Showing posts with label plesir. Show all posts
Showing posts with label plesir. Show all posts

Friday, August 31, 2012

Miburou Hometown - Shinsengumi Historical Site




Finally visit this place! Hihihi...I visited this place alone because maybe this place will be boring, unless you have strong interest in Shinsengumi story. And as for me, beside their story in Rurouni Kenshin (Samurai X), I also follow a manga by Watanabe Taeko titled Kaze Hikaru (Flash of Wind) which the story is more about Shinsengumi, but not seriously historical.

And, after lost in the small street downtown Kyoto, finally I reached Mibudera Temple. And suddenly Shinsengumi atmosphere become strongly felt in this area. Inside the temple area, there graveyard of Shinsengumi. Although it's called "graveyard" but one thing I noticed in here was the aura of those anime lover, especially when I see the ema hanging on there :D hahaha...

From the temple, I stopped by in the house of Yagi Gennojo, a place where Shinsengumi founded. The funny thing is the front man told me that there is nothing inside the house except story telling, and also cannot take pictures, but I still insist to getting in. And yeah, inside is nothing but a house, with story of a famous samurai group called "Shinsengumi" or "Miburou" of "Mibu Wolves".

Yeeeah, anything, but I was so happy I can visit this place, even for some people it might be so boring. Hehehe... It's not really bad to be a bit freak...

Monday, June 25, 2012

Mendadak Wat Arun




Yay! Actually I wanted to go to Tha Chang pier, but the bus driver stoped near Tha Tien pier, so... unintentionally I visited Wat Arun and walked around. I just walked alone, but thank you Mr. Tripod to help taking my self pictures :D gyahaha...

Saturday, April 14, 2012

Songkran at Ko Kret




Sawadeekaa!

How are you all...? Hehehe... I've just spent my Songkran holiday at Ko Kret, a small island in Chao Phraya river. This is an island that is famous with the pottery handicrafts. Hmm, sounds like Kasongan village in my hometown Yogyakarta. It's not fair to compare between them, but in my opinion, it a lot better in Kasongan than in here.

But since I spent the Songkran day in here, I will tell you more about my trip here.

It was recommended by my friend, Anne, because I told her that I won't spend Songkran day in Khaosan Road or Silom. It woul be very crowded and a lot of people there, I personally doesn't like crowd. So, I took her recommendation and went there.

I looked for the way to get there by searching in internet, and to go there by mass transport in Bangkok (BKK), in order to save more transport fare. The route can be found here: www.­transitbangkok.­com

You can going around the island by rented bicycle, and you'll find yourself so wet because many people (esp KIDS) will throw you water and touch your cheek with melted powder. Hehhee....


Songkran at Ko Kret-20120413

Expenses info (in Baht):

AIT - Victory Monument (Bus No 29) : 20
Victory Monument - Pak Kret (Bus No 166) : 18
Pak Kret - Pier : 10
Pier - Ko Kret : 2
Rent bicycle (one day) : 40

Ko Kret - Pier : 2
Pier - Pak Kret : 10
Pak Kret - Victory Monument : 18
Victory Monument - AIT (by Thammasat van) : 30

Others:

Foods and drinks: 20 - 30
Small ceramics: 5
T-shirt: 150 - 200

Saturday, February 25, 2012

One Day Trip Bangkok – Hua Hin – Bangkok


Sawadee kaa? Sabai dee mai kaa?

Yeah, I’m coming back here again, in Thailand, and back to Pathumthani where AIT mother campus is located. Cihuy, finally we’re going back to Rangsit, which is closer to Bangkok!! Gwahahaahaha...

Seneng juga sih kembali ke tmpat semula, yang mana nggak harus ribet lagi sama jadwal bis, nggak harus nyeberang-nyeberang jalan dan nggak harus kecapean gara-gara kelamaan nunggu bis. Dan awalnya aku support 100% AIT back to mother campus, dan nggak berpikir bahwa sebulan kemudian I have to take a journey to Hua Hin, alone, in one night. Damnly stupid me!

Seminggu sebelum kembali ke Thailand, aku mulai panik, gara-garanya temen-temen yang aku titipin barang-barangku segambreng bilang kalau mereka nggak sanggup buat ngebawain balik ke AIT. So, aku harus memutar otak gimana caranya untuk ngebawa barang-barang segambreng itu balik ke AIT. Setelah Tanya pada sang expertise jalan-jalan sekaligus mantan roommate, Pi Lia, dan lihat-lihat internet, akhirnya aku pun memutuskan untuk mengambil rute berikut ini:

Suvarnabhumi Airport (Airport Link) – Phaya Thai (BTS) – Sala Daeng (MRT) – Hua Lampong (train) – Hua Hin – Suchaya House (ojek)

Nah perfect banget deh (rasanya). Dan beginilah jadinya perjalanan pulangku yang tergeje kemarin.

