Showing posts with label jogja. Show all posts
Showing posts with label jogja. Show all posts

Tuesday, October 4, 2011

Merapi Visit




Hello fellas!

Actually this should be a long time ago post, but I am so sorry I just catch the mood to post this now. Hihihi... It belong to my after graduate project White Canvas Shoes that I planned to visit many interesting places in the world, especially in my home town Yogyakarta.

After the big volcano eruption in the late 2010, Merapi settlement area became devastated, almost all houses damaged, and many people died (for unnecessary reasons, in my opinion, because there was a lot of warnings long long before the lava and hot cloud strikes the village). But people activity in Merapi now still running and developing to be volcano tourism destination. Kinda love this new attraction of Yogyakarta tourism, but still a bit afraid of the risk in the area.

These pictures included my first trip to Merapi after the eruption on April 16th 2011, and the second trip to the temporary shelter on June 25th 2011. I felt sad when I visited the damaged houses, and a bit spooky, it feels like every single thing left in the houses can whisper...

Monday, February 7, 2011

Alongside Selokan Mataram to Where the Flow Started

“Someday, after I finish this mess all, I will come to where the flow started!”
That was my promise when I still worked on my final project.



Setelah semuanya selesai, SKL juga sudah di tangan, tinggal menunggu ijazah dicetak dan kucir di toga dipindah, aku pun memutuskan untuk memenuhi nazarku itu. Yup, mengunjungi hulu Selokan Mataram. And here’s my journey!

Pagi-pagi, hari Jumat tanggal 4 Februari 2011 jam 4:30WIB, aku, yang sejak semalam udah susah tidur saking excited-nya, sudah mandi, shalat subuh dan siap-siap berangkat. Tapi nungguin hampir sejam kok temenku belum datang juga, jadinya malah ketiduran lagi deh. Hahaha... :D

Akhirnya jam 6 dia datang, dan kami langsung tancap, “Yuk langsung kesana!” kataku penuh semangat. Rute hari ini adalah: dari rumahku di Prambanan (Kabupaten Klaten, Propinsi Jawa Tengah) – Ring Road Barat (Kabupaten Sleman, Propinsi DI Yogyakarta) – Kali Progo (perbatasan DIY dengan Kabupaten Magelang, Propinsi Jawa Tengah), it means hari itu kami bakal membelah Jogja secara melintang. Hahaha!

Baru sampai di perempatan sebelum fly over Janti, kok tiba-tiba kami ngerasa lapeeer banget. Langsung belok kanan, di Babarsari ada tempat makan lontong sayur yang mak nyuss (lupa namanya, pokoknya di depan Sego Penyetan). Slurp slurp. Wah, enaknya, energy recharged, siap berpetualang!

(Our breakfast menu: lontong sayur!)


Perjalanan kami lanjutkan. Walaupun judulnya menyusuri Selokan Mataram, tapi kami memutuskan untuk memulainya dari perpotongan dengan Jalan Ring Road Barat. Kenapa? Karena aku udah eneg ngeliatin Selokan Mataram di dalam Ring Road yang jadi obyek TA-ku :P Lagian aksesnya lebih enak langsung ke Ring Road barat, kalau lewat jalan inspeksi, jalannya kecil dan rame banget di dalam kota.

Dari Ring Road Barat, begitu nemu perpotongan dengan Selokan Mataram, langsung belok ke kiri aja, lewat jalan yang sisi selatan. Why south side? Soalnya di sisi selatan itu udah dibangun jalan inspeksi, jadi jalannya lebih jelas. Walaupun ke belakangnya jalan inspeksi ini bakalan terputus di beberapa bagian, entah kenapa.

