Monday, June 27, 2011

Me and the Indonesian Language Proficiency Test (Madness, Again)


Hay hay people! As always, how are you these days? Is it a bit cool in the morning in your place? Jogja is a bit chilly in the morning lately, but very blistering in mid day. Hosh!

It was Wednesday morning when the SMS from Balai Bahasa received in my phone, “Mbak, besok UKBI jam 8.30, mohon datang sebelumnya,” what the hell… I was in Jakarta that time, and my train to Jogja still had 11 hours to go! I texted my friend to tell the officer if the next day I come later than 1 hour, it means I cancel the test. My train planned to be arrived in Jogja at 4.30 AM, but I didn’t know what was happened in the previous stations (I slept during the trip), I arrived in Jogja at 6.30 AM. WHOAAAT! I only had 1 hour to the test time, and my house is in Prambanan.

Aku sampai rumah, langsung taruh tas, mandi bebek, ambil pensil 2B, setip dan rautan, nggak lupa duit 40.000 (as stated in the UKBI brochure), langsung meluncur lagi ke Kota Yogyakarta (BGM Gamelan ngepop ala FTV). Dan sampai disana… Belum ada orang, termasuk petugasnya. Apik tenan…

Selang beberapa menit, aku duduk-duduk di depan Balai Bahasa, datanglah seorang ibu-ibu dengan tergopoh-gopoh, “Maaf ya mbak, tadi saya nganter anak saya dulu,” Oh noo… katanya suruh datang sebelum jam 8.30, dan ini sudah hampir jam 9! (dahiku langsung berlipat) Lalu aku disuruh duduk di suatu ruangan, menunggu peserta lainnya datang. Oke, I admit it, saya adalah seorang yang sangat mengutamakan punctuality, yang mana orang-orang Indonesia kebanyakan enggak! Sering banget tuh kalau ada acara atau janjian, aku dateng tepat waktu, bahkan seringnya sih kecepetan. Kalaupun harus telat, pasti ngasih tau dulu kalo bakal telat. Makanya aku suka bete banget kalau ada orang yang ngaret, nggak ngabarin pula *sigh.

Waktu menunggu, datanglah 2 anak perempuan seumuran sama aku, berkulit putih, badan pendek kecil, dan bermata sipit, dari Vietnam. Oh ternyata tes kali ini diikuti juga sama peserta asing, buat ngukur kemampuan bahasa Indonesia mereka. Nggak berapa lama, datang lagi mbak-mbak berjilbab dari UNY, yang ikutan tes ini buat syarat CPNS. Hmm… baiklah, sebelum memulai cerita mengenai prosesi UKBI hari itu, akan kubahas dulu apa itu UKBI.

UKBI, Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia atau bahasa Inggrisnya Indonesian Language Proficiency Test. Yap, ini adalah tes Bahasa Indonesia, setara dengan TOEFL atau JLPT. Tujuannya ya menguji kemampuan peserta dalam menggunakan Bahasa Indonesia. Materi dan prosedur tesnya mirip banget dengan TOEFL, ada listening (dengaran), written expression, dan reading (memahami bacaan). 

Kedengarannya aneh kan, ada tes Bahasa Indonesia? Awalnya aku juga bingung. As I ever said before, I recently am looking for scholarship/financial aid to support my Master study. Dan ketika sedang browsing beasiswa unggulan Kemendiknas, tiba-tiba ada requirement yang menyebutkan harus menyertakan hasil Uji Kemampuan Bahasa Indonesia. Haaah? Emang ada ya? *garuk-garuk kepala. Aku pun seperti biasa langsung bercurhat ria sama temenku, anaknya dosen pembimbingku juga, yang lagi sama-sama cari beasiswa gara-gara udah diterima duluan sama universitas di luar tapi nggak ada biaya. Eh ternyata dia dapat informasi, tesnya diadakan di Balai Bahasa (di Jogja itu ada di Kotabaru, belakangnya Mirota Bakery), dan dia udah tanya kesana, katanya harus nunggu kuota peserta terpenuhi, yaitu 20 orang. Ah, daripada nggak jelas, akhirnya aku tanya langsung deh ke Balai Bahasa, dan sialnya ternyata yang daftar tes itu baru 2 orang, yaitu 2 pemudi dari Vietnam tersebut diatas. Hiks. Padahal kami butuh banget, setidaknya sebelum bulan Juli.

