Friday, December 4, 2009

Baby Come Back to Me!!!

"If you come back to me, I'll be all that you need
Baby, come back to me
Let me make up for what happened in the past"

Come Back to Me - Utada Hikaru



"Yeah, you have to move on, friend..." that's all I heard from my friends when I broke up with my boyfriend about 4 months ago.

Apa itu move on? Mencari cinta baru? Atau kehidupan baru?

Buat aku, sekarang, menjalani kehidupan sebagai single kali ini bener-bener kunikmati. Bahkan sakit hati karena iri dengan pasangan lain, atau karena crush tidak menanggapi perasaanku, atau ditinggal teman-teman yang sibuk sendiri, semuanya kunikmati. Dengan menjadi single, aku malah bisa fokus dengan kegiatan lain yang menurutku lebih positif dan menyenangkan. Bisa belajar banyak hal, dari banyak orang. Mungkin kata "belajar" di usia seperti ini kayanya agak telat ya, dimana sekarang (secara umur) aku sudah bukan teenager lagi. Tapi umur bukan penghalang kan buat belajar hal-hal baru??? Hehehe... That's what I called "move on", starting a new life... nggak semua baru juga sih, tapi paling tidak, lebih menyenangkan dan positif.

Oke, sepertinya aku mulai out of topic nih.

Beberapa saat yang lalu, aku sempet berpikir seperti ini, melihat temen-temen ata melihat di film-film, beberapa pasangan bisa dengan enaknya putus-nyambung, atau paling tidak, salah satu pihak mengajak balikan.

Hmmm... seumur-umur, aku belum pernah nih, yang namanya diajak balikan. Atau mungkin aku nggak ngerasa?? Habis menurutku, semua yang pernah terjadi padaku setelah putus itu hanya excuse saja, yang mana mantan pacarku nggak rela hubungan berakhir, mereka menyayangkan "hubungan" itu sendiri, (mungkin) bukan karena benar-benar menginginkan aku (note, ini hanya pikiranku saja, moga-moga salah).

Hal itu memunculkan pikiran yang (menurutku) sangat tidak sehat, yaitu aku berpikir bahwa aku ini nggak berharga, aku nggak se-berharga itu untuk dicintai kembali... Hmm... I've wrote it in the previous post. Dan setelah beberapa waktu berpikir sendiri, anggapanku itu was wrong. Nggak ada seorang pun yang nggak berharga untuk dipertahankan.

Aku sempet ngobrol-ngobrol dan diskusikan hal ini dengan beberapa teman, they shared their on-off relationship experiences to me (who never experience that, hehehe...). Beberapa berhasil dan beberapa gagal.

Sahabatku sejak kecil (cowo), dia saat ini sedang menjalani hubungan 2nd chance setelah putus dengan pacarnya beberapa bulan setelah KKN. Masalahnya, menurutku, sebenernya cukup fatal. Dan entah apa yang terjadi saat KKN, setelah itu hubungan mereka membaik, dan berakhir dengan balikan. Tapi apakah "balikan" ini can fix their feeling? Aku masih belum tau, tapi setauku, mereka berusaha keras untuk memperbaiki segala yang rusak sebelumnya. Dan (sepertinya) ke arah yang makin baik juga. Bahkan pacarnya mulai bisa toleransi denganku, yang mana aku adalah sahabat cowonya, sejak kecil pula. Moga-moga mereka selalu baik...

Di sisi lain, beberapa sahabatku juga mengalami hubungan 2nd chance dan gagal. Entahlah apa sebab pastinya, tapi beberapa alasan klise yang aku tangkap dari cerita mereka adalah: pengulangan kesalahan yang sama dan hilang(atau habis)nya perasaan.

Let me explain this a little.

