Showing posts with label study. Show all posts
Showing posts with label study. Show all posts

Sunday, October 19, 2014

Why Am I Here...

Sedang berpikir ngapain yah aku jauh-jauh kesini... 
Ngapain aku belajar sampai ke tingkat ini, yang mana (nampaknya) hal kayak gini bukan aku banget.
Honestly, aku bukan tipikal pelajar banget... even not a bookworm.

Sudah setahun di negeri sakura. Negeri dimana semua impianku pernah tertuju, "Suatu hari aku akan kesana menjemput impian!!" tekadku waktu itu. But then... now I aske myself a question, "Impian apa itu?"

I mentioned in the Welcome post,

I dream to be a traveler, culture explorer, writer, and home-made cooking chef.

Does it require to be a PhD?

a big NO

terus kenapa aku harus belajar tinggi-tinggi, tenggelam dalam membaca jurnal-jurnal yang aku pun nggak bisa paham, belajar metodologi penelitian yang rumit yang pada prakteknya penelitian nggak serumit itu, dan menyenangkan.

Ok... Ini semua untuk meraih impian.

Balik lagi, impian yang mana?

Kadang mikir juga, setelah aku belajar jungkir balik koprol-koprol gini, aku mau ngapain? Balik ke Indonesia dan ngajar jadi dosen dengan gaji yang nggak seberapa... Researchku yang kukerjain jungkir balik itu mau dibikin apa? Paling juga cuma sekedar jadi WACANA... itu pun kalo di-waca... hehehe.

Indonesia besok bakal ganti presiden, yang mana diharapkan bakal bisa membawanya jadi negeri yang lebih baik. Aku amin-in aja. Seraya nambahin, semoga ketika balik Indonesia nanti apa yang kami pelajari disini nggak disia-siakan... karena sungguh, berada di titik sekarang ini, ketika aku ngerasa apa yang kulakukan sekarang ini enggak aku banget, aku butuh alasan untuk tetap berusaha, finishing what I started. Kalo misalnya balik Indonesia nanti tidak termanfaatkan, yaaa... buka toko benang saja lah...

Ahhh... curhat apa lagi aku ini...

Cuma pingin nulis, sudah lama nggak nulis bikin otakku tumpul rupanya. Skill menulisku merosot drastis.

Oke, so, kembali ke why am I here?

Saatnya kembali menata fokus, belajar adalah yang no 1, mengurus keluarga no 1-1, jalan-jalan no 2, menulis no 3, dan memasak no 4.

Tapi memasak harus tiap hari je... hehehe.

Sudah sudah, ayo kembali bersemangat, kucing pink!


Kamu berada di tempat yang kamu impikan

Bersama orang-orang yang kamu sayangi

Belajar apa yang kamu sukai

Nggak ada alasan buat mundur

Cuma ada, LAKUKAN YANG TERBAIK!

For dreams... For the future... For LIFE!!! 
(never forget this)




Thursday, April 3, 2014

READ AND WRITE



Hello minna!!!

Yeah, it’s been a while since the last time I posted, as always, I feel so bad of not much spending time to write. Actually, it wasn’t because I’m too busy on research or something, even my research is now getting stuck and I don’t know what to do anymore for it. No, I actually know what I HAVE TO DO. But just… lazy.

Like writing a blog post, sometimes, without any particular reasons, I just don’t wanna do it, or spend time to do it, or for the cliché-est reason: ideas just blew away everytime I start writing.

These days, I’ve been asked to write an article for a newsletter of a programme I attended almost 2 years ago. But then…, I stuck in front of my lab computer, staring empty at the monitor, forcing my brain to work for at least write a paragraph. You know what, this article is actually an easy article, not as difficult as the research proposal. But it is very difficult to make even a sentence.

I should blame the winter that freezed my brain that bad for the last 4 months. Yeah, now the weather in here become warmer, but my brain melts down so slow.

Now I start to blog-walking again, see many pages I’ve been missed for so long. Many bloggers still keeping up their posts, managed the appearance nicely, and got more follower. In the other hand, there are also blogger left their page, just like abandoning stuffed room. I feel a bit pity about this. I also left my “room” for a while, then back again everytime I want, having less responsibility in managing it properly. This page is just an unimportant page for the world, but it’s still my OWN room. A room of expressions and thoughts of mine, to share with people in the world.

Sometimes I feel envy to the others that having many followers in their page. It means that many people are interested in reading their stories. But my page… hmm… I can’t say no one wanna read (or at least see) my post, but less people read, less interactions, it seems pointless… Or it is just my thought.

Okay, I felt (and still feel) very sad of losing my Multiply page, with many precious posts and friends (that is now spreads in many social media). I missed the spirit of posting in there, where people were kindly responded to everything I posted, even the crap-est one.

Multiply, or any kind of media may close or stop, but I shouldn’t stop writing. I feel like writing a blog post is one of the ways to develop writing skills. And to make a good writing, I should read any good (or not good, too) other posts. It sounds similar to write scientific report… I need to read more to write a good report. That’s my conclusion.