Aku pun meninggalkan nomor HP, biar bisa dikabari kalau kuota sudah terpenuhi. Selain itu, aku juga gathering temen-temen buat ikutan UKBI juga, sampe woro-woro di Twitter dan Facebook. Dan sampai 3 minggu setelah itu masih juga belum ada kabar kepastian dari Balai Bahasa, entah gimana negosiasinya, tiba-tiba temenku itu ngabarin, “Tid, kata ibunya Balai Bahasa, bakal diadakan ujian special nih, karena kuotanya belum penuh, tapi kira-kira minggu depan gitu,” katanya di telpon, and you know what? Waktu itu hari Jum’at siang, aku lagi ada di stasiun Tugu, nunggu kereta buat berangkat ke Bandung dan baru akan pulang setelah urusan visa selesai (yang masih nggak tau kapan). Wew. Que sera sera… kita tunggu saja kabar selanjutnya, kapan tanggal fixed nya. And as I mentioned above, kabar itu baru kudapet sehari sebelum tanggal tes. Double wew.

(Me and my sister @ Nanny's Pavillion, Bandung. 
Look, we aren't look alike, right?)

Setelah kehebohan sebelum tes (hiperbolis), akhirnya kami pun masuk ke ruang tes yang super luas! FYI, biasanya tes ini diikuti oleh instansi yang sekali tes pesertanya mencapai ratusan orang. Tapi karena bukan lagi musim tes, maka lembaga ini lagi sepi order tes. Biasanya yang menyelenggarakan tes ini adalah beberapa perguruan tinggi yang memasukkan UKBI sebagai syarat kelulusan atau syarat untuk ujian pendadaran. Sekarang, karena dipandang penting, maka UKBI menjadi syarat juga untuk penerimaan pegawai atau beasiswa (seperti kasus saya). Karena ini tes special order, maka ruangan yang super luas itu hanya diisi oleh 6 orang peserta, aku, 2 cewek Vietnam, mbak-mbak UNY, temenku, dan Dakunk (temen yang berhasil kuseret ikut UKBI).

Tes dimulai.

Tet tereteeet!

Seksi satu, dengaran/listening. 40 soal.

Sumpah mau ngakak waktu denger music opening listening section versi Indonesia ini. sampai sulit kuungkapkan dengan kata-kata, karena… seperti soundtrack film-film tahun 90an! Dan, ehm, cara bicara dan aksen pembicaranya persiiiiis banget kayak di film-film tahun 90an itu, bahasanya baku banget, dan kaku. Aduuuh… perutku sampai rasanya kayak dikocok, tapi mau ketawa nggak enak, akhirnya aku gigitin pensil deh buat nahan ketawa. Dari segi materi, soal listening hampir sama lah kayak TOEFL. Tanpa bermaksud merendahkan, karena aku juga belum lihat nilainya, tapi buat orang Indonesia ini terlalu gampaaaang.

Seksi dua, written expressions. 25 soal.

Seperti biasanya soal-soal written expressions. Ada 2 bagian dari satu kalimat yang dicetak tebal/bold, yang mana salah satunya itu salah, dan harus memilih yang benar dari pilihan A B C D. Lumayan lah, yang ini harus pake logika, feeling, dan teori Bahasa Indonesia (yang mana aku lupa semua!).

Seksi tiga, pemahaman bacaan/reading. 40 soal.

Nggak seheboh TOEFL, karena sebagai native speaker, kita nggak perlu menerjemahkan lagi kalimat-kalimat dalam bacaan. Kalau TOEFL kan harus melewati fase “translating” dalam otak buat memahami bacaan, dan masih harus “translating” soalnya lagi, dan masih harus “translating” lagi buat jawabannya juga. Kalau ini tinggal baca aja, jawab pertanyaan, kalau bingung jawabannya apa tinggal lihat bacaan lagi.

Selesai.

Aku keluar paling cepet. Kenapa? Bukannya sombong karena bisa Bahasa Indonesia, tapi karena aku udah nggak konsen lagi buat mengoreksi ulang jawabannya. I was too tired after spending a whole night in train… :(

Secara umum keberadaan tes ini boleh juga. Walaupun banyak kekurangan di sana-sini. Buku soalnya nggak diperbarui. Mungkin aja mereka punya beberapa versi tes, tapi bukunya bener-bener lusuh dan banyak coretan. Terutama buat seksi dengaran, udah pada dititikin jawabannya. Answer sheet-nya, walaupun peserta harus menghitamkan lingkaran dengan pensil 2B, tapi jelas itu bukan answer sheet untuk computer, karena nggak ada garis-garis kalibrasinya.