Di perjalanan susur selokan itu, kami sempat berhenti di beberapa spot yang (menurutku) menarik. Lucunya, kami pertama berhenti buat foto-foto malah di jembatan pertama yang ditemui, and you know what, the bridge is sooo scary! Kecil, kurus, dan nggak ada pegangannya. Tadinya sih mau sok-sokan poto di tengah jembatan itu, tapi aku takuuut! Hahhaa... temenku yang tadinya juga sok berani, baru beberapa langkah lebih jauh dari aku dia takut juga, yes! (senyum licik penuh kemenangan)

(On the scary scary fragile bridge)


Kami lanjutkan perjalanan ke arah barat dengan tingkat antusiasme tinggi. Dan semakin ke barat aku semakin disorientasi, udah sampai daerah mana ya kami (lupa bawa peta dan kompas). Tau-tau aja, jalan inspeksi udah nggak ada lanjutannya. Gimana ini? Aku tanya sama penduduk sekitar, “Pak, nek liwat mriki pripun, tembus pundi nggih?” (Pak, kalau lewat sini gimana, tembus kemana ya?). “Teras mawon mbak, mangke tembuse Kali Krasak,” (Terus aja mbak, nanti tembusnya Sungai Krasak) jawab si bapak. Waa? Udah deket Kali Krasak? Padahal kalo orientasi perpetaanku nggak salah, Kali Krasak itu juauuuuh... ini dalam waktu sekitar setengah jam dari Ring Road tadi (plus poto-poto) kok udah nyampe Kali Krasak aja. Ckckck...

Mendekati Kali Krasak, jalannya MENGHILANG! Adanya cuma jalan semen selebar 1 meter, itupun bawahnya langsung saluran Selokan Mataram. Oh wew... Tapi kami lewatin aja pake motor, walaupun harus ekstra hati-hati. Ternyata nggak sampai 100 meter udah nyampe ke Kali Krasak.

(Suddenly the road disappeared and transform into this :S)


Kami pun berhenti sebentar di situ, dan... ehm, photo session si kucing pink dimulai kembali. Hahaha, narsis mode on. Aku difoto bak fotomodel aja, disuruh gaya, di bendungan pula. Kurang kerjaan banget kan? Mana sebenernya aku (lagi-lagi) takut disuruh ke pinggir bendungannya, soalnya tu bendungan tinggi dan di bawahnya langsung selokan. Hyaa!

(Actually, I was scared of the height)


Dari Kali Krasak nggak bisa nyeberang langsung buat ngikutin Selokan Mataram, jadi kami muter dulu ke selatan dan ngikutin dari pinggir jalan (akhirnya ketemu jalan aspal lagi, hore!). Dari situ kemudian kami pun bertemu dengan bangunan landmark lainnya, yaitu pembagi air antara Selokan Mataram dan Saluran Van der Wijck. Ya, kalau Selokan Mataram alirannya ke barat menuju Sungai Opak, maka Saluran Van der Wijck ini mengarah ke selatan menuju Bantul (entah dimana hilirnya). Banyak yang bilang kalau dari pembagi air inilah hulu Selokan Mataram. Tapi kalau menurutku, kalau dilihat dari bangunannya, ini sih hulunya Saluran Van der Wijck, soalnya Selokan Mataram itu alirannya menerus sedangkan Van der Wijck itu alirannya dari Selokan Mataram. Once more, it’s only my opinion.

(Canal Van der Wijck)


Di sekitar pembagi air ini, pemandangannya hampir mirip dengan suasana persawahan di Bali. Dengan sawah yang semi bertingkat dan Pegunungan Menoreh sebagai background-nya. Hm, rasanya buat ngerasain suasana Ubud bak Elizabeth Gilbert (EAT PRAY LOVE) nggak perlu lah jauh-jauh ke Bali. Hehehe…

(Bali-ish rice fields view)


Lagi-lagi, semakin ke barat jalanan mulai nggak jelas, walaupun udah aspal, tapi lubang di sana-sini, berasa off road deh! Dan tau-tau kanan-kiri udah hutan, lengkap dengan bunyi tonggeret-nya. Wah... a bit spooky sih (aturan tidak tertulis, kalau masuk hutan lebih baik nggak usah ngomong atau bahkan mikir macam-macam).