Setelah menikmati jalan-jalan dan kondangan-kondangan yang indah bersama sang kekasih keliling Jogja, tibalah hari Minggu itu, ketika aku lagi-lagi harus berpisah dengan papa, mama dan adik tercinta untuk kembali menuntut ilmu di negeri gajah. 

Berangkat dari Jogja ke Surabaya seperti biasa naik kereta api Sancaka sore, yang tiketnya sudah dipesan sang kekasih dari jauh-jauh hari (otherwise you will lose it! Trust me). Sialnya, entah AC kereta yang emang ektra adem atau kaminya yang sensitive sama dingin, rasanya itu kali pertama aku nggak nikmat naik kereta, padahal udah sama pacar lho. Gila bener, sepanjang perjalanan badan rasanya membeku, dan semua selimut udah out of stock! Akhirnya aku dan si mas Kamen Rider akhirnya kemulan pake apa coba? Mukena. WEW. Oke, penderitaan berakhir setelah kereta sampai di Surabaya dengan selamat dan dijemput oleh sang camer (citcuitt…). 

Besoknya.

Tibalah hari yang mendebarkan itu, yeah, at least for me. I was so excited about the journey. Going to Hua Hin alone? Untuk pertama kalinya aku akan pergi ke luar kota Bangkok sendirian, dan malam hari buta. Antara takut dan harus berani. Dan yaah! Setelah pesawat Air Asia bertolak ke Suvarnabhumi, maka tekad dan keberanian harus dikumpulkan demi kemaslahatan umat! (eh?)

Mendarat di Suvarnabhumi, aku langsung lari menuju imigrasi. Why I have to run? Percayalah, imigrasi di bandara Suvarnabhumi itu antrinya ampuuun. Harus berjejalan sama bule-bule, india-india, cina-cina, afrika-afrika dan semua orang dari segala penjuru dunia. Dan sebagai cewek Indonesia dengan postur standar, rasanya kok kalah bersaing yaa sama beliau-beliau itu. Hehehe... One tip: just choose one line and keep lining on it, itu bakal lebih cepat daripada pindah dari satu antrian ke yang lain, walaupun antrian lain nampak lebih pendek, grass always greener on the other side, isn’t it?

Kelar dari imigrasi, ambil bagasi. Seperti biasa, barang bagasiku sepertinya lebih lancer daripada akunya, so si koper merah udah nongol duluan di ban berjalan (eh, apa namanya ini?) langsung kusamber aja dan keluar.

Sampai di luar, waktunya beli SIM card, nggak tau kenapa aku selalu punya kebiasaan buat beli simcard setiap kali habis mendarat di Thai. Asumsinya adalah, kartu habis masa aktifnya, padahal kata temen-temen enggak lho. Tapi emang pas aku coba kok nggak bisa, yaah mau nggak mau beli lagi deh.

Kelar urusan simcard, aku pun segera ke stasiun Airport Link yang ada di underground bandara Suvarnabhumi, menuju ke stasiun BTS Phaya Thai. Nikmatnya naik Airport Link adalah cepat dan seru, karena di dalam kereta itu bisa lihat banyak orang senasib: orang asing (non Thai) naik kereta dan bawa barang segambreng! Hahahhahahh! *devilish laugh. 

Sampai di Phaya Thai, lagi-lagi aku lari-lari biar segera dapet BTS. Kok aku lari-lari terus sih? Soalnya jadwal kereta ke Hua Hin dari Hua Lampong itu jam 22:50, jadi paling nggak aku harus sampai Hua Lampong sebelum itu. Berhubung aku belum pengalaman, jadi yaa lari-lari gitu deh. Sialnya lagi..., aku hampiiiir salah naik kereta! Aku malah naik kereta yang ke arah Bearing padahal harusnya yang kea rah Wongwian Yai. Geblek! Untung tu kereta belum jalan, jadi aku bisa keluar lagi dan pindah jalur. Hoshh...!

Akhirnya dari Phaya Thai aku pun menuju ke stasiun BTS Sala Daeng buat tuker ke MRT. Perjalanan dilanjutkan naik MRT yang cuma sak nyuk an ke Hua Lampong Station, dan sampai pada pukul 21:45 WIB (people who life in western Indonesia please don’t ask me what time is it in here, because it is EXACTLY THE SAME!). Yeeeeaaah…. Akhirnya saya nggak telat, sodara-sodara!


