Friday, July 29, 2011

Chasing Scholarship #1


Hay hay people!!! How are you? Aal iz well?? :)

I’m sorry for quite a long time not updating the journal, kinda busy preparing of leaving for Thailand by next week. And… surprisingly, I am called for scholarship interview last week. And… here’s the story!


Oke, jadi ceritanya hari Selasa atau Rabu minggu lalu nggak sengaja aku lihat update Twitternya Dikti, katanya pengumuman hasil seleksi tahap 1 sudah ada di website. FYI, aku ikutan daftar Beasiswa Unggulan (BU) Dikti. Maka dengan rasa penasaran plus excited plus harap-harap cemas, aku langsung nyalakan PC, sambung internet, buka Twitternya Dikti, terus aku buka deh link-nya, dan… teroretroreeet… ada nomor registrasiku!!! Lalalalala... senengnya bukan main, sampe teriak-teriak di rumah, sampe sama mamaku dikira ada kebakaran. Heu...

Why BU Dikti? Emang nggak dianjurkan sih sama dosen-dosenku buat daftar beasiswa ini, tapi aku nekat aja. Dengan pertimbangan setelah lulus S2 memang aku berencana untuk jadi dosen, walaupun konsekuensi bagi penerima beasiswa ini adalah ”mengabdi kepada Dikti selama waktu 2n+1”. Jadi kalau ambil S2 dua tahun, ya harus mengabdi pada Dikti selama lima tahun, dan itu adalah... ditempatkan dimanapun Dikti butuh, termasuk di Indonesia timur. Mati aku! Tapi hajar aja lah... I necessarily need any financial aid to support my study. Sumpah nggak enak banget kalo masih bergantung sama ortu, hari giniiii pula.

So, beberapa bulan lalu, aku menerima letter of acceptance (LOA) dari AIT, yang dengan so sweet nya tertanggal 12 Mei 2011, pas banget di hari ulang tahunku yang ke 24 (hik, terharu...). Dan kaget setengah mati lihat angka-angka yang tertera di dalam surat, di kolom SELF-SUPPORT, yang kalo dirupiahin kira-kira bisa buat bikin rumah. Mateng kooon! Dari mana duit segitu? Ortuku harus jual sawah tuh. (nangis darah, guling-guling di pasir, garuk-garuk aspal). 

Dan setelah cari info kesana kemari, akhirnya kucoba lah apply BU Dikti ini, dengan segala terms and conditionnya. Sebenernya bingung juga, karena secara pekerjaan I currently UNEMPLOYED yet, bener2 pengangguran, jadi nggak ada instansi yang mengirim ataupun merekomendasikan aku (sedih). Padahal gosipnya beasiswa ini khusus buat dosen, atau calon dosen. Nah, aku mau daftar jadi dosen di UGM aja udah hopeless gara-gara IPK nggak memenuhi... gimana coba. Nekat aja deh, aku kirim formulir beserta dokumen-dokumen yang harus dilampirkan. Mana ngirimnya udah mepet deadline, mana skor TOEFL-ku belum jadi. Haaa... pusing banget. Tapi kata dosenku, ”Kayaknya boleh disusulkan deh, kamu bikin surat pernyataan bermaterai aja,”. Dan yak, kubuatlah surat pernyataan bermaterai kalo skor TOEFL-ku belum jadi dan bakal nyususl secepatnya. Baru sekitar 2 minggu kemudian aku kirim sih... hehehe... 

Selanjutnya, saya menunggu nasib, lolos seleksi syukur, nggak lolos juga syukur... (pasrah banget). Dan ternyata lolos, dipanggil wawancara. Sialnya, di surat tertulis ”jadwal dan tempat wawancara menyusul (tentatif)” wah!