Tiba-tiba selokannya menghilang begitu masuk ke dalam terowongan. Katanya sih selokannya melewati bawah desa. Wow, what an amazing construction it is! (amazed). Dan kami pun sempat kesasar di dalam desa tersebut karena bingung kemana tembusnya itu selokan. Setelah tanya ke beberapa orang, akhirnya ketemu juga sama tembusan selokannya. Waaah, kaget juga, sekaligus kagum, hebat ya, ternyata ada bangunan air dengan konstruksi sedemikian keren di Jogja.

(Beautiful classic style bridge)

(Terowongan air menembus desa)


Di samping Selokan Mataram, kami mendengar aliran air yang deras sekali, dan kami pun berhenti sejenak. Yap, itu Sungai Progo. Alirannya deras bukan main, dan nggak kebayang kalau main arung jeram di situ, sepertinya bahaya. Hehehe. Baru asik foto-foto, rasanya kok ada titik-titik air membasahi. Aaah, grimis. Lanjut atau cari tempat berteduh nih? Kami pun milih nekat melanjutkan perjalanan, dan benar saja, cuma sebentar gerimisnya!

(On Progo River side)


Dan ternyata, nggak jauh dari tempat kami melihat aliran Sungai Progo itu, sudah sampailah kami di tujuan utama: Bendungan Karang Talun, HULU SELOKAN MATARAM!

The view there was really breath-taking!
Or I just was being melancholic in time.

Aku hanya duduk, bengong sebentar, dan memotret bendungan itu dari banyak angle. Dari situlah aliran air Selokan Mataram itu dimulai. Saluran air bersejarah yang dibangun dari ide brilian Sri Sultan Hamengkubuwono IX, dengan niat yang mulia untuk menyelamatkan rakyat Yogyakarta dari romusha dan mensejahterakan kehidupan rakyat dengan alirannya yang mengairi ribuan hektar sawah di Yogyakarta. Seperti kata Sunan Kalijaga, yang mana jika Sungai Progo dan Sungai Opak “dikawinkan” maka rakyat Yogyakarta akan sejahtera. The history was one of my reasons why I make this masterpiece as the object of my final project. Ah, yup, I was just being melancholy...


Setelah puas jepret sana-sini, dan gegayaan narsis, akhirnya kami pun memilih spot yang nyaman buat membuka bekal makanan yang kami beli tadi sebelum berangkat, minuman kaleng dan sebungkus wafer. Lagi asik-asiknya menikmati bekal sambil bercanda dan melihat foto-foto, eh... mata kami meng-capture beberapa pasangan “mbojo” di atas motor! Dan karena perbatasan Propinsi DIY dan Jateng itu adalah Sungai Progo, kami pun melakukan permainan bodoh: menghitung pasangan mbojo yang ada di sekitar situ. And the result is... pasangan mbojo di DIY lebih banyak daripada di Jateng, dengan rasio yang mendekati 50:50. Nggak penting banget! Hahahaha! :D

Perjalanan pulang, niatnya kami mau lewat jalan besar yang lewat desa-desa atau kota sekalian, buat ngerti aja kalau pake jalan normal (bukan off road) lewatnya mana. Tapi kok malah muternya jadi jauh. Begitu nyampe di Kecamatan Sayegan (Kabupaten Sleman), kami pun berbelok, mengikuti jalan inspeksi lagi. Hahaha, jalan itu memang short cut buat perjalanan antar propinsi ini deh!

Overall, perjalanan ini sangat menyenangkan dan exciting. Dan nggak kerasa jauh, walaupun pantat agak tepos juga waktu melewati jalan-jalan off road yang becek dan konturnya nggak karuan. Biaya perjalanan ini? Hanya dikeluarkan untuk beli makan-minum, bekal, dan yang terpenting bensin yang cukup untuk perjalanan yang memakan jarak kurang lebih 35 Km ini, bolak-balik. Nggak keren lah kalau tiba-tiba mogok di hutan atau di tengah persawahan gara-gara kehabisan bensin! :D Bagi kalian yang lagi pingin jalan-jalan country side buat weekend, jalan-jalan menyusuri Selokan Mataram bisa jadi pilihan, seru lho!!!

Happy journey!

(Fin)


More photos are here.