Sebenarnya aku agak merasa lucu, kenapa kita harus ambil tes ini? Kita orang Indonesia, native speaker Bahasa Indonesia. Masa nggak cukup kah bekal kompetensi Bahasa Indonesia kami waktu sekolah? Sampai-sampai candaanku sama temenku itu gini, “Po (apa) perlu aku bawa nilai UAN-ku waktu SMA dulu? Nilainya kan dah bagus,” hahaha… Aku nggak tau, menurutku sih, kalau konsep materinya seperti TOEFL, harusnya tes ini lebih pas untuk orang asing, TOEFL kan juga “for foreign language”. Sedangkan native Indonesian lebih pas ada tesnya sendiri. Tapi… setelah kupikir lagi, nggak apa-apa lah, daripada harus susah-susah belajar lagi, teori Bahasa Indonesia kan susaaaah!

Newest news, sekitar 2 jam lalu aku diSMS sama Balai Bahasa kalau sertifikat UKBI-nya udah jadi. Aku masih menyelesaikan ngetik posting ini. Karena nggak ada koneksi internet, aku pending deh postingnya. Aku save. Terus berangkatlah ke Balai Bahasa. Dan taraaaah... ehem ehem... skor yang saya peroleh adalah... 705 dengan peringkat kemahiran "Unggul". Fufufu... Leganya... Sekarang saatnya kembali ke ranah scholarship hunting!!! Semangat, and (again) never stop learning and keep being modest :)

Sunday, June 12, 2011

Wedding Inspirations




Don't get it wrong! I'm not about to get married so soon or preparing my own wedding. I just love to see and collect the wedding photos from many sources, such as greenweddingshoes and Etsy. Really loves those wedding stuffs :)

Hmm... many of them are stuffs I want for my own wedding someday, but since I am purely Javanese, maybe it would be a lot of adjustments with the culture here :D but I really love it.

Maybe the photo collections here could give inspriration for those who will get married sooner than me.

Enjoy them all, and get inspired!

---
Related posts:

http://nekopinku.multiply.com/journal/item/164

and

http://nekopinku.multiply.com/journal/item/183

PS: I didn't change the file name, you may Google it if you want the complete sets :D hehehe...

Monday, June 6, 2011

15.151 what a nice number, thanks to you friends and readers :)

Sunshine After Storm


Haay… how are you people? Hope you are all healthy and happy as always :) 

Udah lama juga yah aku nggak nulis teori cinta-cintaan. Oke, early warning, jangan percaya sama teori-teoriku yang ngaco yah, walaupun sudah punya pacar, tapi masih meragukan validitasnya. Hahaha…

Hmm, sebenarnya aku sudah agak lama pengen menulis tentang ini. How you can move on after a very painful separation…? It must be vary in different people. As for me, here’s the story!

Baiklah, bagi anda-anda yang belum pernah membaca posting-posting saya berbulan-bulan yang lalu, singkat cerita lebih dari setengah tahun lalu, aku mengalami patah hati hebat, yang bisa dideskripsikan dengan I became much more like a zombie, makan tak nyenyak, tidur pun tak lezat. “Aku berasa kayak diiris pake pisau roti, sruk sruk sruk, dikit-dikit tapi sakit dan yang jelas terpotong jadi beberapa bagian tidak sama rata,” (A Review, Dec 30th 2010) Nah, kira-kira begitu.

Bagian bangun menata kembali serpihan hati yang hancur berkeping-keping itu yang nggak mudah. Mengobati lukanya aja rasa perih, kayak dikasih alcohol 70%, cesss… tapi nggak pleng :D yeah, I didn’t know where the ideas come out, I start to read Al Qur’an. Hmm, oke oke buat kalian yang sudah sampai pada level yang lebih hebat dari itu mungkin bukan apa-apa ya, but well, that helped me a lot. Entah kenapa, mungkin karena udah lama nggak baca, jadi aku bacanya masih plegak-pleguk, penuh konsentrasi, dan mungkin itulah yang membuatku nggak punya waktu buat mikir macam-macam.