Sampai di Hua Lampong, aku pun langsung beli tiket kereta ke Hua Hin yang masih sejam lagi keretanya baru datang. FYI, masuk ke Stasiun Hua Lampong rasanya nggak jauh beda kaya stasiun kereta di Indonesia, malah bagusan stasiun di Indonesia sih. Stasiun Hua Lampong luas, dan di tengahnya ada lapak-lapak jualan buku, di situlah calon penumpang bisa duduk-duduk. Di deket platformnya, tempat duduk sangat limited edition, dan banyak orang lesehan dimana-mana. In contrast with those in Indonesia, disini nggak se-teratur di stasiun-stasiun di Indonesia sekarang. Bangga juga sih, stasiun di Indonesia, walaupun di kota kecil, sekarang bersih dan teratur.

Nunggu kereta sambil terkantuk-kantuk, akhirnya tuh kereta datang juga. Dan jreng jreeeng!!! Koook kayak kereta ekonomi gini ya keretanya. Hihihi..., yaah tapi apa boleh buat, hajar aja yooo!


Ini bukan pertama kalinya aku naik kereta selama di Thailand ini. Sebelumnya aku pernah juga waktu ke Mae Khlong sama temen-temen. Dan kok ya keretanya sama-sama menyedihkannya. Hehehe... rasanya kontras banget sama BTS dan MRT dalam kotanya. Tapi...

Di dalam kereta, sambil masih terkantuk-kantuk, tiba-tiba datanglah mbak-mbak pramugari, rambut pirang, dan pake rok mini, ngasih sebungkus kue dan selimut. OOOOOHHH! This is really really good.gratis kue dan selimut cobaaa!!! Dan malam itu pun aku nggak membeku di dalam kereta seperti malam sebelumnya, dan akhirnya aku pun jatuh tertidur di dalam kereta.

Padahal si Pi Lia udah pesen berkali-kali kalo aku nggak boleh sampai ketiduran, atau bakalan kebablas. Oleh karena itu aku pun udah siap menyalakan alarm jam 1 (karena estimasi waktu nyampenya jam 2). Tidur nyenyak selama beberapa jam, jam 1 aku beneran bangun dan memaksa membuka mataku sampai akhirnya datang mas-mas pramugara yang bertanya, “Hua Hin krab?” yes. Dan dia pun menunggu di belakangku. Yeeee tau gitu kan aku tidur lagi. Hahhaha...

Sampai di stasiun Hua Hin dengan selamat. Selanjutnya adalah ke Suchaya House di Hua Hin Soi 12 an. How I got there? Naik OJEK. Yaaaay! Malem-malem, naik ojek pula. Duuuh ademe reek!!! Mana nggak dikasih helmet pula *sigh. Untungnya aku pake pashmina pemberian camer (cieee...) and it helped a lot.

Sampai di Suchaya House, AKU NGGAK BOLEH MASUK KAMAR! Gara-gara kuncinya sama temen-temenku udah dikasiin sama si landlord, dan aku nyampe di Suchaya jam setengah 3 pagi. Si sekuriti malah nyuruh aku tunggu di depan front office. Damn! Aku pun tidur di bangku depan front office sampai jam 7! Badan pegel2 kuadrat. Dan jam setengah 4 pagi saya mewek sendirian... hihihi.

Paginya, aku akhirnya diijinkan masuk kamar buat ambil barang-barang yang akan kubawa ke AIT. Hari itu adalah kloter terakhir pindahan dari Hua Hin ke AIT. Bersama bus dari AIT, aku pun membawa serta barang-barangku segambreng kembali ke asalnya. Dan tidur nyenyak dalam bis...

Perjalananku selesai di situ? Yeah, untuk perjalanan sih selesai. Tapi berhubung kamarku yang flooded about 15 centimeters itu sedang direnovasi, jadi terpaksanya aku harus nomaden dulu. Sementara ini tinggal di SV temen yang lagi thesis di Indonesia. Semoga cepet selesai renovasinya ah, pengen segera hidup stabil in my own room :)

Oke, sekian dulu yaaa... off to dinner now! See you again next post!

FYI
Travel cost from Suvarnabhumi to Hua Hin:

Airport Link : 45 THB
BTS : 15 THB 
MRT : 25 THB (kayaknya, lupa nyatat yg ini...)
Train : 382 THB

Saturday, December 17, 2011

Enjoying Hua Hin


‎"Never mind Never mind When I feel depressed and down, yeah yeah I want to come here, and be blown by the wind I want to see your little smile I, too, can become stronger The smell of the fresh Spring The petals of the blossoming sakura I will never lose to it Yes, laugh. Keep laughing away"

Laugh Away by YUI

Hello friends!!!