So, what I wrote today? Hehehe… another crap, but I still want you all to read (and please leave comments).

Kyoto is cloudy with little shower today, Katsura campus got a windy day and my cubicle is still the same this semester, hehehe… ah, also, my baby dance a lot today (inside).

Welcome spring… may it gives me more motivation to read and write more (both blog and report).

Tuesday, December 17, 2013

Me and the Rivers

Hello hello hello hello… lama tak bersua disini :)

Apa kabar semuanya?

It’s really cold here, in my point of view, as a ‘tropic child', hehehe. Yeah, winter is coming… but not yet snowing here, so happy. However, I passed my first beautiful autumn in Kyoto with not really good impression. My body is very slow in adjusting to the weather. I just hate being outside, while the other Indonesians are busy taking beautiful autumn pictures. I realized, in term of weather, I much more prefer studying in Thailand… everyday feels like summer… fufufu~

Oke, oke, that’s me, and how about you, guys? I wish, wherever you are and whatever you do, everything is fine.

So now, what am I doing in here, far from home and apart from family…? I am studying… study and dying. Hahaha… Suatu hari, salah seorang temen nanya, “Ngapain kamu di Jepang?”, dan kujawab, “Kuliah…,”.  And, yeah, as usual… reaksinya selalu, “Kamu ambil S3?? Waaah… hebat kamu,” -____-

Emm… thanks for the compliment (shy shy), but let me explain why now I’m trapped in this 4-season-country-I-ever-dreamed-to-study-in, as I wrote in my Twitter.

One day, I saw an update tweet of the eruption event of Mount Sinabung. Then it linked to another related article, and another and another. Then I realized a thing,

“Mmm... salah satu alasan saya membelot dari bidang per-disaster-an dan memutuskan untuk back on track ke urban planning adalah...

males lihat foto2 bencana yang menyayat hati, untuk dipelajari. It was truly not fun. Cukup 2 tahun aja deh >_<

Selama 2 tahun,semua kuliah,presentasi,tugas,sampai final defence pasti ada gambar rumah hancur,mayat berserakan.. yg plg bagus cuma foto yg miraculously survive,

Dan skrg sdkt bahagia liat foto2 tempat2 keren, pemandangan bagus... insyaAllah yg ginian bagus buat jiwa deh

Studying disaster was like disasteri-ing myself... but it was because I had not enough basic knowledge in it, it was totally new for me

But as time flies, bidang disaster jadi trending, seiring dengan makin seringnya terjadi bencana (yang terekspos)

Dgn segala keterbatasanku,cuma bisa miris setiap lihat berita bencana,I really can't do nothing, I'm not such kind of volunteer person...

At that point,after 2 years studied disaster,I knew something I (maybe) can do for,at least,lessen loss or suffer....

Bikin tempat bagus dan mengurangi dampak (jika terjadi) bencana is somehow more suit to me. So that, I now study more to make it...

Orang2 lain mungkin bisa berkontribusi mengurangi penderitaan waktu bencana tanpa harus kuliah tinggi2, apalagi sampe doktoral...

But I know I'm not that great, aku harus belajar untuk bisa mewujudkannya...

Some said, "you're really smart, u r now study doctoral," I said, "I'm stupid,so I have to study more to be smart and do something great" :)

Yeah,maka berbanggalah kalian yang sudah bisa bermanfaat bagi masyarakat,entah itu hal yang kecil...

Karena bbrp orang yg krg pede sperti saya masih harus belajar banyak biar jadi bermanfaat... even harus membeku di negeri otaku...

Dan membayangkan suatu hari bisa bikin sesuatu yang keren dan memberi manfaat buat orang banyak... yang menghindarkan mrk dr bencana...

Yupp, sekian curhatnya. Ah sial lagu di radio striming menye amat sih...!!!”

That’s all :p

Kalau dibilang otakku bias njeblug, yaa… gapapa lah, asal nggak njeblug ngeliatin gambar disaster, bikin stress kuadrat. Hehehe…. Walaupun untuk belajar urban design ini aku harus kembali membuka catatan-catatan lama waktu kuliah S1 dulu, plus belajar persungaian.

Yup, I’m back to the river stuffs!

Masih inget jaman TA ku yang Selokan Mataram?? You can read a bit here.

It was me on 2011, in Selokan Mataram


Dan entah jodoh atau terbiasa, waktu bikin research plan doctoral, lagi-lagi aku membahas soal sungai, tapi yaaa nggak Selokan Mataram lagi lah, sudah tanek saya ^^

I don’t know, I just enjoy when I did my research on riverside topic, I repeat, riverside… kawasan sempadan sungai/tepi sungai, bukan sungainya… kadang ada yang nanya soal sungainya, dan I have no knowledge at all about the river or any structural stuffs about it. Orang jaman kuliah “floods and droughts” aja aku sering ketiduran lantaran sang ajarn (guru dalam bahasa Thai) sudah tua dan menjelaskan segalanya dengan lambat… hihihi.