Aku kira  yang dimulai dengan baik (seharusnya) diakhiri dengan baik juga. Tapi tidak dengan kisahku yang lalu. Berakhir begitu saja, berlalu menghilang seperti angin. And, maybe he already get another in a flash (I’m sorry if I’m mistaken). Dan aku sendirian, bertanya-tanya, what was happened… 

But time really a good healer. Waktu berlalu, seiring dengan waktu dan sikapnya yang membuatku semakin ilfil. Aku pun mulai berjalan tegak lagi. Konsentrasi pada hal-hal lain. Seorang sahabatku yang sudah menikah pernah bilang, “Kamu konsentrasi dulu mengejar mimpimu, di saat yang nggak terduga kamu akan bertemu cintamu,” wow, how wise she is… Dan di waktu itu, aku dalam kondisi udah menjomblo hina, belum lulus pula. Hahaha! Maka targetku adalah: LULUS.

TA itu menguras hati. Apalagi semakin mendekati pendadaran. Waktu itu aku pingin ikutan wisuda periode November, apa daya… aku baru pra-pendadaran pertengahan Oktober, dan revisinya setumpuk, hiks, melayang sudah impian pake toga di bulan November. November kelabu. Tapi semangatku nggak padam, didorong oleh keinginan yang kuat untuk enggak kesalip adik, dan masih dendam patah hati, maka tekadku adalah “patah hati bukan membuatmu jadi down, tapi harus membuatmu menjadi lebih baik, at least untuk dirimu sendiri,” kataku dalam hati. And… voila! Now, I am officially a bachelor of engineering, a present for myself, the best thing I ever achieved in my life :) Nggak cukup sampai di situ, walaupun masih harus berjuang lebih keras, so here I stand now… I will go abroad to continue my study. Hal yang nggak terbayangkan bisa aku capai…

Seorang temenku, cewek, pernah juga mengalami hal yang sepahit itu. Ditinggal, dan disuruh melupakan, dikirimi kartu pos pula, yang hanya terdapat 2 kata: good bye. Damn. Kalau itu aku, aku bakal menggantung tuh cowokl di atas pohon kapas, kutusuk-tusuk pake bamboo runcing dan aku tenggelemin di Selokan Mataram (sadistic me *devil laugh*). But now, she (my friend) stand so tall, already graduated and accepted in university in Europe for master. Howahahaha… patah hati itu… memang seharusnya menjadikanmu lebih baik, bukan untuk membuatnya menyesal, tapi untuk dirimu sendiri

Beberapa orang, baik pria maupun wanita kadang susah untuk mengendalikan patah hatinya. Diputusin… terus main ngancem bunuh diri, malah ada yang bunuh diri beneran. Ckckck… bukannya merendahkan perasaan sakit hati bagi mereka yang seperti itu ya, tapi buat apa sih menyakiti diri sendiri, wong patah hati aja udah sakit. Kalau mau nangis, nangislah sekerasnya, kalau mau anarkis, tahan yaa… jangan merugikan orang lain lah. Hhehe… tapi dirimu sendiri terlalu berharga kalau untuk dikorbankan untuk sebuah cinta yang memang bukan untuk kamu. Boleh lah kalau mau bilang, “Tapi dia yang terbaik untukku…,” hmm, yang terbaik menurut kamu belum tentu terbaik menurut Tuhan. So, instead of hurting yourself or force yourself to forget the guy, let’s just follow the path God shows us to. Bukan nggak mungkin, setelah itu bakal ketemu cinta sejati.

Aku bersyukur bertemu dengan kekasihku sekarang. Ah bukan bukan, aku kenal dia bahkan jauh sebelum “badai” itu terjadi. Aku nggak tau apakah dia yang akan menjadi yang terakhir buatku, aku nggak berani melawan kuasaNya. Hanya saja, saat ini aku ingin menjalaninya dengan lebih baik, tanpa harus dibuat-buat, dan (Alhamdulillah) sekarang aku merasa bahagia dengan dia. Aku pun nggak menyangka, kenapa malah jadinya aku pacaran sama dia ya? Yup, love comes to us and we are now become lovers. Sahabat penaku, menjadi kekasihku. Let’s see what will happen next….


I am glad I could move on, still alive, healthier, graduated, continuing life happily and loved :) 

There’s always sunshine after the storm!