai negara, yang menarik untuk bertukar cerita mengenai negara dan budaya masing-masing. Kalau nggak kuat, bisa aja kita kebawa. Disini semuanya free. Mau datang kuliah apa nggak, di kelas mau merhatikan atau tidur, mau pake baju sopan atau sexy, mau di kamar aja atau dugem, mau belajar atau hura-hura, the choice is all yours. Selain itu, banyak tempat yang menarik disini, ya nggak salah Thailand juga sih jadi negara kok asik banget. Ini godaan terbesar buatku yang hasrat travellingnya lebih tinggi daripada belajar. Harus pinter-pinter siasatinnya. Tahun ini focus lah sama kuliah, tahun depan dan habis graduation let’s explore Thailand and the countries around!!!

Bangkok again today... Good or bad, this is my country, I will be missing you Indonesia. Love you so much :D
Sunday at 1:10pm via TweetDeck · Privacy: ·  · 


---
PS: Thank you papa mama yang udah kasih surprise tiba-tiba nongol lagi di Jakarta, dan selimut batiknya yang super hangat dan nyaman membungkus tubuhku. Love you so much *kiss
---
SHARE: Informasi tentang Beasiswa Unggulan Dikti bisa dilihat di sini atau download buku panduannya di sini.


Tuesday, August 23, 2011

Chasing Scholarship #2

“Tuntutlah ilmu sampai ke negeri gajah!”

Itu semboyannya si Kamen Rider kalau nyemangatin aku. Hehehe… dan dalam rangka itu juga, diperlukan perjuangan yang nggak mudah buat menaklukkannya.

I had just back from Jakarta last Sunday. Here I am now, in Bangkok (coret) again, but now officially with different funding status. Yeaaaahh!!! I got the scholarship, yes, the Beasiswa Unggulan Dikti.

Kinda surprised when I saw my name was on the list. Sebenernya aku setiap hari ngecek website Dikti sih, dan sialnya adem ayem aja selama 2 minggu aku di Bangkok. Bikin aku gelisah nggak karuan. Kalo nggak dapet, aku harus bener-bener menjalankan Plan B nih, cari beasiswa on going yang ada di sini. Dan pasti bakalan ribet karena kedobel sama kegiatan kuliah yang bikin otakku almost exploding. Dan Alhamdulillah sungguh Allah maha pengasih lagi maha penyanyang, bahkan kepada umatnya yang satu ini…, bener-bener rezeki di bulan Ramadhan yang hebat! (sujud syukur)

Nggak tau kenapa, Dikti memang suka bikin kejutan buat peserta beasiswanya, kali ini pun pengumumannya sangat mendadak. Tanggal 15 Agustus, jam 8an malam, lagi asik nggarap tugas (sambil fesbukan tentunya :D), iseng ah “klik-klik website Dikti hari ini”. Sempat terhenyak beberapa detik stelah lihat ada update-an baru. “Pengumuman hasil wawancara penerima Beasiswa Unggulan S2/S3 Luar Negeri Dikti 2011”. Jantungku deg-degan makin cepet, rasanya seperti melihat pengumuman UM UGM 6 tahun lalu. Klik. Klik klik. Unduh unduh. Klik. Aku buka file PDF pengumumannya. Scroll, scroll, scroll… dan berhentilah di angka 30 lampiran pertama. Atrida Hadianti, UGM, AIT, Thailand, Technology, MS. THAT WAS ME!!!

Jantungku kayak mau lompat dari badan, aku teriak-teriak sendiri, loncat-loncat, koprol-koprol di kamarku yang sempit ini. Aku SMS papa, mama, adik, Kamen Rider, aku buzz YM, gtalk, tapi semuanya membisu. Aku heran, kenapa juga waktu kayak gini semuanya unavailable sih? Sejam aku cuma seneng-seneng sendiri, nggak lupa sujud syukur, memanjatkan segala puji bagi penciptaku. Dan kemudian si Kamen Rider mulai merespons, papa mamaku juga langsung telpon, ternyata di rumahku lagi heboh karena si Gajah (nama ikan koi) udah hampir mati, dan tadinya papa mama repot meresusitasi dia. Hmmh, Alhamdulillah dia selamat. Dan mereka pun juga seneng. Yeaaah, finally I made it. Berat lho beban pergi sekolah ke luar negeri dengan status self-support, rasanya kayak gimanaaa gitu. Dan satu lagi, rasanya nggak keren, karena selalu ada pertanyaan, “You already get scholarship?” atau “Beasiswanya dari mana?” dan aku cuma bisa senyum pahit, hiks.

Rupanya kesenengan saya nggak bisa berlangsung lama, karena terlampir pada surat yang sama, harus dikirimkan beberapa dokumen yang ampun banget susahnya (buatku disini). Surat ijin rektor atau kepala SDM…, lha aku kan masih belum terikat sama universitas mana pun. Ada teman UGM yang dapat beasiswa juga bilang bisa mengurus suratnya barengan. Hm, tapi apa ikatanku sama UGM sekarang, selain alumni? Lha buat jadi dosen di kampus sendiri IPK-ku nggak nyampe… (sedih). Belum lagi surat-surat kontrak yang harus tanda tangan di atas materai. Disini gimana cari materai cobaaaa?? Aku sampai muter-muter nyari orang-orang Indonesia di kampus ini, begging-begging buat ngasih materai. Ehh… ternyata dapet juga. Horeee! Maka lengkapkah sudah dokumen yang harus saya kirim. Udah tanya-tanya juga ke mail service di kampus, biayanya sekitar 250000 rupiah lah buat ngirim ke Indonesia. Alamak. Tapi nggak apa-apa, demiiii… :D

Oke, jadi ceritanya dokumen udah siap kirim nih, insya Allah sebelum tanggal 22 udah sampai ke Jakarta. Eladalah, tau-tau aku (iseng) buka website Dikti lagi, kok ada undangan pembekalan, dan nampaknya wajib datang. Piye iki? Aku tanya ortu, dan mereka bilang penting buatku datang. Hmm, nggak segampang itu sebenernya buat bolak-balik keluar masuk Thailand seenak jidat. Diperlukan ketenangan dan kejernihan pikiran. Nggak percaya? Simak kehebohanku ini.

Oke, itu hari Selasa malam, aku bingung menentukan harus ke Jakarta apa nggak. Dan udah agak malam juga ketika ortuku mantep member keputusan “Kamu harus ke Jakarta,”. Oke, dan aku pun segera connect ke internet, airasia.com. Sialnya, 48 jam sebelum keberangkatan udah ditutup online bookingnya. Aku stress semalaman!

Besoknya, dengan nasib tiket masih terlunta-lunta, aku nekat ke GRU, bikin permohonan buat ambil passport. Disuruh isi form ini-itu, dan menunggu buat ke imigrasi untuk visa re-entry. Dan hari itu aku terdampar di Ayutthaya bersama rombongan keluarga dari Pakistan!! Bukan jalan-jalan liatin kotanya yang kuno dan eksotis, tapi totally doing nothing, cuma duduk dan ngobrol-ngobrol aja di depan kantor imigrasi. Sampai hampir dua jam ‘tenguk-tenguk’ geje seratus persen, si ibu GRU keluar menenteng paspor kami semua dan mengajak pulang ke kampus. HAAAAH? Gini doang?? :o (lesson learned: lain kali bawalah buku, majalah, TTS atau benang dan hakpen sebelum mengurus visa re-entry). 

(kantor imigrasi di Ayutthaya)

(adik-adik Pakistan yang lucu-lucu...)