Alongside Selokan Mataram To Where the Flow Started




Pictures of Selokan Mataram Trip, Friday February 4th 2011.

Complete story here: http://nekopinku.multiply.com/journal/item/202/Alongside_Selokan_Mataram_to_Where_the_Flow_Started

All pictures here were taken by me with the Big Boy (P7000) and my friend with D5000. We both are still practicing photography, we're welcome for your opinion if there's any technical advises :)

Enjoy the photo-tour. Thank you!

Museum Affandi




Hey people! Last Wednesday (Feb 2), me and my best friend Kartini visited Affandi Museum. Yes, Affandi who is one of the most famous painting maestro in Indonesia.

This museum is located in Jl. Laksda Adi Sucipto 167 Yogyakarta - Indonesia (about 10-15 minutes by car/motorcycle from Adi Sucipto Airport). This museum is actually Affandi's family house. In June 9, 1988, this gallery was officially opened for public. It's architecture is unique, somehow its roofs looks like banana leaf.

Last time I visited this museum when I was about 9 or 10. Nowadays (13 years later), I think the museum is now maintained well, and internationally standardized. But, I think the entrance charge (IDR 20000) is too expensive for us, local student visitor. I think it would be good if there is difference between foreign and local visitor for entrance charge :D hehehe! Ah ya, the charge is include free drink in the cafe as compliment.

Visitors are not allowed to take photos inside the gallery. I don't know, it is only in 1st Gallery or all galleries, because in 2nd and 3rd Gallery there's no one (and even cctv) monitored us inside. If our hearts let us cheat, I will take photos as much as I can inside the gallery.

For more info, click www.affandi.org or call +(62)-274-562593

Here's our pictures in the museum surroundings. Enjoy!

me in cream batik
(Me, in tailor made cream batik one piece dress.)

Thursday, October 28, 2010

What A Day?!!



きょうはほんとうにたのしかった!!!
Yup!! I was so bored today, my mood to work on my final project was gone almost completely. And suddenly an idea come up when my driver was about to take my mother’s shoes in around Kraton. “Hm, why don’t I visit Tamansari and walk around it, it sounds so fun,” I thought. Then, I went there, to Tamansari Water Castle!

Hehehe… kurang kerjaan banget kan? Tengah hari buta, matahari panas ngenthang-ngenthang, dan sendiri pula. Geje abis! But basically I love to do this, jalan-jalan sendiri di tempat yang (menurutku) menarik, mengamati apa saja yang ada di situ, dan memikirkan segala masalahku sambil jalan. Ah… sebenernya hanya ada satu masalah kok dalam hidupku akhir-akhir ini, masalah akademik!!

Huff… setelah kemarin pra pendadaran malah dapet tugas seabrek, akhirnya aku kambuh lagi deh penyakit malesnya. Mood tiba-tiba hilang, dan tiap hari rasanya ngantuuuk… seperti diserang ribuan lalat tse-tse!!! Dan waktuku tinggal 2 minggu lagi sebelum ujian yang kemarin dinyatakan expired *sigh, sigh, sigh*.

stepping on

Oke, back to Tamansari. Yap, as you know, Tamansari is one of those famous touristic site in Yogyakarta. It’s quite a long time I didn’t visit this place since 2 years ago. And voila! This place changed a lot. Mulai dari Pasar Burung yang dipindah ke Dongkelan, dan beberapa pemugaran di sana-sini. Bagus sih, tapi feel-nya jadi beda aja. Dulu atmosfernya “reruntuhan” sedangkan sekarang lebih ke “almost finished hall”. It’s okay, soalnya dulu di mata kuliah Preservasi dan Konservasi Kawasan Kota aku dan kelompokku pernah bikin tugas rencana kawasan ini, dan sekarang mendekati persiiiis banget dengan yang kami buat di tugas.