Tiap hari kupantengin twitter, kok nggak nongol-nongol tuh update jadwal. Aku telpon ke kantor Dikti pusat yang di Jakarta, telponnya dialihkan, terputus begitu saja. Kirim e-mail ke Dikti, juga nggak dibales-bales (and you know what? Baru dibales 2 hari setelah wawancara, “Wawancara di Yogyakarta sudah dilakukan pada tanggal 23 Juli 2011, jika belum mengikuti wawancara bisa mengikuti di kota lain,” *deep sigh). Aku baru tau ada jadwal wawancara waktu apa coba? Pas lagi makan-makan sama geng temen-temenku SMA, hari Jumat malem, dan salah satu temenku bilang, “Lho Tid itu kan wawancaranya besok di Inna Garuda,” whaaaat? ”Coba kamu liat website lagi deh, baru tadi kok updatenya,” edyan.

Sampai rumah langsung aku cek ke website Dikti, dan beneran, “Hari Sabtu tanggal 23 Juli 2011 jam 08.30 di Hotel Inna Garuda”, baguuss… Pas banget di hari itu si Kamen Rider dateng ke Jogja, berantakan dah jadwal kencanku pagi itu. Tapi..., ehm, si Kamen Rider mau mengantar dan menungguiku wawancara. HOREEE!!

And as planned, pagi jam 8 aku berangkat dari rumah menuju Hotel Inna Garuda di Malioboro, berbaju rapi pake rok item dan blouse ijo toska, dandan cantik, kinyis-kinyis (halah). Sebenernya grogi, tapi tekad dari rumah, ”Jadilah dirimu sendiri, toh dapat atau nggak dapat beasiswa ini aku tetep berangkat, nanti bisa cari beasiswa lain, sejuta jalan menuju Roma, tuntutlah ilmu sampai ke negeri CINAAAA!!!” (raise a punch to sky!) Eh aku kan mau ke Thailand, salah salah.

Fakta mengejutkan, sampai di venue, aku tanya satpam, ”Pak wawancara Dikti di ruang mana ya?” pak satpam nggak tau, suruh tanya di resepsionis. Dan… aku tanya resepsionis, “Nggak ada tuh mbak…,” lah ini gimana to, apa aku salah jadwal lagi ya? (garuk-garuk kepala), bingung, mulai panik, ”Ini yang lainnya juga pada nanyain Dikti,” kata mbaknya sambil menunjuk ke arah kursi-kursi. JRENGGG!!! Ternyata ada mbak-mbak mas-mas segambreng berpakaian rapi yang bertujuan sama, dan sama-sama terdampar. Hahaha... piye to iki? Untungnya diantara mbak-mbak dan mas-mas itu, aku menemukan 2 sosok yang kukenal, kakak-kakak angkatanku (yang sudah berprofesi sebagai dosen UGM, envyyy...). 

Hampir sejam terlunta-lunta nggak jelas, akhirnya muncullah professor-professor dari Dikti. Dan sepertinya ada yang nggak beres dengan reservasi dengan pihak hotel. Tapi apa pun, toh itu urusan mereka (walopun aku sempet ngedumel juga tadinya, hehehe).

Fokus, apapun yang akan terjadi di ”ruang eksekusi” nanti, nothing to lose aja, begitu pikirku selama menunggu. Sambil ngobrol-ngobrol dengan si pacar dan peserta-peserta wawancara yang lainnya. Beberapa orang yang sudah diwawancara mulai mengeluarkan kisi-kisi pertanyaannya. Wah, lumayan berat juga, tapi sekali lagi, hajar ajaaa!

Tibalah waktu aku dipanggil. Aku melangkahkan kaki dengan mantap ke ruang wawancara. Tapi, brrr... aku disambut sama dinginnya AC, jujur yaa... kalo wawancara di ruang ber-AC duingin gitu seringnya aku malah jadi kagok, susah ngomong dll karena fokus menghangatkan badan. Hahaha... So, que sera sera... kita lanjut ke sesi wawancara!