(pemandangan di depan kantor imigrasi)


Kabar gembiranya, akhirnya dapat juga tiket PP Bangkok-Jakarta! Alhamdulillah… kalau memang jodoh, lancarkanlah jalanku ya Allah…, tinggal selangkah lagi, mendekat dunk jodohku… Hehehe.

And the journey continue...

---
Previous story Chasing Scholarship #1

Friday, July 29, 2011

Chasing Scholarship #1


Hay hay people!!! How are you? Aal iz well?? :)

I’m sorry for quite a long time not updating the journal, kinda busy preparing of leaving for Thailand by next week. And… surprisingly, I am called for scholarship interview last week. And… here’s the story!


Oke, jadi ceritanya hari Selasa atau Rabu minggu lalu nggak sengaja aku lihat update Twitternya Dikti, katanya pengumuman hasil seleksi tahap 1 sudah ada di website. FYI, aku ikutan daftar Beasiswa Unggulan (BU) Dikti. Maka dengan rasa penasaran plus excited plus harap-harap cemas, aku langsung nyalakan PC, sambung internet, buka Twitternya Dikti, terus aku buka deh link-nya, dan… teroretroreeet… ada nomor registrasiku!!! Lalalalala... senengnya bukan main, sampe teriak-teriak di rumah, sampe sama mamaku dikira ada kebakaran. Heu...

Why BU Dikti? Emang nggak dianjurkan sih sama dosen-dosenku buat daftar beasiswa ini, tapi aku nekat aja. Dengan pertimbangan setelah lulus S2 memang aku berencana untuk jadi dosen, walaupun konsekuensi bagi penerima beasiswa ini adalah ”mengabdi kepada Dikti selama waktu 2n+1”. Jadi kalau ambil S2 dua tahun, ya harus mengabdi pada Dikti selama lima tahun, dan itu adalah... ditempatkan dimanapun Dikti butuh, termasuk di Indonesia timur. Mati aku! Tapi hajar aja lah... I necessarily need any financial aid to support my study. Sumpah nggak enak banget kalo masih bergantung sama ortu, hari giniiii pula.

So, beberapa bulan lalu, aku menerima letter of acceptance (LOA) dari AIT, yang dengan so sweet nya tertanggal 12 Mei 2011, pas banget di hari ulang tahunku yang ke 24 (hik, terharu...). Dan kaget setengah mati lihat angka-angka yang tertera di dalam surat, di kolom SELF-SUPPORT, yang kalo dirupiahin kira-kira bisa buat bikin rumah. Mateng kooon! Dari mana duit segitu? Ortuku harus jual sawah tuh. (nangis darah, guling-guling di pasir, garuk-garuk aspal). 

Dan setelah cari info kesana kemari, akhirnya kucoba lah apply BU Dikti ini, dengan segala terms and conditionnya. Sebenernya bingung juga, karena secara pekerjaan I currently UNEMPLOYED yet, bener2 pengangguran, jadi nggak ada instansi yang mengirim ataupun merekomendasikan aku (sedih). Padahal gosipnya beasiswa ini khusus buat dosen, atau calon dosen. Nah, aku mau daftar jadi dosen di UGM aja udah hopeless gara-gara IPK nggak memenuhi... gimana coba. Nekat aja deh, aku kirim formulir beserta dokumen-dokumen yang harus dilampirkan. Mana ngirimnya udah mepet deadline, mana skor TOEFL-ku belum jadi. Haaa... pusing banget. Tapi kata dosenku, ”Kayaknya boleh disusulkan deh, kamu bikin surat pernyataan bermaterai aja,”. Dan yak, kubuatlah surat pernyataan bermaterai kalo skor TOEFL-ku belum jadi dan bakal nyususl secepatnya. Baru sekitar 2 minggu kemudian aku kirim sih... hehehe... 

Selanjutnya, saya menunggu nasib, lolos seleksi syukur, nggak lolos juga syukur... (pasrah banget). Dan ternyata lolos, dipanggil wawancara. Sialnya, di surat tertulis ”jadwal dan tempat wawancara menyusul (tentatif)” wah!

Tiap hari kupantengin twitter, kok nggak nongol-nongol tuh update jadwal. Aku telpon ke kantor Dikti pusat yang di Jakarta, telponnya dialihkan, terputus begitu saja. Kirim e-mail ke Dikti, juga nggak dibales-bales (and you know what? Baru dibales 2 hari setelah wawancara, “Wawancara di Yogyakarta sudah dilakukan pada tanggal 23 Juli 2011, jika belum mengikuti wawancara bisa mengikuti di kota lain,” *deep sigh). Aku baru tau ada jadwal wawancara waktu apa coba? Pas lagi makan-makan sama geng temen-temenku SMA, hari Jumat malem, dan salah satu temenku bilang, “Lho Tid itu kan wawancaranya besok di Inna Garuda,” whaaaat? ”Coba kamu liat website lagi deh, baru tadi kok updatenya,” edyan.

Sampai rumah langsung aku cek ke website Dikti, dan beneran, “Hari Sabtu tanggal 23 Juli 2011 jam 08.30 di Hotel Inna Garuda”, baguuss… Pas banget di hari itu si Kamen Rider dateng ke Jogja, berantakan dah jadwal kencanku pagi itu. Tapi..., ehm, si Kamen Rider mau mengantar dan menungguiku wawancara. HOREEE!!

And as planned, pagi jam 8 aku berangkat dari rumah menuju Hotel Inna Garuda di Malioboro, berbaju rapi pake rok item dan blouse ijo toska, dandan cantik, kinyis-kinyis (halah). Sebenernya grogi, tapi tekad dari rumah, ”Jadilah dirimu sendiri, toh dapat atau nggak dapat beasiswa ini aku tetep berangkat, nanti bisa cari beasiswa lain, sejuta jalan menuju Roma, tuntutlah ilmu sampai ke negeri CINAAAA!!!” (raise a punch to sky!) Eh aku kan mau ke Thailand, salah salah.

Fakta mengejutkan, sampai di venue, aku tanya satpam, ”Pak wawancara Dikti di ruang mana ya?” pak satpam nggak tau, suruh tanya di resepsionis. Dan… aku tanya resepsionis, “Nggak ada tuh mbak…,” lah ini gimana to, apa aku salah jadwal lagi ya? (garuk-garuk kepala), bingung, mulai panik, ”Ini yang lainnya juga pada nanyain Dikti,” kata mbaknya sambil menunjuk ke arah kursi-kursi. JRENGGG!!! Ternyata ada mbak-mbak mas-mas segambreng berpakaian rapi yang bertujuan sama, dan sama-sama terdampar. Hahaha... piye to iki? Untungnya diantara mbak-mbak dan mas-mas itu, aku menemukan 2 sosok yang kukenal, kakak-kakak angkatanku (yang sudah berprofesi sebagai dosen UGM, envyyy...). 

Hampir sejam terlunta-lunta nggak jelas, akhirnya muncullah professor-professor dari Dikti. Dan sepertinya ada yang nggak beres dengan reservasi dengan pihak hotel. Tapi apa pun, toh itu urusan mereka (walopun aku sempet ngedumel juga tadinya, hehehe).

Fokus, apapun yang akan terjadi di ”ruang eksekusi” nanti, nothing to lose aja, begitu pikirku selama menunggu. Sambil ngobrol-ngobrol dengan si pacar dan peserta-peserta wawancara yang lainnya. Beberapa orang yang sudah diwawancara mulai mengeluarkan kisi-kisi pertanyaannya. Wah, lumayan berat juga, tapi sekali lagi, hajar ajaaa!