I recently live in Hua Hin since my campus (AIT) temporarily moving here due to flood inundated the campus in Rangsit.

And yeah, lucky for us who loves traveling, this place is actually a tourism area, so there are many interesting points here. Yuppy!

This is one of the interesting place, Pi Lia (my room mate, rhapty.multiply.com) has just found this nice place. So we planned to spend this Saturday in here, Hua Hin Pier :)

Sunday, October 9, 2011

Market Hunt: Maekhlong - Amphawa - Danoen Saduak




My first trip with Es Teh Dua Gelas (Mbak Lia, Pak Romi dan Mas Rahardi) to Samut Sakhon.

I will upload the rest after this... (update: sadly I lost all my filees with the computer, and have no back up.... hiks)

Hehehe... :))

Enjoy!

Tuesday, October 4, 2011

Merapi Visit




Hello fellas!

Actually this should be a long time ago post, but I am so sorry I just catch the mood to post this now. Hihihi... It belong to my after graduate project White Canvas Shoes that I planned to visit many interesting places in the world, especially in my home town Yogyakarta.

After the big volcano eruption in the late 2010, Merapi settlement area became devastated, almost all houses damaged, and many people died (for unnecessary reasons, in my opinion, because there was a lot of warnings long long before the lava and hot cloud strikes the village). But people activity in Merapi now still running and developing to be volcano tourism destination. Kinda love this new attraction of Yogyakarta tourism, but still a bit afraid of the risk in the area.

These pictures included my first trip to Merapi after the eruption on April 16th 2011, and the second trip to the temporary shelter on June 25th 2011. I felt sad when I visited the damaged houses, and a bit spooky, it feels like every single thing left in the houses can whisper...

Friday, August 12, 2011

Weekend to Bangkok!




Sawadee Kaa!!

Hay hay, this Friday is a national holiday here, in Thailand, due to HM Queen's birthday. Though AIT is international institute, it still follows national calendar. Hmm, this is good, as for me :P

So, me and my friends planned to explore Bangkok by trying the mass transport. Ahh, actually my campus location is in Bangkok sub urban area, so both BTS and MRT are not reach our place.

And here is our route:

AIT - Future Park - Chatuchak Park / Mo Chit (BTS) - Siam - National Stadium - Sala Daeng / Silom (transfer to MRT) - Chatuchak Park - Rangsit / Thammasat / AIT

It was so fun, but also tiring, but I loved it. Hahaha...

Wednesday, August 3, 2011

Halfway to Thai

Ohayou!!

This is a part of my way to Thailand. I'm in Surabaya now. Yes, I chose a direct flight from Surabaya to Bangkok. Ahh... You may think that I only want to visit my boyfriend first before leaving for Thailand. Yup, not completely wrong thought, besides the fact that air fare from Surabaya is cheaper than from Jakarta :D

I took a flight from Jogja yesterday morning, 6AM, and arrived in Surabaya at 7:15AM. And as usual it took longer time in waiting for my baggage before leaving the airport. Uh wew.

As I travel alone, I have to handle all my luggage by myself. So I packed all my stuffs in 3 bags: suitcase, backpack and sling bag, and order the stuffs by need. So that I could easily handle them. I want to share my packing list afterward, maybe someday you need it too, in case you have to travel overseas for study :)

Surabaya, still, the heat and especially the mosquitos are suffering me. I don't know why it always like that. My cousins put a fan in his room (that I use) and also spray a lot of insect killer, but it still doesn't work!! Ok, but I should say in this case, mosquitos in Jakarta is more more immune than those in Surabaya, Jakarta mosquitos are mutans!! Hahaha...

Last night, I visited my boyfriend Kamen Rider's house to have Tarawih and dinner with his family. Again, I still couldn't belive that I am now in this level of happiness. If I remember how slumped I was in last year, I become very grateful I could pass the hard time and running my life with the optimistic hopes and dreams. His family is really kind to me, they also support me to get the master degree. I hope someday I could really be a part o the family. Amin.

I'm still in Surabaya today, my parents are planning to come this afternoon. And tomorrow afternoon I'll be leaving for Suvarnabhumi from Juanda. Wish my trip going all okay :)

Monday, February 7, 2011

Alongside Selokan Mataram to Where the Flow Started

“Someday, after I finish this mess all, I will come to where the flow started!”
That was my promise when I still worked on my final project.



Setelah semuanya selesai, SKL juga sudah di tangan, tinggal menunggu ijazah dicetak dan kucir di toga dipindah, aku pun memutuskan untuk memenuhi nazarku itu. Yup, mengunjungi hulu Selokan Mataram. And here’s my journey!