Yang membuatku senang, kawasan ini makin lama makin tertata dan “sadar wisata”. Dulu cuma seadanya banget, sekarang terasa lebih berseni. Beberapa tembok rumah yang dulunya lusuh, sekarang meriah oleh mural motif batik dan pewayangan. Sumpah, aku sampai terperangah aja lihat ada “warna-warni” baru itu. Tapi aja juga beberapa bagian yang masih “kampung” banget, itu menambah sensasi sendiri jalan-jalan ini. Ada juga tembok-tembok lama yang warna catnya sudah memudar, malah membuatnya makin artistik. Entahlah aku berlebihan atau enggak dalam menilainya, soalnya aku yang jalan-jalan hari ini lebih banyak pake feeling sebagai “orang stress yang lagi butuh pencerahan” ketimbang sebagai “calon urban planner” (would I be an urban planner, actually?). Yang jelas, rasanya aku pengen banget membawa adikku yang cantik itu, dipakein baju yang keren, foto-fotoin dia disini, dan upload di LookBooknya. Hahahahha!

batik motif mural
Batik motif mural

wayang mural
Wayang mural, if I'm not mistaken this is Bima

love this wall scene
Love this wall scene

public toilet
The (quite) clean public toilet

DSC00512 inspiring lampion
Nice lampion, is it KKNs made?

miniature of tugu
Miniature of Tugu, so cute!

kampong corner
The kampong corner

pulo cemeti today
Pulo Cemeti today

jr high school couple and friends
Junior high school couple and friends hanging out here


A bit disappointment, it’s not allowed to enter the peak of Pulo Cemeti. Uhuk… padahal itu spot favoritku, bisa lihat kota dari atas, sambil ditiup angin, dan sambil sun bathing, lumayan kan tanning gratis. Tapi ya… sayangnya lagi under renovation. Aku terpaksa harus menikmati muter-muter Pulo Cemeti di bawahnya aja. And guess what view I got there?? Anak-anak SMP yang berkeliaran (entah kenapa, setiap aku kesini selalu ketemu anak SMP, dari aku semester 1 dulu sampai sekarang!) beberapa di antaranya pacaran, dan juga beberapa pasangan yang (mungkin) seumuran sama aku lagi menikmati “dunia milik berdua” di lobang-lobang jendela. Uff… Oke, that’s really not good!

“We shape our cities thereafter the city shape us”

- Churchill -


Aku sempat mikir juga, ya… inilah Jogja, kota yang banyak dijejali pelajar dari seantero Indonesia, tapi nggak punya tempat pacaran yang cozy dan beradab. Inilah salah satu yang mendorongku buat belajar planologi, membuat tempat pacaran yang cozy dan beradab. Hahaha… tapi gimana ya? Karena aku pikir itu penting, karena “ruang menciptakan budaya”. Masak sih budaya pacaran yang ingin kita ciptakan itu mojok dan ngamar? Dilemma juga sih tapinya, kalo diakomodasi, ntar jadi kaya di Italy atau Paris, kita bisa lihat pasangan kissing dimana-mana. Ada ide, temen-temen?

Oke-oke, that’s just my unnecessary thought. Perjalananku lanjut. Honestly, I’m a bit claustrophobic, aku benci tempat yang sempit, gelap, dan lembab, seperti lorong-lorong di Tamansari itu. Dan sempet males juga buat masuk sendirian, bisa freak out aku ntar. Luckily, I met again with 4 random friends I had met before, in the circle mosque. So, I joined them. Hehehe…, thanks to them, I could go out safely from the darkness *relieved*.

tamansari2
Random friends I met there: Kris, Roni, Dela, and Wisnu

Dari jalan-jalan siang ini, banyak juga yang kudapat, selain foto-foto, aku juga bisa lebih relax memikirkan masalah-masalahku, dapat banyak inspirasi, dan teman, juga sempat jadi model dadakan. Hahaha... Dan sepanjang siang di situ  aku bener-bener jadi tanned. Tapi rasanya puas, sudah lama juga aku nggak bau matahari kayak gitu. Kemarin sebenernya mau susur Selokan Mataram lagi, tapi… ya, mungkin karena mood yang mulai memudar, aku jadi males. It wasn’t exciting doing something you are bored on.