Tibalah waktu aku dipanggil. Aku melangkahkan kaki dengan mantap ke ruang wawancara. Tapi, brrr... aku disambut sama dinginnya AC, jujur yaa... kalo wawancara di ruang ber-AC duingin gitu seringnya aku malah jadi kagok, susah ngomong dll karena fokus menghangatkan badan. Hahaha... So, que sera sera... kita lanjut ke sesi wawancara!

Wawancara berlangsung menggunakan bahasa Inggris, sodara-sodara, yap, bahasa Inggris full, nggak ada campuran Indonesia-nya blas, walaupun bapak-bapak pewawacara adalah orang Indonesia asli dan logatnya juga medhok. Berat berat..., walaupun aku juga suka sok-sokan pake bahasa Inggris, it does not mean I can speak English fluently, aslinya aku plegak-pleguk abis. Sampe disindir sama si bapak pewawancara, “Your TOEFL score is pretty good but you seems so nervous speaking in English,” dan kujawab, “Yes, I am nervous, honestly,” sippp… cakep banget deh dibantainya. Huftt.. 

Pada dasarnya beasiswa ini cukup memberatkan pada kesanggupan peserta untuk memenuhi kewajiban “mengabdi” setelah menyelesaikan studinya. Pertanyaannya malah kebanyakan seputar rencana menikah. Aku malah ditanya udah punya pacar, kalian ada rencana menikah kapan, pacarnya kerja dimana, apa dia setuju kalau kamu ditempatkan dimana saja, dll dll. Ini kok lucu juga ya, malah jadi santai gitu rasanya, kayak nggosip aja. Ya aku jawab aja apa adanya. Kalau mengabdinya hanya selama 2n+1 sih masih oke, tapi kalo lebih, bweh... mikir lagi. Beberapa peserta yang udah bekerja atau terikat sama instansi malah kelihatannya lebih ribet lagi, karena urusan kontrak ini-itu. Karena yaa, itu tadi, penerima beasiswa harus mau ditempatkan dimana saja.

Uwaaah... (stretching stretching)

Sekian sharing saya mengenai kejar-kejaran sama BU Dikti. Sampai tulisan ini diketik, masih belum ada pengumuman selanjutnya dari Dikti. Sementara hari keberangkatan sudah tinggal seminggu lagi. Doakan saja saya beruntung, dan mendapat hasil yang terbaik. Amiin... SEMANGAT SEMANGATTT!!!

For dream

For the future

For life!!!


Monday, July 18, 2011

Everyone’s Timing


こんばんわ!

How are you all, people? Always always wishing you all as healthy and happy as I am now . Yes, I don’t know why I am feeling so blessed lately. I’m really grateful :)

Siang hari yang panas itu, aku sedang main ke rumah temenku. Angin sepoi-sepoi di dalam rumah berhasil membuat mataku terpejam dan jatuh tergelundung di atas tempat tidurnya. (Oke, sebelum kalian berpikir macam-macam, FYI ini temanku cewek kok, asli, bukan jadi-jadian, hahahaa!).

“Eh tid, aku kemarin dateng ke nikahannya Galih (temen kami SMP),” mataku terbuka sedikit.

Sambil malas-malasan, aku menjawab, “Wah iya, minggu lalu aku melewatkan 3 undangan nikah temen-temen,”. Iyalah, orang aku asik-asik jalan-jalan ke Surabaya, ketemu si Kamen Rider (maafkan saya teman-teman… sungguh).

“Emang siapa aja?” tanya dia.

“Galih itu, terus Asdi, sama Kiki juga,” jawabku lagi. Masih dengan kriyip-kriyip.

“Wah…, anak-anak dah pada nikah aja ya, si Erlin dah mau punya anak, yang lainnya udah pada mau wisuda yang kedua, aku lulus aja belum,”. Sampai di situ aku terdiam. Menggulung badanku berbalik ke arahnya.

“Hey, setiap orang itu punya timing-nya sendiri-sendiri, lulus, kerja, nikah, punya anak, atau S2. Yang penting kan nggak berhenti berusaha yang terbaik. Aku sih yakin kamu bakalan lulus di waktu yang tepat buat kamu, mungkin aja setelah itu rejekimu bisa jadi lebih lancar dari temen-temen yang lulus lebih dulu,” kataku. Sekenanya.


Berhari-hari setelah itu, baru kupikirkan kembali pembicaraan siang itu. Timing ya? Hmm… aku juga mulai mikir hal-hal yang terjadi sama aku saat ini pasti memang sudah di-plot timing-nya dalam masterplan maha besar milik Allah. 

Aku bersyukur dengan apa yang udah terjadi sama aku saat ini. Lulus di waktu yang tepat, bulan Februari lalu, walaupun gagal ngejar wisuda November, tapi at least wisuda bulan Februari bisa dihadiri sama sekeluargaku lengkap! Coba November… hmm… udah bertepatan pas papa-mamaku pergi haji, Gunung Merapi njeblug, dan upacara wisuda diundur ke Februari… SA-MI-MA-WON. Hahaha!

Bersyukur juga, walaupun belum diberi kesempatan untuk bekerja praktikal, even mroyek sama dosen pun aku nggak pernah dibagi, tapi aku diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan S2, dan selangnya pun nggak lama dari kelulusanku. Nggak jadi nganggur deh. Alhamdulillah…. Padahal selama ini aku suka iri sama temen-temenku yang udah pada mroyek, enak banget masih kuliah aja udah dapet duit, dapet pengalaman serenteng buat CV pula. Ya itu mungkin garis yang ditakdirkan buat mereka, rejeki mereka. Timing kerja buatku mungkin setelah ini ya, itu pun aku yakin juga harus berusaha keras lagi buat sukses. Yang penting kan nggak berhenti berusaha sebaik-baiknya, pasti nanti dikasih deh pekerjaan yang paling cocog (pake G) buat aku :)

Soal jodoh dan nikah, ahh... temen-temenku udah pada main nikah, hamil, dan punya anak aja. Aku kapan yaa? Hmm, selintas emang sepertinya enak ya sudah nikah, bisa bareng pasangan terus, sak tidurnya juga. Kenapa aku nggak nikah sekarang aja? Kan udah punya pacar juga. Hahaha..., balik lagi ke timing, iya temen-temen dapet kesempatan nikah lebih dahulu, tapi aku juga dapat kesempatan buat kuliah lagi lebih dahulu juga dari mereka. Tapi..., ada juga sih temenku yang udah nikah, dan sekarang juga ngelanjutin kuliah S2-nya di luar negeri pula. Sugoooi… (melongo hebat). Tapi lagi, dia sama suaminya long distance marriage. Haaa... kalo aku mah mana tahhaaaan :D So, lebih baik kuselesaikan saja dulu apa yang kumulai ini, selama 2 tahun ke depan kuliah yang bener, dapet ilmu yang cukup (plus gelar :p), pulang ke Indonesia, dan nikahnya insya Allah dengan orang yang bersamaku saat ini (yes, the Kamen Rider), amin. Hmm, quite a nice plan, isn’t it? ;D (wink)

Kuakui, dulu aku pun mengucap hal yang sama dengan temanku itu. Rasanya kok desperado banget. But, yeah... segalanya memang sudah ditentukan timing-nya sendiri-sendiri, dan benar, semuanya indah pada waktunya (klise abis dah!). 

一生にもっとがんばりましょうー!

---
Photo credit to my little female cousin Arisa Hertanti, she's really good in photo editing, love you <3

Monday, May 2, 2011

Nikah?? #3

こんばんわ! みんな元気?