Pagi-pagi, hari Jumat tanggal 4 Februari 2011 jam 4:30WIB, aku, yang sejak semalam udah susah tidur saking excited-nya, sudah mandi, shalat subuh dan siap-siap berangkat. Tapi nungguin hampir sejam kok temenku belum datang juga, jadinya malah ketiduran lagi deh. Hahaha... :D

Akhirnya jam 6 dia datang, dan kami langsung tancap, “Yuk langsung kesana!” kataku penuh semangat. Rute hari ini adalah: dari rumahku di Prambanan (Kabupaten Klaten, Propinsi Jawa Tengah) – Ring Road Barat (Kabupaten Sleman, Propinsi DI Yogyakarta) – Kali Progo (perbatasan DIY dengan Kabupaten Magelang, Propinsi Jawa Tengah), it means hari itu kami bakal membelah Jogja secara melintang. Hahaha!

Baru sampai di perempatan sebelum fly over Janti, kok tiba-tiba kami ngerasa lapeeer banget. Langsung belok kanan, di Babarsari ada tempat makan lontong sayur yang mak nyuss (lupa namanya, pokoknya di depan Sego Penyetan). Slurp slurp. Wah, enaknya, energy recharged, siap berpetualang!

(Our breakfast menu: lontong sayur!)


Perjalanan kami lanjutkan. Walaupun judulnya menyusuri Selokan Mataram, tapi kami memutuskan untuk memulainya dari perpotongan dengan Jalan Ring Road Barat. Kenapa? Karena aku udah eneg ngeliatin Selokan Mataram di dalam Ring Road yang jadi obyek TA-ku :P Lagian aksesnya lebih enak langsung ke Ring Road barat, kalau lewat jalan inspeksi, jalannya kecil dan rame banget di dalam kota.

Dari Ring Road Barat, begitu nemu perpotongan dengan Selokan Mataram, langsung belok ke kiri aja, lewat jalan yang sisi selatan. Why south side? Soalnya di sisi selatan itu udah dibangun jalan inspeksi, jadi jalannya lebih jelas. Walaupun ke belakangnya jalan inspeksi ini bakalan terputus di beberapa bagian, entah kenapa.

Di perjalanan susur selokan itu, kami sempat berhenti di beberapa spot yang (menurutku) menarik. Lucunya, kami pertama berhenti buat foto-foto malah di jembatan pertama yang ditemui, and you know what, the bridge is sooo scary! Kecil, kurus, dan nggak ada pegangannya. Tadinya sih mau sok-sokan poto di tengah jembatan itu, tapi aku takuuut! Hahhaa... temenku yang tadinya juga sok berani, baru beberapa langkah lebih jauh dari aku dia takut juga, yes! (senyum licik penuh kemenangan)

(On the scary scary fragile bridge)


Kami lanjutkan perjalanan ke arah barat dengan tingkat antusiasme tinggi. Dan semakin ke barat aku semakin disorientasi, udah sampai daerah mana ya kami (lupa bawa peta dan kompas). Tau-tau aja, jalan inspeksi udah nggak ada lanjutannya. Gimana ini? Aku tanya sama penduduk sekitar, “Pak, nek liwat mriki pripun, tembus pundi nggih?” (Pak, kalau lewat sini gimana, tembus kemana ya?). “Teras mawon mbak, mangke tembuse Kali Krasak,” (Terus aja mbak, nanti tembusnya Sungai Krasak) jawab si bapak. Waa? Udah deket Kali Krasak? Padahal kalo orientasi perpetaanku nggak salah, Kali Krasak itu juauuuuh... ini dalam waktu sekitar setengah jam dari Ring Road tadi (plus poto-poto) kok udah nyampe Kali Krasak aja. Ckckck...

Mendekati Kali Krasak, jalannya MENGHILANG! Adanya cuma jalan semen selebar 1 meter, itupun bawahnya langsung saluran Selokan Mataram. Oh wew... Tapi kami lewatin aja pake motor, walaupun harus ekstra hati-hati. Ternyata nggak sampai 100 meter udah nyampe ke Kali Krasak.

(Suddenly the road disappeared and transform into this :S)


Kami pun berhenti sebentar di situ, dan... ehm, photo session si kucing pink dimulai kembali. Hahaha, narsis mode on. Aku difoto bak fotomodel aja, disuruh gaya, di bendungan pula. Kurang kerjaan banget kan? Mana sebenernya aku (lagi-lagi) takut disuruh ke pinggir bendungannya, soalnya tu bendungan tinggi dan di bawahnya langsung selokan. Hyaa!