Setelah itu, aku berniat untuk ngadem. Tadinya aku kira sahabatku mau ikutan gabung. Tau-tau dia sms aku, “Where r u?”, heh? Bukannya tadi udah kubilang aku di Tamansari? *bingung*. Lalu aku bilang, “Panas banget disini, aku mau ngadem aja, enaknya kemana?”. Dan dia jawab, “Kamu di Amplaz kan? Aku di Amplaz ni…” HAHHAHAHAHHAHA!!! Ngakak berat aku. Oke, bagi kalian yang nggak tau, foodcourt di mall Ambarukmo Plaza (Amplaz) itu namanya Tamansari. Dia kira aku di TAMANSARI FOOCOURT! A big WEW, and actually I ever been in that situation before (about 3 years ago). Dasar ambigu! Then I went meeting my bestfriend in Amplaz, and laughed at him, LOUD.

Habis itu, aku nonton Step Up 3D di XXI, ditraktir temen yang ngasih kerjaan desain seragam buat tempat kerjanya. Huff, moga-moga biaya nonton nggak dipotong dari fee ya… hahaha. Tapi aku puas banget nontonnya, entertaining banget, walaupun ceritanya standar ala kompetisi dance, dan walaupun nonton 3D bikin aku ribet karena harus make kacamata dobel, untung aja hidungku muat untuk menanggung beban 2 kacamata itu. Hihihi…

After all, hariku hari ini menyenangkan. Though my mood still doesn’t back entirely, but it was really refreshed my mind. Thank God, you give me this day!

Self talking, “Get back to work on your TA!!!”


Thursday, September 23, 2010

Playing Around Candi Ijo




Hay hay! Again, this is me and my bestfriend, Jabar. Sorry for this quite late post, actually we visited the Ijo Temple in September 5th, five days before Idul Fitri. We quite late arrived in Candi Ijo, and we missed the sunrise! Hiks.

Candi Ijo (Ijo Temple) is located in the south not so far form Kraton Ratu Boko. This temple was built in 9th century during Hindu Mataram era. Candi Ijo well-known as temple located in the highest elevation, so you can see the aerial view of Jogja (really? I couldn’t see it clearly because there are too many trees covering the panorama). One notable feature of the temple is its layout, which features a main structure fronted by three smaller buildings that were probably dedicated to the Hindu Trimurti of Brahma, Vishnu and Shiva. Additional ruins are located further down the western slope of the hill that has not been reconstructed. (http://www.borobudur.tv/ijo.htm)

Yepp, enough for the formal introduction. Because of the high elevation, you could reach the temple by motorcycle, but make sure that your motorcycle is strong enough to hike. Hahahahaha!!!

We were not only visit the temple, because the view around it is also breathtaking. Take “tempat mesum gratis” as one of the example. We by coincidence passed this eye-catching point and stopped by to take picture of the letter there. But Jabar found out that the panorama behind the huge rock is sooooo…. GREAT!!

But after we took some pictures, people look at us like we has just finish doing “something dirty” there. O-M-G!!!


Still, we're practicing photography here....Most of the photos were taken by Jabar (except photos of him were taken by me) and all pictures are not Photoshop-ed yet. I’m welcome if there is any technical comments from you, どうぞ。。。

Monday, September 6, 2010

Pasar Ramadhan Kauman




Hay hay, this is me and my father visited the famous Pasar Ramadhan Kauman in Kauman, Yogyakarta. My best friend Jabar accompanied us to take pictures there.

Pasar Ramadhan Kauman is annually held every month Ramadhan. There’s a special snack called “kicak” which is only existing during Ramadhan, it taste too sweet (for me)…

We bought many foods and beverages in this market actually, hahahah!! Kalap...

Sunday, August 29, 2010

Sambisari in the Morning




Fellas!! How are you all?

Yesterday me and my bestfriend, Jabar, visited Sambisari Temple. After shalat subuh, we left from my house to the temple. This temple is not too far from my house (about 15 minutes by motorcycle). I had visited this temple a year ago with my KKN housemates.