Wawancara berlangsung menggunakan bahasa Inggris, sodara-sodara, yap, bahasa Inggris full, nggak ada campuran Indonesia-nya blas, walaupun bapak-bapak pewawacara adalah orang Indonesia asli dan logatnya juga medhok. Berat berat..., walaupun aku juga suka sok-sokan pake bahasa Inggris, it does not mean I can speak English fluently, aslinya aku plegak-pleguk abis. Sampe disindir sama si bapak pewawancara, “Your TOEFL score is pretty good but you seems so nervous speaking in English,” dan kujawab, “Yes, I am nervous, honestly,” sippp… cakep banget deh dibantainya. Huftt.. 

Pada dasarnya beasiswa ini cukup memberatkan pada kesanggupan peserta untuk memenuhi kewajiban “mengabdi” setelah menyelesaikan studinya. Pertanyaannya malah kebanyakan seputar rencana menikah. Aku malah ditanya udah punya pacar, kalian ada rencana menikah kapan, pacarnya kerja dimana, apa dia setuju kalau kamu ditempatkan dimana saja, dll dll. Ini kok lucu juga ya, malah jadi santai gitu rasanya, kayak nggosip aja. Ya aku jawab aja apa adanya. Kalau mengabdinya hanya selama 2n+1 sih masih oke, tapi kalo lebih, bweh... mikir lagi. Beberapa peserta yang udah bekerja atau terikat sama instansi malah kelihatannya lebih ribet lagi, karena urusan kontrak ini-itu. Karena yaa, itu tadi, penerima beasiswa harus mau ditempatkan dimana saja.

Uwaaah... (stretching stretching)

Sekian sharing saya mengenai kejar-kejaran sama BU Dikti. Sampai tulisan ini diketik, masih belum ada pengumuman selanjutnya dari Dikti. Sementara hari keberangkatan sudah tinggal seminggu lagi. Doakan saja saya beruntung, dan mendapat hasil yang terbaik. Amiin... SEMANGAT SEMANGATTT!!!

For dream

For the future

For life!!!


Monday, July 18, 2011

Everyone’s Timing


こんばんわ!

How are you all, people? Always always wishing you all as healthy and happy as I am now . Yes, I don’t know why I am feeling so blessed lately. I’m really grateful :)

Siang hari yang panas itu, aku sedang main ke rumah temenku. Angin sepoi-sepoi di dalam rumah berhasil membuat mataku terpejam dan jatuh tergelundung di atas tempat tidurnya. (Oke, sebelum kalian berpikir macam-macam, FYI ini temanku cewek kok, asli, bukan jadi-jadian, hahahaa!).

“Eh tid, aku kemarin dateng ke nikahannya Galih (temen kami SMP),” mataku terbuka sedikit.

Sambil malas-malasan, aku menjawab, “Wah iya, minggu lalu aku melewatkan 3 undangan nikah temen-temen,”. Iyalah, orang aku asik-asik jalan-jalan ke Surabaya, ketemu si Kamen Rider (maafkan saya teman-teman… sungguh).

“Emang siapa aja?” tanya dia.

“Galih itu, terus Asdi, sama Kiki juga,” jawabku lagi. Masih dengan kriyip-kriyip.

“Wah…, anak-anak dah pada nikah aja ya, si Erlin dah mau punya anak, yang lainnya udah pada mau wisuda yang kedua, aku lulus aja belum,”. Sampai di situ aku terdiam. Menggulung badanku berbalik ke arahnya.

“Hey, setiap orang itu punya timing-nya sendiri-sendiri, lulus, kerja, nikah, punya anak, atau S2. Yang penting kan nggak berhenti berusaha yang terbaik. Aku sih yakin kamu bakalan lulus di waktu yang tepat buat kamu, mungkin aja setelah itu rejekimu bisa jadi lebih lancar dari temen-temen yang lulus lebih dulu,” kataku. Sekenanya.