Wuaaah, ada apa nih kok aku tiba-tiba mood buat nulis soal ini lagi ya? Apa karena sudah punya pacar? Hehehe… maybe. Sedikit banyak status in a relationship ini juga mempengaruhi pikiranku soal menikah. Mungkin kalian bisa membandingkannya dengan posting-posting sebelumnya dengan judul yang sama, seperti apa alur pikiranku mengenai hal yang complicated ini. Dulunya aku merasa lebih skeptis dan nggak peduli, karena aku sendiri memang nggak punya pasangan, so why should I care? Kalau sekarang sih sepertinya lebih bisa membuka hati buat membahas hal-hal seperti ini.

Teman – teman sebayaku sekarang sudah banyak yang menikah (beberapa malah ada yang sudah divorced, wow). Kemarin salah satu mantan pacarku juga menikah. Apa aku iri? Sudah pasti! Aku dilangkahin lagi nih. Hehehe. Menurutku, mereka yang bisa memutuskan menikah itu hebat banget. Ini bukan soal betapa asiknya bisa menghabiskan hari-hari berdua bersama, terus lahir anak-anak yang lucu-lucu. Wih, itu sih bayangan indahnya aja, tapi kan hidup itu nggak hanya seneng-seneng aja kan? Begitu juga di dalam pernikahan itu.

Hmm, entahlah, akhir-akhir ini kok aku banyak “dinampaki” kehidupan rumah tangga yang (menurutku) berantakan. Aku jadi takut, apakah segitu sulitnya buat pengertian antar anggota keluarga? Suami ke istri, istri ke suami, bapak-ibu ke anak-anaknya, anak-anak ke orangtuanya… Kenapa kadang suatu hal yang sebenarnya masih bisa dikompromikan baik-baik malah dibawa bersitegang. Bikin mood jadi jelek, dan merembet ke aura rumah jadi nggak enak, dampak buruknya hubungan antara anggota keluarga jadi kaku, rasanya kok pemandangan keluarga yang kayak gini ini kontras banget sama senyum bahagianya di acara nikahannya dulu, dimana semua orang rasanya ngiri dengan kebahagian yang terpancar di wajah mereka. Kemana kemesraan itu hilang? Aku masih bingung.

Kenapa aku ngomongin ini ya? :p Sebenernya aku kurang kerjaan, jadi sempet mikir yang macem-macem, hihihi. Atau efek buruk kebanyakan liat greenweddingshoes ya, jadi pingin. Iya sihh (jujur) hahaha! Tapi aku ya masih tetep kebanyakan mikir. Rasanya aku pingin membangun keluarga yang nggak hanya go-with-the-flow aja, tapi juga ter-planning dengan baik, mulai dari basic-nya, sampai aplikasinya di lapangan, nggak cuma buat jangka pendek, tapi juga jangka panjang sampai aku nggak bernapas lagi. (hmm.. sok planner banget ya aku :D) Hope he think the same way...

Ah ya, jadi inget beberapa waktu lalu aku ngisi kuis tag-tag-an di FB tentang wedding plan. Hmm, sekarang mau kujawab lagi ah… (iseng kuadrat!) Here we go!

1. how old are you?
23 going on 24 this month

2. are you single?
Sorry, I already taken :D

3. at what age do you think you'll get married?
25, maybe sooner maybe later...

4. do you think you'll marry the person you are with now?
I wish it would be him :)

5. if not, who do you want to marry?
Still, Mizushima Hiro-sama, hahaha!

6. who will be your bridesmaid & bestman?
Bridesmaid: Kartini, my friends in Chelzea and Vern
Bestman: my band mates in Kira and Wit Ringin
And they cosplaying!

7. do you want a garden/beach or traditional wedding?
garden-traditional wedding, I already booked my bestfriend to do the decoration :)

8. where do you plan to go on honeymoon?
Travelling around Indonesia and south east Asia

9. how many guests do you think you'll invite?
Not planned yet, but I think I should start to make the list, make sure there would be no one forgotten

10. will that include your exes?
Maybe

11. how many layers of cake do you want?
Still, 1 is enough, I don’t really like sweets. I may change it with ‘nasi tumpeng’

12. when do you want to get married, morning or evening?
Not planned yet, that would be my family decision

13. name the song/tune you'd like to play at your wedding?
Gamelan, and jazz...
But I plan to invite my band friends to perform on my wedding, my boyfriend also have a band and I want them play either

14. do you prefer fine dining or just normal spoon & fork? knife?
Not planned yet

15. champagne or red wine?
Neither

16. honeymoon right after the wedding or days after the wedding?
Depends, what do you think, sweetheart? *wink at him*

17. money or household items?
Household items, and future saving, heheheh

18. how many kids would you like to have?
2 or 3

19. will you record your honeymoon in DVD/CD?
Wah..... nice idea

20. whose wedding plan would you like to know next?
Him

Oke-oke, sebenernya ini kuis bodoh yang dulu kuisi waktu masih jomblo, dan ngisinya juga asal-asalan. Eh sekarang juga sih. Yang benerannya biar aku share sama si dia aja. Hahaha… And, ehm, my MP friends, I would like to invite you all to my wedding someday (I still don’t know exactly). So wait for my invitation, friends!

---
Picture credit to Mr. Yuriy and Mrs. Julia Manchik, I envy this couple so much :)
Check out their blog here: mrmrsglobetrot.blogspot.com

Sunday, March 20, 2011

For The Future


In this story called "life",
You are the star of your scenes.
If you're not happy with something,
Go ahead and rewrite it the way you want.

It can't be any fun complaining,
Without doing anything...
C'mon, let's go!!

C'mon, let's fly in that sky once!
Aim for the limit at full speed --
For the future!

(For The Future by Do As Infinity)



Uf…  I’m a bit tired these days. Many things happened this late two weeks, rushing my body and also my mind. Time have no tolerance for the weak body or lazy mind like mine :D hehe! What was happened in my life lately?

I’m sorry I had no time to write a long post before, I just shouted many quicknotes and post several short journals. After the “automatic deletion by my handphone” incident, I suddenly lost my mood to write anything in the blog, especially using that device. And during last week, I didn’t bring my Chou Chou (the notebook pc) while I went to Jakarta and Bandung.

Hahaha... gimana ceritanya tuh aku bisa nyasar di dua kota tersebut? Hm, rasanya kok setelah lulus jadwalku cuma jalan-jalan aja ya... (pengangguran sok sibuk!). Hm, bukan begitu juga sih, sama seperti fresh graduate yang lain, aku juga menyibukkan diri meraih masa depan.

Setelah upacara wisuda, beberapa teman mulai saling tanya-menanya mengenai rencana masa depan satu sama lain. Beberapa ada yang udah jelas (udah dapat pekerjaan sebelum lulus), beberapa ada yang sudah jelas (rencananya), beberapa masih bingung, beberapa masih geje. Mungkin sebagian orang menyangka aku termasuk kategori yang terakhir, sampai-sampai ada yang bilang “Kamu itu pengangguran paling bahagia yang pernah kulihat,” hahaha…

Nampaknya begitu ya? Mungkin aku nampak bahagia, karena apa yang kupikirkan sudah jelas. Jalan mana yang mau aku tempuh dan cara-cara apa saja yang akan aku lewati. Simple banget ya? Nggak begitu juga, semua keputusan dalam hidup ini beresiko dan nggak ada yang mudah. Aku sadar penuh dengan kapasitas yang kupunya ini jalanku nggak mungkin semulus jalan tol seperti makhluk-makhluk yang memakai selempang “Cum Laude” waktu wisuda. Salahku juga sih, kenapa waktu kuliah aku pake acara santai-santai terus. Tapi sekarang juga bukan waktunya buat menyesal, toh nggak mungkin kan angka di transkrip bakal tau-tau berubah jadi 3.51 hanya karena kena tetesan air mata? (iyalah, yang ada juga malah tintanya jadi burem!)