Kembali ke riverside… musim panas 2012 lalu (for DRC/disaster resilient countries program), pertama kalinya aku ke Kyoto, hari pertama, sengaja menyasarkan diri dengan jalan-jalan di sekeliling kawasan hotel, yang ternyata… tembus di sebuah sungai besar… sungai Kamo. Dan, it was… asik banget… jalan-jalan di tepi sungai, orang-orang jogging, sepedaan, piknik, pacaran (sigh, waktu itu si Kamen Rider nggak ikutan sih). Dan saya terpana. Selain itu, sering juga diajakin sama temen-temen buat nongkrong di tepi sungai itu, sambil minum-minum setelah seharian kuliah… but they drank beer, I drank Calpis, the we both drunk… haha, mereka mabuk, aku kewaregen… hoig. Moreover, there was a lecture in the program, explaining about Kamo river design… I also presented about this topic in AIT after came back from Japan. And the professor who taught this is now become my professor…



Kamo River



Seorang temen pernah nulis di status Facebooknya, yang intinya, kenapa setiap yang belajar ke luar negeri selalu melebih-lebihkan apa yang ada di negara tersebut dibandingkan negeri kita tercinta Indonesia. Wajar sih, karena mereka nggak melihat itu di Indonesia, maybe.

Personally, buatku Indonesia adalah rumah yang paling nyaman, apalagi cuacanya yang cuma gitu-gitu aja… enak banget deh. Tapi… rumah kita yang nyaman itu sekelilingnya nggak nyaman dan nggak livable, in case dalam bidangku, ketidaknyamanan itu nampak terlihat secara fisik. Membandingkan kawasan sempadan sungai Kamo sama sempadan kali Code? Come ‘on… Aku nggak pengen juga membandingkannya cuma dari sudut pandangku, yang pernah melihat tempat lain… apa yang terlihat bagus dan nyaman, belum tentu bagus dan nyaman di tempat lain kan…

In my opinion, sekarang sempadan sungai di kawasan perkotaan kok malah kebanyakan sudah diprivatisasi sama urban slums. Nggak bisa dinikmati sama sekali sama masyarakat banyak. Giliran ditata, they act like victimized, kehilangan tempat tinggal dan (sebagian) tempat bekerja juga. Hello… dengan adanya slums di sempadan sungai, sungainya sendiri udah tersiksa… ekosistem alaminya rusak, dan dalam jangka waktu yang panjang, sungainya sendiri juga rusak. Nanti waktunya banjir… rumahnya hanyut, atau kena longsor, bilangnya nasib… hedehhh… Ibarat manusia, si sungai juga butuh space yang cukup untuk dia beraktivitas kan. Sungainya sudah direkayasa sedemikian rupa, dibendung buat ngatur airnya, ditalud biar nggak erosi, dll… tapi nggak dikasih space buat overflow, diajak desak-desakan sama rumah-rumah.

Aku sendiri membayangkan suatu hari nanti, di suatu kota di Indonesia, di kota tempat tinggalku… (now I have two hometown :D hehehe) aku bisa menikmati tepian sungai, jalan-jalan, sepedaan, piknik sama keluarga… dan pacaran sama si Kamen Rider (khekekekekkk) dengan aman dan nyaman. Sungainya bersih… tepi sungainya bagus… kan enak to…

Dan masih omong-omong soal sungai, waktu di Thailand aku sempat nyobain naik Chao Praya Express, itu adalah bis air nya Bangkok. Hahahaha, aku nyebutnya bis air karena itu sebenernya boat yang beroperasi layaknya bis kota. Naik boat, mustinya duduk, biar aman, tapi ini bener-bener kayak bis, kalau tempat duduk penuh, ya berdiri, dan berdesak-desakan. Nggak peduli airnya nyiprat-nyiprat ke muka juga >_< it was really fun.

on the boat of Chao Praya Express


Dan waktu googling kapan hari, ternyata di Kali Mas Surabaya juga udah diterapkan system serupa (yang sayangnya belum pernah kucobain), cuma jalurnya nggak sepanjang Chao Praya Express, dan penggunaannya masih sebatas wisata, bukan sebagai transportasi umum sehari-hari. Tapi, kalo yang begini, kayaknya nggak cocok diterapkan di Kali Code, yang secara topografinya hilly, nggak flat kayak di Chao Praya atau Kali Mas. Hehehe… tapi mungkin sebenernya yang kayak ginian udah biasa di Banjarmasin ya??

Anyway… belajar soal riverside design, sebenernya aku harus belajar lagi dari awal. Tentang struktur sungainya, tentang gimana membuat design-nya (secara aku bukan arsitek)… semua dari awal. Semoga bisa bikin karya yang bagus melalui studiku disini, bisa berkontribusi buat negeri kita tercinta. Dan diatas semua itu, aku cuma berharap semoga suatu hari nanti aku bisa bermanfaat untuk orang banyak. Bukan buat dikenang, cuma untuk bekal ketika nanti aku menghadap Allah, aku bisa bilang, “Semoga apa yang kubuat sudah sesuai dengan planning-Mu memberi aku hidup :)”

FOR THE FUTURE


将来 の ため に


FOR LIFE!!!

生活 の ため に!!!