Friday, March 23, 2018

Tentang Mantan

Selamat larut malam, minna...

Sudah luamaaa sekali nggak nulis blog, dalam bahasa Indonesia pula. 

Beberapa tahun lalu, Mas Kamen Rider (now is Mr. Husband) adalah salah satu loyal reader blog Saya, waktu di Multiply (ah... Multiply...). Dia pernah bilang kalau, "aku kalo baca tulisanmu itu kayak kamu nongol dari layar trus cerita". Dan beberapa tahun kemudian, muncullah era vlog, yang Mana nggak usah pake nulis, bisa langsung nongol di layar, talking about everything.

Ngomongin soal mantan. Wihhh... 

Aku sedikit terusik karena dia selalu mengganggu.

Well, both me and my husband... Still can't get over it.

Sampe kemimpi-mimpi, kadang masih teringat rasanya, pingin balikan.

Mantan tempat tinggal kami, Jepang. 

Yee mantan kan nggak selalu mantan pacar aja.

Sudah 1.5 tahun kami nggak lagi menapak disana, tapi rasanya masih susah aja buat move on. 

Kenapa? 

Apakah terlalu nyaman disana? Maybe. 

Apakah karena di Indonesia belum settle? Maybe.

Kami nyaman aja ketika hidup disana. Tapi bukan berarti apa-apa nya lebih enak disana. Kalau inget rasanya berkali-kali pulang dari lab malam hari di musim dingin, atau hujan deras naik sepeda sampai basah kuyup ya nggak enak. Wong kalo di sini (alhamdulillah) bisa ditempuh naik mobil, kalopun bukan punya sendiri bisa pake Go Car. 

Ketika disana pulang jemput si Baymax bisa mampir taman bermain dulu, yang mana tersebar di setiap RT, kadang sekalian mampir supermarket buat beli bahan makan malam, kemana-mana naik sepeda mamachari (yang ada boncengan anak nya). Disini mau main ke playground gratisan paling deket ke Denggung (itungannya jauh juga), atau main ke mall tapi bayar at least parkir nya. Naik sepeda kemana-mana biar awet singset, seems too dangerous (my family warned us a lot to not using our bicycles for daily transportation).

Oke, sebenernya kalau diinget lagi banyak plus minusnya sih masing-masing, hidup di Jepang atau di Indonesia.

But my memory keeps the sweet one better than the bitter one. That's why I keep missing the time when we were there. Maybe.

Kadang masih terucap membandingkan ketika hidup disana seperti apa, Dan seperti biasa, bagian baiknya. Padahal sesungguhnya banyak juga yang menjadi lebih mudah dan menyenangkan ketika hidup disini, salah satunya ketika males masak disini bisa ng-Go Food. Hehehe.

Move on, Tid. Ayo melangkah maju. We love the memory, but can't live in the past. Mencoba move on, bukan pertama kali kutulis dalam 1.5 tahun ini. Beberapa kali rasanya sih udah nggak terlalu "gagal move on", karena kami semakin sibuk juga dengan kegiatan yang menyenangkan, bertemu orang-orang yang asik, dan beberapa achievements (walaupun kecil) yang kami dapat... di sini.

Menulis di media baru juga salah satu usaha move on. Yang dulunya di Multiply jadi nulis di blog atau Instagram. Sama mantan socmed yang ini, move on nya berat juga. Jadi inget ketika sakit parah dulu, saya terhibur karena bisa sambil nulis blog pake HP. Belum smartphone pula HP nya. Yg kalo kepencet back ilang semua yg sudah ditulis. Hiks. Tapi seneng dan semangat banget nulisnya. Apalagi setelah di post yang baca banyak, dan banyak juga feedbacknya. If you know how Multiply worked, you'll understand why I loved it a lot.

Mantan pacar? Ah sudahlah, in the end everyone's happy. Hehehe.

Tulisan ini mungkin nggak banyak berfaedah sih, seperti juga teori-teori cinta yang dulu kutulis waktu jomblo hina. But yeah... Let's move on. Buat semuanya yang masih gagal move on. Nggak hanya soal kehidupan percintaan saja, bisa jadi tempat hidup, pekerjaan, sekolah, sosmed, barang... Anything that you cannot move on from.

Again.

We love the memory, but can't live in the past.