Making decision in life requires deep consideration.

Walaupun aku nampaknya “lalalala~” gini, aku bukan tipe orang yang bisa seenak jidat mengambil keputusan. Terutama keputusan-keputusan penting yang bakal menentukan hidupku bertahun-tahun ke depan. Mau jadi seperti apa aku ini 10, 20, 30 tahun ke depan? Bak bikin masterplan kawasan, aku pun harus bikin masterplan hidupku sendiri.

Aku pernah tanya sama papaku,

“Aku ini hanya cewek yang biasa banget, bolehkah aku bermimpi tinggi-tinggi? Aku tau aku bukan anak kecil lagi yang memang harus bermimpi setinggi langit, aku juga harus liat realita, kondisi eksisting-ku yang hanya kayak gini, apakah bisa menjadi orang hebat suatu hari nanti?”.

Papaku, seperti biasa membalasnya dengan senyum dan memandang mataku lekat-lekat,

“Siapapun boleh bermimpi, termasuk kamu. Siapa bilang mimpi setinggi langit itu Cuma boleh untuk anak kecil? Papa yakin kamu yang sekarang sudah cukup dewasa untuk melihat realita, dan menentukan jalan mana yang akan kamu tempuh untuk mewujudkan mimpimu itu,”.

Aku masih bimbang,

“Tapi, aku ini bener-bener orang yang sangat biasa-biasa saja, bukan seperti Ikal atau Arai yang dari daerah pelosok tapi bisa jadi orang hebat. Aku ini yang begini-begini aja, I think there’s nothing special in me,”.

Papa ketawa,

“Nggak semua orang se-beruntung kamu, Ajeng (romantis ya papaku kalo manggil…), mana ada orang yang seenaknya kayak kamu ini bisa masuk UGM, dan nggak banyak orang yang se-ngeyel kamu ini masih bisa bertahan hidup dari sakit waktu itu,”.

SIAL. AKU NANGIS.

Seketika aku sadar, aku sendiri lah yang menciptakan “tembok” kaca itu, sebenernya segala hal yang rasanya nggak mungkin itu bisa aku raih, kalau aku tidak “mengurung diri” dengan batas-batas yang sebenarnya bisa kurobohkan sendiri. Ah… Aku jadi optimis lagi. Ayo semangat mengejar mimpi! Jalan menuju ujung pelangi itu nggak hanya satu, tapi banyak… widen your sight, jangan persempit pikiranmu sendiri dan menciptakan batas-batas lagi. Suatu hari, aku pasti bisa menjadi professor! Khah khah khah!!!

Aaand, now, I also have someone who trapped himself into a labyrinth named me :D He’s such a kind man. When I shared this utopian dream with my man (long before I decided to get together with him), surprisingly he enthusiastically listened to aaaalll my craps and still didn’t see me as a freak-dreamer-girl.

Why I ended up having a relationship?

Beberapa teman seper-jomblo-an menanyakan keputusanku yang terkesan mendadak ini. Ah, sebenernya nggak mendadak juga, karena proses yang kami perlukan untuk itu nggak cuma dilalui sebulan-dua bulan aja. Juga bukan karena sebelumnya aku galau dan jadi asal maen samber kesempatan aja. As I wrote before, aku bukan tipe yang gampang membuat keputusan seenak jidat. Aku mondar-mandir, kayang-kayang, salto-salto, nggak jelas banget dah hanya untuk memikirkan dia. Bohong bohong, aku nggak bisa kayang dan salto ding :D

After quite long considerations, dan beberapa malam berdoa, akhirnya aku cuma bisa mengatakan, “Sekarang tanggal berapa?” sama dia buat mengatakan “ya” saking saltingnya. Hahaha...

Hanya dengan dia, aku tidak memberikan syarat apa-apa kecuali menyayangi aku, dan nggak berekspektasi macam-macam terhadap hubungan ini. Aku ingin menjalaninya secara natural, walaupun mungkin nggak semuanya akan berjalan baik-baik saja, tapi aku harap bisa melaluinya dengan baik. Kalau dia memang jodohku, hope he’s the one I can draw a future with, and he become the home where I always be back to...


Sunday, December 26, 2010

Souvenir dari Merapi

Oke friends, I wasn’t visiting Merapi area today, but I was about to have lunch in my favorite restaurant Jejamuran, and suddenly my eyes catch such an interesting thing in a souvenir stall around the restaurant.



Yup!!! Menarik kan? Dijual VCD dokumentasi erupsi Merapi 2010. Oke, buat yang nggak tertarik, mungkin akan berpikir ini sekedar memanfaatkan peluang aja dari musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Merapi beberapa minggu lalu. Tapi sekarang Merapi (syukurnya) udah mulai tenang, tapi saudaranya, Gunung Bromo yang mulai bergejolak. Sayangnya berita erupsi Gunung Bromo nggak seheboh Merapi waktu itu, karena ketutup sama hingar-bingar euphoria Piala AFF. Kasiannya…

Oke, back to this interesting piece. Awalnya aku juga berpikiran kayak gitu sih, “Wow, ada juga orang yang menjadikan dokumentasi bencana sebagai souvenir yaaa…,”. Aku berlalu begitu aja melewati lapaknya dan menikmati makan siangku di Jejamuran. Sedikit pamer, menu makan siangku ini bener-bener enak, sampai-sampai aku rela nahan laper di perjalanan dari rumahku di Prambanan sampe ke Sleman, kira-kira 25 km lah, dengan perut udah laper kruyuk begitu sampai di tempat. Mana pake ngantri buat dapet tempat duduk pula. Kruuuk… Sambil nunggu makanan jadi, aku SMS-an sama temenku di Surabaya, ternyata dia penasaran juga sama tempat makan ini. Yup, sesuai namanya, tempat makan ini menyediakan menu-menu dari bahan dasar jamur-jamuran yo ge ge thok. Ada sate jamur (yang paling yummy versi adikku), tongseng jamur (my fave), rendang jamur (my parent’s choice), lumpia jamur, dadar jamur shitake, dan lain-lain yang berjamur (lho?). Silakan membayangkan dan ngiler sendiri. Hahahaha!

Wah, sepertinya aku mulai keluar jalur ya ceritanya. Oke oke, jadi habis kenyang menyantap hidangan berjamur itu (waks!), aku kok tiba-tiba kepikiran sama jualan VCD tadi ya. Kok menarik sekali… Di tengah maraknya wisata bencana di Jogja tercinta, ada juga yang menawarkan souvenir dokumentasi bencana sebagai pelengkap. Komplit sudah!


Antara etika dan informasi

Essentially, aku nggak setuju sama wisata bencana dan sejenisnya, termasuk orang yang nonton banjir lahar dingin di Kali Code. Selain bahaya dan terlalu riskan, rasanya nggak etis aja ya… musibah kok dijadikan tontonan. Beda misalnya kalau sudah agak lama berlalu, ya at least sampai bencananya bener-bener berhenti dan masa berdukanya selesai. Coba bayangkan, lagi panik-panik dan sedih-sedihnya kita ditinggal sanak saudara karena musibah, eh… ada orang-orang yang segar bugar sehat wal afiat dan bahagia datang buat foto-foto dengan latar belakang lokasi musibah plus korban-korbannya, males banget nggak sih? Kira-kira begitu.

Tapi keberadaan si VCD dokumentasi ini membuatku berpikir agak lain. Waktu kutanya sama penjualnya, ini siapa yang bikin? “Ini suami temen saya, dia kameraman yang jadi korban erupsi Merapi, istrinya yang minta tolong saya njualin” ehm, bener atau enggaknya pernyataan itu, tapi aku cukup tersentuh juga. Apa juga tujuannya ya? Sekedar memanfaatkan peluang (yang aku tau ini bakal cuma sesaat) atau emang pengen menyebarkan informasi? Akhirnya mamaku beli VCD ini (FYI, beliau emang kerjanya koordinasi urusan kesehatan saat bencana).