(Actually, I was scared of the height)


Dari Kali Krasak nggak bisa nyeberang langsung buat ngikutin Selokan Mataram, jadi kami muter dulu ke selatan dan ngikutin dari pinggir jalan (akhirnya ketemu jalan aspal lagi, hore!). Dari situ kemudian kami pun bertemu dengan bangunan landmark lainnya, yaitu pembagi air antara Selokan Mataram dan Saluran Van der Wijck. Ya, kalau Selokan Mataram alirannya ke barat menuju Sungai Opak, maka Saluran Van der Wijck ini mengarah ke selatan menuju Bantul (entah dimana hilirnya). Banyak yang bilang kalau dari pembagi air inilah hulu Selokan Mataram. Tapi kalau menurutku, kalau dilihat dari bangunannya, ini sih hulunya Saluran Van der Wijck, soalnya Selokan Mataram itu alirannya menerus sedangkan Van der Wijck itu alirannya dari Selokan Mataram. Once more, it’s only my opinion.

(Canal Van der Wijck)


Di sekitar pembagi air ini, pemandangannya hampir mirip dengan suasana persawahan di Bali. Dengan sawah yang semi bertingkat dan Pegunungan Menoreh sebagai background-nya. Hm, rasanya buat ngerasain suasana Ubud bak Elizabeth Gilbert (EAT PRAY LOVE) nggak perlu lah jauh-jauh ke Bali. Hehehe…

(Bali-ish rice fields view)


Lagi-lagi, semakin ke barat jalanan mulai nggak jelas, walaupun udah aspal, tapi lubang di sana-sini, berasa off road deh! Dan tau-tau kanan-kiri udah hutan, lengkap dengan bunyi tonggeret-nya. Wah... a bit spooky sih (aturan tidak tertulis, kalau masuk hutan lebih baik nggak usah ngomong atau bahkan mikir macam-macam).

Tiba-tiba selokannya menghilang begitu masuk ke dalam terowongan. Katanya sih selokannya melewati bawah desa. Wow, what an amazing construction it is! (amazed). Dan kami pun sempat kesasar di dalam desa tersebut karena bingung kemana tembusnya itu selokan. Setelah tanya ke beberapa orang, akhirnya ketemu juga sama tembusan selokannya. Waaah, kaget juga, sekaligus kagum, hebat ya, ternyata ada bangunan air dengan konstruksi sedemikian keren di Jogja.

(Beautiful classic style bridge)

(Terowongan air menembus desa)


Di samping Selokan Mataram, kami mendengar aliran air yang deras sekali, dan kami pun berhenti sejenak. Yap, itu Sungai Progo. Alirannya deras bukan main, dan nggak kebayang kalau main arung jeram di situ, sepertinya bahaya. Hehehe. Baru asik foto-foto, rasanya kok ada titik-titik air membasahi. Aaah, grimis. Lanjut atau cari tempat berteduh nih? Kami pun milih nekat melanjutkan perjalanan, dan benar saja, cuma sebentar gerimisnya!

(On Progo River side)


Dan ternyata, nggak jauh dari tempat kami melihat aliran Sungai Progo itu, sudah sampailah kami di tujuan utama: Bendungan Karang Talun, HULU SELOKAN MATARAM!

The view there was really breath-taking!
Or I just was being melancholic in time.

Aku hanya duduk, bengong sebentar, dan memotret bendungan itu dari banyak angle. Dari situlah aliran air Selokan Mataram itu dimulai. Saluran air bersejarah yang dibangun dari ide brilian Sri Sultan Hamengkubuwono IX, dengan niat yang mulia untuk menyelamatkan rakyat Yogyakarta dari romusha dan mensejahterakan kehidupan rakyat dengan alirannya yang mengairi ribuan hektar sawah di Yogyakarta. Seperti kata Sunan Kalijaga, yang mana jika Sungai Progo dan Sungai Opak “dikawinkan” maka rakyat Yogyakarta akan sejahtera. The history was one of my reasons why I make this masterpiece as the object of my final project. Ah, yup, I was just being melancholy...


Setelah puas jepret sana-sini, dan gegayaan narsis, akhirnya kami pun memilih spot yang nyaman buat membuka bekal makanan yang kami beli tadi sebelum berangkat, minuman kaleng dan sebungkus wafer. Lagi asik-asiknya menikmati bekal sambil bercanda dan melihat foto-foto, eh... mata kami meng-capture beberapa pasangan “mbojo” di atas motor! Dan karena perbatasan Propinsi DIY dan Jateng itu adalah Sungai Progo, kami pun melakukan permainan bodoh: menghitung pasangan mbojo yang ada di sekitar situ. And the result is... pasangan mbojo di DIY lebih banyak daripada di Jateng, dengan rasio yang mendekati 50:50. Nggak penting banget! Hahahaha! :D

Perjalanan pulang, niatnya kami mau lewat jalan besar yang lewat desa-desa atau kota sekalian, buat ngerti aja kalau pake jalan normal (bukan off road) lewatnya mana. Tapi kok malah muternya jadi jauh. Begitu nyampe di Kecamatan Sayegan (Kabupaten Sleman), kami pun berbelok, mengikuti jalan inspeksi lagi. Hahaha, jalan itu memang short cut buat perjalanan antar propinsi ini deh!