The temple is in Sambisari village, Purwomartani, Sleman. From the temple form, there are lingga and yoni, we know that this temple is Hinduism temple. It was built in Hindu Mataram era when King Rakai Garung reigned (9th century), and being buried because of Mount Merapi big eruption in 11th century. The temple found in 1966 and restored in 1986. (Wikipedia)

Hm, actually this temple visit was to play around the temple, but since Jabar brought his DSLR camera, we made fun with it by make any experimental shots. I think it become my own photo shots, since there are so many picture of me, hehehe… Okay, I’m not a good model, and the photos are just for fun, but I hope you all enjoy it ^^

Most of the photos were taken by Jabar (except photos of him were taken by me) and all pictures are not Photoshop-ed yet. I’m welcome if there is any technical comments from you, どうぞ。。。

Sunday, May 2, 2010

Kota Berbudaya, Budaya Kota


Kota berbudaya? Maksudnya kota dengan nuansa budaya yang kerasa banget, yang dimana-mana pamer ciri khas budaya tradisionalnya? I live in Jogja since I was a child. And people call this city as City of Students, City of Culture, karena itu harus menonjolkan sangat-sangat citra “pelajar”nya atau “budaya”nya secara visual, fisik saja, atau jargon saja? Oh, please, bukan sesempit itu.

Dalam pemahamanku soal ini, kota berbudaya, nggak hanya secara fisik semata. Nggak hanya bangunan-bangunan bagus dan “klasik” berjajar rapi, tapi juga budaya baik masyarakatnya. Orang boleh bilang Amerika adalah negara yang nggak kerasa iklim budayanya, tapi aku inget banget gimana ramahnya orang di Boston, waktu itu tiba-tiba ada bapak-bapak yang nunduk terus meraih kakiku, sebagai orang Indonesia yang terbiasa curigaan, aku pun kaget dan menjauhkan kakiku, eh ternyata si bapak cuma mau ngikat tali sepatuku yang lepas kemana-mana. Walah, kalau disini, boro-boro mau naliin, peduli pun enggak, kalo iya, pasti ada maunya (masih kebawa deh curigaannya).

Oke, kembali lagi. Apa sih yang bikin kota-kota di Indonesia nampak semrawut? Core problemnya ada di masyarakatnya sendiri, yang kurang aware dengan lingkungan dan sumberdayanya sendiri. Didukung juga dengan budaya merusak dan suka me-reject duluan. Bukan bermaksud nge-blame siapapun disini, tapi menangkap fenomena yang terjadi.

Pernah kan kalian lihat telpon umum? Mungkin sekarang udah nggak jaman sih, tapi jaman aku SMP dulu, telpon umum jadi fasilitas komunikasi yang signifikan buat aku menghubungi papa atau mama, minta dijemput, hehe. 10 tahun lalu, telpon umum itu aja kondisinya sudah parah, ada yang udah nggak bisa dimasukin koin karena keseringan digetok-getok atau disodok-sodok sama anak-anak (biasanya keluar uang recehannya lho), ada juga yang udah nggak ada gagangnya, heran kan, buat apa sih nyolong gagang telpon umum?

Kalo mau bandingin sama di luar negeri, kondisinya masih utuh dan berfungsi baik walaupun udah bertahun-tahun. Kesadaran kita buat memelihara fasilitas umum masih kurang sekali. Padahal kalau demo, semua demi kepentingan rakyat, apa fasilitas yang disediakan itu nggak sesuai dengan masyarakat ya? Giliran ngeliat negara lain, negara tetangga aja bisa punya subway train, kitanya ngiri, pengen, trus nyalahin pemerintah lagi. Padahal mikir juga kalau mau ngasih fasilitas hebat kayak gitu, orang kereta api biasa aja kacanya sering pecah gara-gara dilemparin, gimana mau bikin subway mahal-mahal?



Common views; city view from roof top, stalls and illegal parking, washing clothes in the river. Could you imagine the pollution? See… environmental destructions is not always wealthy people's works!