Berhari-hari setelah itu, baru kupikirkan kembali pembicaraan siang itu. Timing ya? Hmm… aku juga mulai mikir hal-hal yang terjadi sama aku saat ini pasti memang sudah di-plot timing-nya dalam masterplan maha besar milik Allah. 

Aku bersyukur dengan apa yang udah terjadi sama aku saat ini. Lulus di waktu yang tepat, bulan Februari lalu, walaupun gagal ngejar wisuda November, tapi at least wisuda bulan Februari bisa dihadiri sama sekeluargaku lengkap! Coba November… hmm… udah bertepatan pas papa-mamaku pergi haji, Gunung Merapi njeblug, dan upacara wisuda diundur ke Februari… SA-MI-MA-WON. Hahaha!

Bersyukur juga, walaupun belum diberi kesempatan untuk bekerja praktikal, even mroyek sama dosen pun aku nggak pernah dibagi, tapi aku diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan S2, dan selangnya pun nggak lama dari kelulusanku. Nggak jadi nganggur deh. Alhamdulillah…. Padahal selama ini aku suka iri sama temen-temenku yang udah pada mroyek, enak banget masih kuliah aja udah dapet duit, dapet pengalaman serenteng buat CV pula. Ya itu mungkin garis yang ditakdirkan buat mereka, rejeki mereka. Timing kerja buatku mungkin setelah ini ya, itu pun aku yakin juga harus berusaha keras lagi buat sukses. Yang penting kan nggak berhenti berusaha sebaik-baiknya, pasti nanti dikasih deh pekerjaan yang paling cocog (pake G) buat aku :)

Soal jodoh dan nikah, ahh... temen-temenku udah pada main nikah, hamil, dan punya anak aja. Aku kapan yaa? Hmm, selintas emang sepertinya enak ya sudah nikah, bisa bareng pasangan terus, sak tidurnya juga. Kenapa aku nggak nikah sekarang aja? Kan udah punya pacar juga. Hahaha..., balik lagi ke timing, iya temen-temen dapet kesempatan nikah lebih dahulu, tapi aku juga dapat kesempatan buat kuliah lagi lebih dahulu juga dari mereka. Tapi..., ada juga sih temenku yang udah nikah, dan sekarang juga ngelanjutin kuliah S2-nya di luar negeri pula. Sugoooi… (melongo hebat). Tapi lagi, dia sama suaminya long distance marriage. Haaa... kalo aku mah mana tahhaaaan :D So, lebih baik kuselesaikan saja dulu apa yang kumulai ini, selama 2 tahun ke depan kuliah yang bener, dapet ilmu yang cukup (plus gelar :p), pulang ke Indonesia, dan nikahnya insya Allah dengan orang yang bersamaku saat ini (yes, the Kamen Rider), amin. Hmm, quite a nice plan, isn’t it? ;D (wink)

Kuakui, dulu aku pun mengucap hal yang sama dengan temanku itu. Rasanya kok desperado banget. But, yeah... segalanya memang sudah ditentukan timing-nya sendiri-sendiri, dan benar, semuanya indah pada waktunya (klise abis dah!). 

一生にもっとがんばりましょうー!

---
Photo credit to my little female cousin Arisa Hertanti, she's really good in photo editing, love you <3

Monday, July 4, 2011

Meet the Parents


Yes. I have met them, his parents :)

I visited Surabaya last weekend, not weekend actually, it was Thursday. Di perjalanan pulang dari Banyumas buat mengantar adikku koass, aku bilang sama mama kalau pengen ke Surabaya, alasannya sekalian mau ke Situbondo buat nyekar uti karena Lebaran nanti kan aku nggak bisa ikutan mudik (hiks). Dan mamaku langsung approved! Hore!!!