Overall, perjalanan ini sangat menyenangkan dan exciting. Dan nggak kerasa jauh, walaupun pantat agak tepos juga waktu melewati jalan-jalan off road yang becek dan konturnya nggak karuan. Biaya perjalanan ini? Hanya dikeluarkan untuk beli makan-minum, bekal, dan yang terpenting bensin yang cukup untuk perjalanan yang memakan jarak kurang lebih 35 Km ini, bolak-balik. Nggak keren lah kalau tiba-tiba mogok di hutan atau di tengah persawahan gara-gara kehabisan bensin! :D Bagi kalian yang lagi pingin jalan-jalan country side buat weekend, jalan-jalan menyusuri Selokan Mataram bisa jadi pilihan, seru lho!!!

Happy journey!

(Fin)


More photos are here.

Alongside Selokan Mataram To Where the Flow Started




Pictures of Selokan Mataram Trip, Friday February 4th 2011.

Complete story here: http://nekopinku.multiply.com/journal/item/202/Alongside_Selokan_Mataram_to_Where_the_Flow_Started

All pictures here were taken by me with the Big Boy (P7000) and my friend with D5000. We both are still practicing photography, we're welcome for your opinion if there's any technical advises :)

Enjoy the photo-tour. Thank you!

Museum Affandi




Hey people! Last Wednesday (Feb 2), me and my best friend Kartini visited Affandi Museum. Yes, Affandi who is one of the most famous painting maestro in Indonesia.

This museum is located in Jl. Laksda Adi Sucipto 167 Yogyakarta - Indonesia (about 10-15 minutes by car/motorcycle from Adi Sucipto Airport). This museum is actually Affandi's family house. In June 9, 1988, this gallery was officially opened for public. It's architecture is unique, somehow its roofs looks like banana leaf.

Last time I visited this museum when I was about 9 or 10. Nowadays (13 years later), I think the museum is now maintained well, and internationally standardized. But, I think the entrance charge (IDR 20000) is too expensive for us, local student visitor. I think it would be good if there is difference between foreign and local visitor for entrance charge :D hehehe! Ah ya, the charge is include free drink in the cafe as compliment.

Visitors are not allowed to take photos inside the gallery. I don't know, it is only in 1st Gallery or all galleries, because in 2nd and 3rd Gallery there's no one (and even cctv) monitored us inside. If our hearts let us cheat, I will take photos as much as I can inside the gallery.

For more info, click www.affandi.org or call +(62)-274-562593

Here's our pictures in the museum surroundings. Enjoy!

me in cream batik
(Me, in tailor made cream batik one piece dress.)

Tuesday, February 1, 2011

Sekaten Sekaten!


Hay hay minna! Gomen nee, this is a quite late post. Sebenernya aku pergi ke Sekaten sudah seminggu yang lalu, tepat di hari Selasa juga. Tapi karena yang motret adalah temenku, yang beda jurusan pula, jadi aku cari timing yang tepat buat copy foto-fotonya. Hehehe…

Oke, jadi hari Selasa minggu lalu (Jan 25) aku dan temen-temenku jalan-jalan ke Sekaten. Janjiannya jam 3an kumpul di rumah sobatku, Jabar. Tapi pas jam 2an tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Yup, sekarang di Jogja kalo sore suka hujan… :( Karena ragu-ragu, aku pun SMS ke temenku, Deni, “Jadi nggak nih? Ujan deres gini,”. Eh Deni malah jawab “Ayo aja ah, nothing to lose!” dengan semangatnya. Yayaya, kalo udah gini, aku sih ayo-ayo aja, maju terus pantang mundur!