Sampai rumah, kami tontonlah VCD ini bersama-sama. Cukup lengkap juga, mulai dari sebelum Merapi meletus, waktu upacara Labuhan yang dipimpin Mbah Maridjan, evakuasi lansia dan balita, sampai erupsi yang melanda Cangkringan (yang mana kata si mbak penjualnya, kameraman ini menjadi korbannya). Lengkap juga, dan informatif. Salut buat kameraman dan editornya.

Aku jadi mikir, orang Jogja sekarang mulai kreatif ya? Mulai sadar pariwisata, sadar dikunjungi orang banyak, sehingga menimbulkan ide-ide baru buat memasarkan daerahnya. Sebagai (calon) planner, ini bener-bener keren. Selama ini aku selalu berpikir kalau wisata di Jogja itu hanya seperti permen tanpa bungkus, walaupun manis, tapi nggak menarik buat dibeli karena kemasannya kurang meyakinkan.

Apakah kemasan wisata itu?

Wisata nggak hanya bisa dijual obyeknya. Ambil contoh wisata alam Merapi. Bagi kalian yang pernah berkunjung ke Kaliurang dan sekitarnya, disana ada gardu pandang, ad ataman bermain, ada museum, ada vila-vila, ada tempat makan, dan lain-lain. Itu baru kemasan fisiknya. Atraksi lainnya? Seingetku sih ada pertunjukan Jathilan setiap hari Minggu, terus ada juga wisata kuliner jadah-tempe, trekking, dll. Tapi sayang, apa sih yang bakal kita bawa sebagai cenderamata dari situ? Yaaah… kadang ada juga sih yang jualan foto-foto Gunung Merapi, atau bunga edelweiss kering, tapi kok kayak kurang ada touch-nya gitu…

Nah, VCD ini bisa jadi cinderamata yang cukup menarik buat melengkapi “kemasan” itu. Dengan harga yang cuma 25.000 rupiah, penonton bisa dapat informasi dokumentasi lengkap mengenai erupsi Merapi yang paling menghebohkan satu dekade terakhir ini. Isinya komplit, walaupun secara sinematografi rasanya kayak nonton acara mbangun deso di TVRI tahun 90an, bukan kayak nonton dokumentasi ala Metro TV atau TV One. Tapi secara konten, saluuuut… video ini nggak se-lebay yang di tipi-tipi, walaupun esensi ketegangannya masih kerasa.

Here’s some caps of the movie

Ritual Labuhan yang dipimpin Mbah Maridjan (kiri) dan proses evakuasi sebelum erupsi (kanan)

Proses evakuasi lansia dan balita

Detik-detik sebelum letusan Merapi

Desa Kinahrejo dan sekitarnya setelah erupsi Merapi

Oke friends, bagi kalian yang berminat, silakan datang ke Jejamuran dalam waktu dekat ini. Soalnya aku nggak tau, apa dia masih jualan disana atau nggak kalo kalian kelamaan. Sebenernya aku bisa aja sih ngopy, tapi kok ya… nggak tega aja mbajaknya. Hahaha…

Saturday, December 25, 2010

I'm in Fashion


I’m not a fashion blogger, actually. Though I love to post my photo with different clothes, or following many different fashion blogs, and some of friends said that I’m kinda stylish in campus. Huahaha…  In fact, I don’t really care with the way I look, and you know what, I can wear the same outfit in the same week. I only have few daily clothes in my wardrobe.

How I describe my style…

Basically, I’m a department store girl. When girls at my age loves to shop in boutiques or special clothing stores that only sell one item for one piece of dress, so there’s no one else have the same clothes as theirs. But me? I ever met my friend wearing the same outfit as mine in my campus, and we just laughed together!!! For me, it doesn’t matter that someone else wearing the same cloth as mine, because it will always look different, depend on who wore the cloth and how they wore the cloth ;)

Couple years ago, I loved to be a very-different person, look strange or weird was my fashion statement. I loved to wear mini skirt over the pipe jeans trousers, or tied pashmina around my belly. Sounds weird, huh? Yeah. I thought that mainstream fashion is only for people who have more money to buy that (damn) good clothes, and feminine character. Me? I’m not that rich to afford the clothes, I was a (very) tomboy girl and had no taste on fashion at all. I didn’t really like grooming, not even wore good looking clothes or put any make ups. I thought it made me look natural and honest, not hiding anything underneath the clothes or make up.

Lately, I become more paying attention of my look. My father said, “Good grooming represent that you have good respect of yourself. So, grooming well, and people will respect you,”. That’s really changed my mind about fashion. Fashion is a part of good grooming, and if you could see wider, fashion is not about wearing an expensive exclusive branded clothes, but it is how you wear even an ordinary or unbranded clothes to be look good and fit on you, your body and your character. Also, comfy is a must, no bargain.

I prefer to be look very simple and casual for daily activities: going to campus, survey, etc. I look just like any other girls in campus, with shirts, jeans, jacket, canvas shoes, and glasses. Very ordinary. My mother told me that a girl should put any accessories to complete the look, so I also wear accessories, such as earrings, necklace, bracelets. I only wear two rings in my sweet-fingers (anyone know what is “jari manis” in English??), one in the right is from my mother, a small sparkling ring, and one in the left is a silver ring I bought in Bali when I was in high school. Usually, I didn’t put any make ups on my face, only few touch of powder and lip balm. My sister puts full make up every day, and she also teach me how to use make up, especially eye-shadowing and eye-linering, I always weak on doing it.

My daily outfit, I put batik outer top to give unique touch


For special occasions, actually I love traditional fabrics, especially batik. A while ago, I loved batik hunting with my girl-bestfriend, looking for new and fresh designs, and then take it to the tailor. My favorite tailor is actually my driver’s wife, so I could get the very cheap charge, yay!!! *bounce bounce* So now, I have more semi-to-formal clothes in my wardrobe and not much worry when I have to attend some semi-to-formal events. Besides, I now also love to wear pretty shoes. Remember, in one episode in Hana Yori Dango/Meteor Garden/Boys Before Flower, there’s a nice quote about shoes, “Beautiful shoes will take you to beautiful place,”. For shoes partner, there’s one of my favorite fashion item, stocking. I don’t know, I feel uncomforted, especially when I wear short skirt, without a pair of stockings. Make ups? As usual, I adjusted it with my dress tone. I also make experiment in eye-shadowing. Again, my sister teach me how to use it correctly. How can she become so good-skilled in make up? She learns (and inspired) from Michelle Phan, a young make up artist.

I love batik and any Indonesian traditional clothes <3


I love earthy colors, like terracotta orange, soil brown, or leaf green, plus sky blue. Solid colors I loved is white. But why I put “pink” in my blog name? Because my sister ever told me that I look good in pink, oh really? LOL. Yup, I have too many pieces in earthy color. I don’t know what influenced me. Some said that Taurus is fitted in that earthy colors, I’m quite sure, in fact, some of my Taurean friends also love these colors and they look good on it.

I love this outfit the most! Earthy color, simple and comfort


My inspiration on fashion is come from many sources, books, magazines, fashion blogs, cosplay, etc. I’m not strictly fixing on my style in one style like vintage or modern or edgy or retro or you-name-it etc. My personal fashion statement is simple and a bit unique, whatever the style-name is. But the most important is… COMFORT!