And as you know, Surabaya is not only my parent’s hometown, but it also a city where my boyfriend live in. Sebenernya pasti papa-mamaku juga tau, kalo aku minta ke Surabaya, bias dipastikan 100% akan ada alokasi waktu untuk bertemu dengan si pacar. Senangnya, orangtuaku fine-fine aja tuh, malahan aku disuruh ngajak dia ikutan ke Situbondo, jadi pawangku :D

Oke, this post is not about me visiting my grandmother’s grave, so let’s talk about the thing I mentioned in the title, MEET THE PARENTS. Bagi teman-teman yang mengikuti blog-ku dari masa perjombloan, inilah stage baru yang aku hadapi saat ini di masa berpacaran.

Hari Kamis pagi, jam setengah 7, aku memulai perjalanan dari rumahku di Prambanan. Seperti biasa, jam segitu si Kamen Rider baru saja sampai kantor, dan memulai SMS-an pagi. ”Hai, hari ini acaramu apa?” tanyanya. Padahal rencananya aku mau kasih dia surprise dengan tiba-tiba muncul di Surabaya hari itu. Sebenernya udah janjian sih, tapi dia taunya aku selalu datang hari Jum’at. Dan sebagai orang yang nggak pinter berbohong, aku pun bingung, kujawab hari ini mau ke kota (Kota Yogyakarta secara administratif), puter-puter aja. Untungnya pagi itu dia nggak banyak nanya, aman...

Siangnya, jam makan siang, aku baru nyampe sekitar Ngawi-Nganjuk, entah kenapa dia mulai tanya-tanya, lagi apa, sedang dimana kamu, dan lain-lain. Haduuh, sekali lagi ya, aku nggak pinter berbohong, dan payahnya panas matahari siang yang terik itu menyerap semua kreativitasku dalam berkata-kata. Mati aku! Sebisa mungkin aku nggak berbohong, tapi rencana tetap tidak terendus sama sang target (halah, kayak reality show Katakan Cinta wae). Dalam hati berdoa moga-moga jam makan siang cepet berlalu dan dia konsen lagi sama pekerjaannya, jadi aku bisa tenang sampe ke Surabaya.

Sekitar jam 4 sore aku sampai di Surabaya, aku SMS dia, ”Hari ini di hectic kah di kantor? Nanti lembur?” tanyaku. Dia jawab, ”Nggak terlalu hectic dan nggak lembur, kenapa?”, lempeng. Senyum isengku mulai berkembang, perutku geli saking excitednya. ”Kalau mau nanti buka puasa bareng aku yuk,” kataku, yup, dia hari itu memang lagi puasa. Dan dia cuma bengong (sepertinya), ”Buka puasa sama kamu?” tanyanya. Perutku tambah geli, aku mulai ketawa ngikik kayak orang gila, aku bales, ”Iya, aku udah di rumah Ketintang (rumah keluarga papa)”. ”Yaampuuuuuun!! Omaigaaaattt!!! Awas kamu yaaa!” jawabnya, dan meledaklah tawaku. Hahahahaha!!! Sumpah, aku seneng banget bisa ngerjain dan ngasih dia surprise sedemikian rupa! Lalalalala~

Habis pulang kantor, dia mampir ke rumahku. Sambil masih takjub dan merasa tertipu. Tapi mukanya seneng. Yup, aku memang sengaja buat dateng lebih awal, untuk memberikan hari yang beda dari rutinitasnya. Dan sore itu kami bercengkerama sebentar, tiba-tiba dia bilang, ”Kamu ke rumahku yuk,”. Aku terdiam sejenak, ”Boleh, toh besok masih ada waktu,” kataku. Whoaaa, ke rumah dia... it means akan ketemu dengan keluarganya, orangtuanya, jadi deg-degan.