Menjelang jam 3, aku udah di rumah Jabar, and as usual, Indonesian time means rubber time, semua pada nelat, kecuali yang punya rumah. Hahaha… sekitar jam 4an kami baru ngumpul semua, aku, Jabar, Deni, sama Herlan. Sebelum langsung ke venue, kami harus jemput 2 temen kami yang lain, Wulan sama Ade, wah bakal jadi tambah rame aja nih. Tapi tapi, sebelum berangkat kami disuguhi lempeng pisang sama ummi-nya Jabar, masih anget pula, fresh from the fry. Gomawo, ummi :D

Sampainya disana, ternyata harus beli tiket dulu, 2000 per orang. Hehehe, aku kira ini pasar rakyat yang gratis, ternyata mbayar! Tapi nggak apa-apa sih, demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat :) Pertamanya ada kereta kelinci, sepertinya seru nih, tapi kok… 10000 per orang? Ehm… tunggu dulu, worth it nggak nih. Mikir mikir, akhirnya malah kami tinggal begitu aja si bapak penjaga kereta kelinci, dan sampe pulang kami nggak jadi naik kereta kelinci, maafkan kami pak…

Lanjut, kami pun jalan-jalan muter-muterin area pasar rakyat itu. Banyak barang yang ditawarkan disini, mulai dari kelinci, pong-pongan (sepertinya bahasa Indonesianya ‘kelomang’), kapal klotok-klotok, alat rumah tangga, pakaian dalam, VCD bajakan, sampai kerajinan tangan, apa aja ada, walaupun nggak semuanya murah sih (alesan klise mahasiswa kalo duitnya cekak). Selain itu atraksi dan games-nya juga lumayan asik, eh sebenernya standar sih, seperti obake (rumah hantu), komidi putar, pancing-pancingan, boom boom car, dan lain sebaginya. Kami sempat nyobain beberapa games di situ juga, pertama pancing-pancingan, rumah hantu, terus bola-bola besar (duh, istilahnya apa ya ini??).

(pong-pongan warna-warni gambar Upin Ipin, kinda feel weird about this, kasian mereka dicat-cat gitu...)

(mas-mas dan mbak-mbak yang masih gumun liat pong-pongan)

Pertama, lomba mancing bersama Pak Dosen Herlan sama Deni. Haha, mancing bodoh-bodohan ini, cuma mancing ikan-ikan plastik yang mulutnya dikasih paku dan mancingnya pake magnet. Dan saya yang menang!!! (bangga) Hadiahnya, harusnya sih sekarung molen, tapi akhirnya malem itu saya makan gratis di Hoka Hoka Bento. Hore!!!

(the fishing competition!)

Oya oya, kami juga masuk ke rumah hantu. Ehm, pretty embarrassing, aku ini penakut parah (bahasa jawanya ‘jirih’), jadi males-malesan buat nyobain masuk kesana. Padahal Herlan, Wulan sama Ade udah semangat banget. Jadi kami muter-muter dulu, mikir-mikir, muter-muter lagi, mikir lagi, lama-lama pada gemes dan akhirnya aku langsung didorong masuk gitu aja. Saking jirihnya, jadi selama di dalem situ aku merem dan jalannya megangin sobatku di depan, biar ga nyasar. Hahaha… Aku benci  tempat yang gelap, sempit dan pengap kayak gitu :(( Dan sepanjang di dalem obake, ada yang nakut-nakutin dengan berteriak “Ha!” gitu di deket kupingku, bukannya takut, tapi kok yang kerasa malah ababnya yaa… wkwkwkwk (ketawa tapi masih sambil merem). Dan sempet kedenger juga yang jadi hantu-hantuan itu ngomong “Who, ra wedi,” (Wah, nggak takut). Weeew… gimana mau takut, orang merem yee :p

(in front of the obake!)

And the last I mentioned was my biggest regret, soalnya habis masuk dan berguling di dalam bola gede itu aku pusing banget. Rasanya kehabisan tenaga dan udara di dalam bola-bola itu, padahal hanya dalam waktu beberapa menit aja. Bayangin kalo lama, bisa-bisa mati keracunan CO2 (halah lebay).

(Herlan, pak dosen, seneng banget waktu main ini)

Soal kuliner? Sebenernya banyak banget pilihan makanan di situ. Yang paling umum dan paling banyak adalah molen, arum manis dan kerak telor. Tapi pandangan kami malah ke ibu-ibu jualan dadar telur puyuh. Hm, looks yummy. Dan bener, enak!!! (atau aku yang kelaparan ya?) hehehe…


Overall, ke Sekaten kali ini seru banget! Selain karena udah bertahun-tahun aku nggak ke Sekaten (terakhir SD, itupun karena sekolah buka stand), waktu ke Sekaten kemarin itu udah diniatin buat seneng-seneng melepas stress pasca pendadaran. Pokoknya, nothing to lose!

(belanjaan kami, fireworks lamp, hehehe...)

(yah, sayangnya blur, ini dimarahin sama penjaganya, soalnya ngalang-ngalangin jalan, hahaha)

(nekopinku's free dinner madness)