Hahaha, I laughed after finish edited this picts, I looks like zooming my size :D


Here’s some of my favorite inspiring bloggers, I don’t make any border or theme, but I’m sure you will know how my personal taste is. Enjoy blog walking and get inspired.


PS: also check out  me and my sister’s blog Sosweetan, thank you!

My final presentation (Insya Allah) would be held on December 29, please wish me luck, friends!!! <3 love you all!

Tuesday, November 30, 2010

I Do Like Wedding!

I do love to attending wedding ceremonies, family, friends, or parent's friends. I like the grooming ritual before coming to the venue, wearing dress or kebaya (Javanese traditional female cloth). Kinda sounds silly, isn't it?

Some of my friends hate to attending the wedding because it sounds soooo old-fashioned, and so did I, few years ago. But as I grown up, and some of my friends, cousins, and even my ex boyfriend) are getting married, I started to love attending wedding ceremonies.

My mother always told me that to attend wedding I must wearing good clothes, and put a bit more make ups (since actually I only put few make up touch in my daily life). Firstly, I really did not comfort with the long kain (skirt), make ups and the worst part is high heels footwear. Uuuh, they really make my leg sick!!! But now, I don't know what happen in me, I enjoy the grooming, make up, the dresses, and even the footwears.

God, I now glad become a woman rather than a man. Hahahaha... FYI, I actually am a tomboy girl ;)

This is how I look in my cousin's wedding. I wore an off-white tulle kebaya and maroon batik kain :

Me(yes, like in the post below...)

Me and my sister

Me: off-white kebaya/tailor made, maroon Maduranese batik kain/my mother's collection, heels/Bellagio, rattan bag/random shop in Banjarmasin
My sister: off-white kebaya/tailor made, dark brown Maduranese batik kain/also my mother's collection, shoes/mother's belonging, rattan bag/random shop in Banjarmasin.


And here is the happy newlywed couple:



Visit also: sosweetan

Friday, November 19, 2010

Cheating-Jealousy Boundary?

Hay friends! Though it’s a bit late, Happy Idul Adha!! My Idul Adha day went so so so weird, me, my sister and my cousins woke up late, and when we walk to the temple parking lot (where shalat Id was held), it’s already started. So we made it in 2nd day, and took place a bit further from my house. Wew.

Oh ya! Kalian masak apa di rumah? Kalau aku sendiri masak rawon, and honestly, this is the first time I cooked it, and it went good, at least for me, my sister and 2 cousins, hehehe.. and at least there were no one poisoned or something with my cook. Yatta!


Ok, but today I will not talking about Idul Adha, the cook or goat or anything (you name it). Baru sekitar sejam yang lalu aku di-SMS salah seorang teman wanitaku, “Aku bingung sama ni cewe, yang masih PM-an sama pacarku, lebih herannya lagi pacarku kok khawatir sama dia, padahal sama aku lempeng-lempeng aja waktu kuceritain soal Merapi,” he? What the hell is that? I’m so sorry that I cannot make any good advises, aku sendiri sudah lama nggak mengalami urusan yang begini, neither relationship nor jealousy or something like that.

Sebenernya sampai mana batasan yang layak untuk “dicemburui” dan sampai mana batasan untuk dibilang “selingkuh”. Aku sendiri masih rancu. Personally, I’m a person who is not easily got jealous, but sometimes, in several circumstances, I could get jealous for unexplained silly reasons. Sekedar pergi sama cewe lain, entah mantan atau temen, it’s ok, but for any intimate feeling? I can’t stand with it. Tapi bukan serta-merta aku akan menuduh pasanganku selingkuh atau kenapa-kenapa, terus main ngelabrak si wanita, dengan kasar maupun halus, menghabiskan tenaga aja!

“I think you should clarifies it with your boyfriend,”

“Wedyaaan! Aku nggak sanggup nanyanya, aku nggak mau ribut,”

“So deal with it then,”


Haruskah begitu? Jealousy is such a confusing dilemmatic feeling, di satu sisi kita nggak mau dikira cemburuan, di sisi lain yang lebih dalam ada perasaan nggak nyaman yang meliputi. How to synchronize them? Sungguh, perasaan bertahan dengan ketidaknyamanan itu bisa mengganggu seperti setan kecil yang akan terus-terusan membisiki memanas-manasi hati. Tapi idealisme jelas-jelas nggak akan mengijinkan untuk melakukan hal se-childish itu, cemburu itu hanya terjadi di hubungan yang nggak dewasa, nggak bisakah kamu lebih bijak untuk menyikapi ego-mu? Oke, bisa dibilang ini jadi perang batin. Oh…

Mungkin…batasan itu adalah “elastic boundary”, yang mana setiap orang mempunyai batas limitnya masing-masing, yang harus dimengerti juga oleh pasangannya. Batas toleransiku terhadap jealousy mungkin segini, tapi buat orang lain segitu. Everyone has their own limit.

Tentukan sendiri batasmu, teman, kalau memang menurutmu itu sudah keterlaluan, kenapa nggak dikomunikasikan aja. Kasih pengertian ke dia kalau kamu bukan sekedar cemburu buta, tapi pakai pikiran bukan sekedar emosi, dia harus tau sampai dimana batasnya hatimu bisa menerima sikap dia terhadap perempuan lain, prinsipnya kalau kamu nggak bilang ya nggak akan ngerti dianya. Kalaupun dia menganggapmu nggak dewasa dan nggak bisa mengerti dia, justru dia yang salah, karena kamu sudah mengatakan apa yang kamu pikir dan kamu rasa, dan kamu nggak se-childish itu karena nggak gegabah untuk memutuskan mengatakan sama dia, karena KAMU PERCAYA PADANYA!

Tuesday, September 7, 2010

“Sorry” Seems to be the Hardest Word

Nope, I've just found out that “I miss you” was harder to say than it. But what I would write today is not about it.

Ramadhan already reach its 29th day, and I feel like to extend it more.

My life changed so suddenly lately. In a month, I have to fix some life problems I should have fixed before I met someone. But what destiny written is somewhat different with what I had planned before… All ruined.

As time passes, I learned a lot. How to handle this or to control that, tried to solve many things in one time was so tough. But still, there are stuffs I can’t manage well. Thanks to all the problems, I now understand that happiness is something to reach not to be waited.

Bulan Ramadhan kali ini sungguh special buatku. Segalanya nggak berjalan mulus, beberapa menyakitkan, dan beberapa terasa sangat sangat berat. Bingung harus melangkah kemana dan bagaimananya. Dan karena ini Ramadhan, jadi aku harus berusaha lebih banyak “merayu” Allah untuk membuatku kuat menghadapi masalah. But more I asked for strength, more problems given. Though I cried all night long, those problems wouldn’t get rid. Dan aku mulai sadar, I have to struggle to solve all one by one. Nggak perlu terburu-buru, karena setiap masalah punya timing-nya sendiri untuk terselesaikan.

Ketika cinta yang kuharapkan nggak berjalan seperti yang kuinginkan, dan aku jadi merasa sendirian, di waktu itulah orang-orang yang sayang padaku datang menawarkan dirinya, sekedar menemaniku ngobrol, jalan-jalan, curhat-curhatan, bahkan membantuku ngerjakan TA. Oh… really, I feel like I had wasted these nice people for all this time… When I fall, they encourage me, help me, and make me laugh again. I couldn’t write down their name one by one, but I want them know how grateful I am they’re exist around me. I’m so blessed having you all!

Setelah bulan ini berlalu, semoga semuanya berjalan baik kembali. “I haven’t achieved anything for this late three months,” I said to someone 5 months ago via YM chat. Tapi sekarang aku harus mencapai sesuatu, either love or academic stuffs. Eh? Love? I think I already get it now, in different form, though, but I really thankful for the love and trust I got from people around me. Academic stuffs? For now, I promise myself, and friends who helped me, I have to make it true!