Actually it wasn’t the first time, sebelum-sebelumnya aku juga pernah bertemu dengan orangtua pacar-pacarku (sekarang mantan-mantan) dan syukurnya selalu berakhir baik. Entah karena aku udah lama nggak mengalami momen seperti itu, atau memang aku masih merasa I’m not good enough to be introduced, tapi kali ini aku bener-bener nervous. Apakah dengan menjadi diri sendiri cukup untuk disukai oleh orangtuanya...? Apakah harus memoles diri sedemikian rupa? Dia sih sudah dari dulu ngasih kisi-kisi, tips and trick buat ketemu orangtuanya, kayak guru yang nggak mau muridnya gagal UAN, hehehe... Tapi aku takut kalau terlalu banyak trik, jadinya malah bukan diriku sendiri yang keluar, sama aja aku cuma pake topeng dan berakting, nggak keren ah. Semuanya memang harus balance, tetap jadi diri sendiri, tapi juga tunjukkan yang terbaik. So that’s why I cut my blue hair extension, wore polite outfit, and groom well. Not to impress his parents, but a way I respect myself to be respected by others. 

Sejam sebelum dijemput sama dia, wih… aku nervous setengah mati. Wah... bakal gimana ya, bakal ditanyain apa, sampai-sampai aku bikin simulasi adegannya dalam otakku. Hahaha...! Namanya juga orang grogi! *excuse....

Lagi-lagi habis pulang kantor, dia pun jemput aku, dan langsung ke tancap ke rumahnya, bersama si kecoak tempurnya yang berwarna kuning bak Bumblebee. Jalanan yang macet bikin waktu deg-degan ku tambah lama. Hezz... gek ndang ketemu lak malah ilang deg-degan e (cepetan ketemu kan malah ilang deg-degannya).

Sampai di rumahnya, ketemu mamanya, eh ternyata ramah dan bersemangat gitu orangnya, ngobrol dengan antusiasnya. Jan pada dasarnya aku juga suka ngobrol, begitu lawan ngobrolnya enak, aku ngalir aja (walau tetap terkendali, hihihi). Ketemu papanya, malah nyambung karena ternyata kami berada dalam bidang ilmu yang berdekatan. Wah jadi seruuu!

Dan tibalah saat yang paling mendebarkan, makan malam. Why??? Karena... ehm... karena di kegiatan ini seringnya adaaaa aja hal-hal yang di luar kendaliku. Kemungkinan terjadi lauk yang mencelat dari piring, atau sendok atau garpu jatuh, atau gelas tumpah sering banget terjadi. Dan aku setengah mati banget meminimalisir hal-hal tersebut. Sampai otakku capek berdoa :D untungnya..., semua berjalan lancar, walaupun si iga bakar berniat buruk sama aku dengan alot banget dipotongnya. Hehehehe...

Kadang bertemu dengan orangtua pacar/camer itu bikin salah tingkah, apalagi pertama. Aku tanam baik-baik pesan orangtuaku, "First impression itu penting, karena akan melekat padamu sampai kapan pun". Aku berusaha tidak berlebihan dalam menutup kekuranganku, pun juga menunjukkan kelebihanku. Kalaupun ada yang harus dipoles, itu memang sudah seharusnya kita berusaha yang terbaik, bukan untuk mengambil hati semata, tapi juga buat personal accomplishment. Dan saya merasa senang sekali waktu dikasih tau sama si pacar, ”Hey, papa mamaku seneng kok sama kamu,” huaaaa!!! Rasanya seperti diterima di UGM dulu! Hahaha... yup, I feel like I’m passed the test.

"alhamdulillah, this night went so wonderful, hope everything would be good in the future :) night everyone!"
(my Facebook status - July 1 at 11:32pm via Mobile Web)


(Me and him, in front of Pusat Robotika ITS, 
tried to copying Ultraman and Pahlawan Bertopeng :p)

I don't know whose camera captured this image, I think it was his father's (he's the one who sit in front of us), I just tagged by his sister with the title "candid camera" oooh...

Viewing counter-nya Multiply lagi rusak ya... masak blogku di viewsampe 1500an kali cuma sama 12 user?? Ngarang! hahaha

I love you my Kamen Rider!!!