Di sisi lain, maintenance fasilitas umum juga masih kurang sih. Orang jogja pasti inget antusiasme menyambut beroperasinya bus Trans Jogja kapan hari itu, angkutan umum ber-AC, yang jalurnya teratur, murah lagi, cuma 3000. Tapi nggak selang berapa lama, hmm, AC-nya mulai nggak dingin dan kalau malem lampunya remang-remang, oh moga-moga habis ini nggak ada yang bawa-bawa ayam atau kambing ke dalam bis juga, bisa-bisa bernasib sama kaya colt. Lupakan masalah ayam dan kambing, kembali ke maintenance, pihak penyelenggara juga harus cepat tanggap donk kalau ada penurunan kualitas dari fasilitas umum, karena itu juga mempengaruhi kenyamanan penggunanya, nggak worth it lah masa bayar 3000 tapi kualitas gopek. Nanti orang jadi ilfil juga mau pake kan?

Jadi ingat kajian pedestrian di semester 6 dulu, kenapa masyarakat perkotaan di Indonesia lebih suka naik kendaraan daripada jalan kaki? Iyalah, gimana enggak, jalan kaki di jalan-jalan besar di Indonesia sama kayak bunuh diri, rawan ketabrak, paling minimal keserempet. Kenapa? Karena kita nggak nggak bisa jalan dengan nyaman di trotoar. FYI, trotoar di Indonesia itu milik tanaman sama PKL.

Selain budaya ngerusak dan nggak bisa memelihara fasilitas umum, satu lagi, nyolongan (I had mention it before). Ini sih sama saja nyolong fasilitas umum, nyolong space buat pejalan kaki. Mengorbankan orang lain untuk kepentingan pribadi. Oke lah, dalam hal ini mereka buat cari makan, tapi pejalan kaki juga sama-sama cari makan,  right? Efek dari penyerobotan pedestrian space ini adalah semakin berkurangnya pejalan kaki, naik angkutan umum juga nggak nyaman, jadinya pada naik kendaraan pribadi, lalu lintas padat, polusi udara dan krisis energi, ozon bolong dan dampak secara luasnya, global warming.


Traditional transportation, less pollution, but what about time effectiveness?
We still need for speed

Kalo gitu, bukan cuma jadi urusan pemerintah dan pengembang aja, tapi masyarakat juga. Masyarakat punya peran yang sangat sangat signifikan dalam menjaga keberlanjutan (sustainability) lingkungan. Perlu sedikit menggeser mind-set masyarakat dulu disini. Gimana ya, biar semuanya lebih merasa memiliki kota. Kerjasama yang kompak dan harmonis antara masyarakat, pemerintah, dan pengembang, semua stakeholders turut aktif dalam perannya masing-masing. Nggak perlu muluk-muluk kan buat menciptakan kota yang sustainable, benerin dari yang kecil-kecil aja. Kalo kata Pak Ridwan Kamil, “Yang dilakuin mungkin nggak sampai bisa mengubah 1% dari keruwetan seluruh kota Jakarta, tapi paling enggak yang nggak sampai 1% itu bermanfaat bagi masyarakat,”.

Kota berbudaya di masa depan yang aku bayangin, bukan cuma physically kaya Kyoto, tapi masyarakatnya juga lebih respect dengan lingkungan, nggak cuma bisa menuntut tapi juga bisa memelihara kotanya. Kota berbudaya bukan hanya dimana-mana joglo, dimana-mana batik, dimana-mana etnik atau yang klasik-klasik saja, tapi harus dibangun juga “budaya” itu sendiri. Budaya itu kan adalah satu hasil peradaban manusia, sudah bukan waktunya kita cuma nuntut fasilitas, masih hobi ngerusak, nyerobot hak orang atau nyolong. Sekarang waktunya lebih aware pada sekeliling, pelihara fasilitas yang udah ada, kan kita juga yang menikmatinya.

Mari kita bangun budaya positif mulai dari diri sendiri, untuk menuju kota yang “berbudaya”.

Joglo, a Javanese traditional architecture

Kotagede residential view

Jogja corner: walls of mural


Artworks on public spaces during Jogja Jamming Biennale X
(December 2009-January 2010)


FOR THE FUTURE!!!
未来のために
FOR LIFE!!!
生活のために