And… tomorrow is my beloved sister’s birthday. Yay! Her birthday is celebrated by takbir. Plus, she already got A for her thesis. おめでとう、Chom! HAPPY BIRTHDAY, may you always healthy and happy, you know I love you much. You always become my spirit to be a better CC for you /kis.

I’m off for leaving to East Java during Lebaran days…

watch my steps...

Selamat Idul Fitri 1431 H, Minal Aidzin wal Faidzin

For everyone, I’m so sorry for mistakes I’ve made…  may we back to fitrah again, like a blank paper. And from now on, let’s start fill the paper with many good things!

Happy holiday! Don’t forget to bring me gift from your hometown, friends!

PS: Read this also.


Tuesday, August 17, 2010

In Love,...

こんにちわ みんな!

Hay hay. Lama tak berkabar, banyak hal yang terjadi padaku. Satu, aku kena sakit radang tenggorokan parah, yang bikin aku harus “merelakan” untuk nggak menjalani puasa di minggu pertama Ramadhan, hiks. Dua, banyak hal yang sedang kupikirkan.

Berapa kali aku pernah jatuh cinta? Ah, itu nggak penting. Tapi berapa kali aku pernah berada dalam sebuah relationship.

“Falling in love is easy but STAYING in love requires work,”

Quote ini bukan baru-baru aja kudengar dan kupikirkan sih, tapi rasanya memberikan porsi otak buat memikirkan ini ya baru sekarang.

Relationship terlama yang pernah kujalani, 5 tahun lalu, selama 4 tahun. Dari SMP sampai kuliah. Jyah… what a monkey love is thattt! Tapi aku kagum terhadap diriku sendiri waktu itu, kok bisa ya aku bertahan dengan satu anak laki-laki itu saja selama bertahun-tahun. Padahal dia itu cueknya bukan main! Di usia itu seharusnya aku lebih emosional dan bisa banyak menuntut, seperti, “Kamu kok sebulan ini nggak telpon sih?” atau, “Kamu latian ngeband kok nggak ngajak-ngajak aku sih?” masalah kecil yang bisa dibesar-besarin buat berantem. Tapi kok aku enggak ya waktu itu. Walaupun hasilnya, aku emang selalu dicuekin. Dan aku baru tau bahwa dia nggak cuek ketika kami putus, dan dia nulis message di blog lamaku, “Aku bener-bener cinta kamu…,” OOOHH…

Setelah itu, aku beberapa kali jatuh cinta, dan dua kali pacaran. Keduanya cuma bertahan satu setengah tahun. Aku mencoba buat lebih terbuka terhadap apa yang aku rasakan. Kalau ada yang membuatku nggak nyaman, aku bilang saja, walaupun untuk bilang itu... butuh waktu lama buat memikirkannya, “Penting nggak sih aku omongin?”. Tapi kok rasanya pasangan-pasanganku itu enak nian ya kalo complain soal aku, macem-macem, kayak nggak dipikir dulu. Eh giliran aku yang complain, lho lho, kok malah balik aku yang jadi salah *melongo*.

Kok selalu begitu ya? Kayak aku ini sarangnya salah.

Aku kangen punya hubungan pacaran yang sederhana, serius tapi santai kayak dulu itu. Kenapa aku sekarang malah jadi sering ribet ya? Aku bukan tipe yang bisa marah-marah dengan santainya, yang kayak kuliat temen-temenku, kok kayanya suantaiii gitu marahin pacarnya yang “cuma” telat jemput 5 menit. Padahal aku yang sudah 2 jam membeku di lab computer nungguin si dia tanpa kabar, mau manyun dikit aja kok rasanya salah ya. Tapi aku nggak mau buat nahan-nahan hal yang bikin aku nggak nyaman dalam sebuah hubungan, at least dia harus tau kalau ada sesuatu yang membuatku nggak nyaman dalam hubungan yang dijalani, daripada seperti mengulum bom waktu yang bisa sewaktu-waktu meledak. And I know, it’s really terrible if it’s happen.

Cinta itu memang perasaan yang unik, yang bisa mengendalikan hubungan dua orang manusia dengan cara yang aneh. Indikator bener-salah dalam cinta itu absurd. Kadang yang kita bilang salah bisa jadi bener, yang kita bilang bener bisa jadi salah. Semuanya serba nggak jelas. Dan semakin aku besar malah semakin bingung.

“Jangan dipikir, jalani saja,”

Jalani saja? Satu hal yang paling aku takut dari cinta adalah kehilangan. Sakitnya bukan seperti ditusuk ribuan sembilu, tapi kaya separuh nyawa dihisap ke dalam lubang gelap dan badan seperti kosong. Kalau di New Moon diilustrasikan Bella Swan menderita halusinasi parah, ya seperti itu juga yang terjadi sama aku. Rasanya jadi nggak niat ngapa-ngapain kecuali nangis, mikirin dia, dan melakukan hal-hal untuk memperpanjang hidup (bernafas, makan sedikit, dan mandi kalau mood). Tapi memang sudah takdirnya seperti itu, kalau berani mencintai harus berani kehilangan. Simple kan (ngomongnya)? Pada kenyataannya nggak se-simple itu.

Dari beberapa kali bercinta (menjalin relationship), semua punya ending yang nggak enak, putus. Dan yang bikin aku makin gigit jari, rasanya mereka semuanya sekarang bahagia-bahagia aja tuh tanpa aku. Huff… pikiran desperate aku, “Kenapa ya, aku lagi-lagi bukan menjadi yang dipilih?”. I fought for love, for the relationship, but there’s no equal reward for me. They keep away from me, doesn’t really care about me or even regret that they had hurt me. Aku pikir buat apa aku (saat itu) berjuang kalau akhirnya aku hanya disia-sia (lagi)?

Seseorang pernah bilang, “Kalau menjadi pencinta, kamu itu hebat, tapi tidak buat dirimu sendiri, sesekali bebaskan dirimu dalam cinta,” jujur aku nggak tau maksudnya. Selama ini aku terlalu takut buat kehilangan, dan itu yang membuatku selalu berpikir aku akan kehilangan ketika mencintai lagi. Dan kalian tau, kekuatan pikiran akan mengendalikan segalanya. Kalau aku berpikir akan kehilangan, aku pasti akan sungguhan kehilangan. Lagi, lagi dan akan terus begitu. I think I should change my own way of think. Harusnya aku lebih menengok ke belakang, dan lebih santai dalam menjalaninya. Nggak selalu hal yang bikin nggak nyaman itu harus di-blow up, mungkin lebih baik disimpan sendiri dan menyamankan diri sendiri. Dan yang terpenting, mencintai diri sendiri, dengan begitu akan lebih banyak energi positif yang bisa di-share, nggak hanya dengan pasangan, tapi juga dengan lingkungan sekitar.

Ahh… Kali ini aku harus mencoba untuk berpikir, aku nggak akan kehilangan lagi. Aku ingin melakukan yang terbaik. Jika memang bukan takdirku, aku nggak akan merasa sia-sia, karena aku sudah berusaha. “Aku dan cintaku pantas untuk dipilih dan dipertahankan,”. Sebenarnya cinta itu menyenangkan, though it’s hard or painful.

There’s nothing you could get without struggle, isn’t it?


aku4

Sorry for always troubling you
We spent so much time
The memory of our days together are building up
I would like to present this clumsy song for you
"I like him so much!" I will swear to God
I will keep holding your hand

As long as I have my voice
I will always sing my love by your side

(Ai Uta by GReeeeN)