Selingkuh itu indah. Ya kan? Asal nggak ketahuan aja sih. Hahaha... Yup, oke, aku nggak munafik, aku pun pernah seperti itu. Dan sangat menyesal pernah seperti itu, I promise, I never do that again!!! Sumpah, nggak enak, dan nggak ada INDAH-indahnya! Ya, kesalahan terbesar yang pernah aku lakukan dalam hubungan pacaranku dengan seseorang. Ehm! Tapi di sini aku bukan mau membicarakan diri sendiri, karena setelah itu aku nggak balikan dengan mantanku, walaupun diajak sih, sampai ngancam-ngancam mau bunuh diri segala. Hahaha!!! Alasanku cuma satu, aku nggak mau nyakiti dia, aku takut aku akan mengulang kesalahan yang sama, dan dia akan jadi sakit lagi. Serius, aku sayang banget sama dia, tapi mau nggak mau balikan sama dia dengan alasan tersebut di atas.

Pengalaman temenku (cowo) berkata lain... Sesaat sebelum dia lulus SMA, dia putus dengan pacarnya, yang mana dia ketahui pacarnya suka sama orang lain. Ya, ini kisah kasih anak sekolah, yang (mungkin) belum bisa dihitung dewasa. Beberapa lama, temenku itu betah menjomblo, mungkin dia masih sayang sama pacarnya itu. Ada 2 tahun lah kayanya temenku itu nggak pacaran sama cewe lain, walaupun yang deket dengan dia banyak (ya iyalah... dia cakep bangeeeett!!). Akhirnya, aku ketahui dia balikan lagi sama cewe itu, setelah diminta balikan gara-gara  si cewe sakit dan mogok makan (halah, bisa-bisanya cewe aja tuh). Ya, intinya temenku itu akhirnya balikan, padahal udah aku wanti-wanti nggak usah blikan. Tapi ternyata, nggak lama kemudian... (as I thought) mereka putus lagi. Alasannya apa??? Si cewe (lagi-lagi) suka sama orang lain, dan temenku itu sudah habis kesabarannya. Ck ck ck...

Begitulah, kadang kesalahan yang sama bisa terulang pada pasangan yang sama. Lebih baik jika nggak bener-bener siap buat memperbaiki kesalahan, jangan balikan dulu deh, daripada sakit hatinya dobel. Dan malah meninggalkan luka yang lebih sakit daripada yang pertama. Tapi salut buat temenku ini, akhirnya sekarang bisa move on, dan sudah dapat cinta baru.

Lain lagi dengan cerita temen-temenku (subyeknya beberapa orang sih, tapi kasusnya sama, jadi aku gabungin aja ya...). Mereka mengalami hubungan balikan dengan kesepakatan. Kesalahan bukan terjadi karena adanya orang ketiga dalam hubungan mereka, tapi karena karakter (atau bisa disebut ego) masing-masing. Kalau katanya NAIF sih seperti Air dan Api, beda karakter, dan nggak bisa disatukan. Apa mungkin lebih tepatnya seperti Air dan Minyak?? Masih bisa menyatu dalam satu wadah, tapi nggak mau melebur jadi satu. Hahaha... nggak penting ah perumpamaan!!

Their 2nd chance relationship pada awalnya berjalan mulus, bahkan bisa dibilang lebih baik. Itu karena mereka berusaha untuk jadi lebih baik. Tapi ternyata, usaha mereka malah memupuskan cinta mereka satu sama lain. Sangat sangat sangat disayangkan, hubungan ini malah jadi terasa lebih berat dan dipaksakan. (Sial, aku mulai speechless menjelaskannya). Menurutku, hubungan yang seperti ini sudah nggak sehat lagi. Walaupun tekad untuk menjadikan hubungan mereka lebih baik itu bisa dibilang tulus, tapi apalah artinya jika itu "dipaksakan"? Dalam sudut pandang mana pun, cinta seperti ini jadi nggak alami lagi. Dengan kata "demi..." yang menjadi pembenar. Demi demi demi dan demiiiiiiiiiiiiiiiiiii apa aja. Justru ini yang menyiksa mereka.

Aku pernah bilang sama temanku itu, "Tapi enak lah, kamu bisa balikan lagi dengan dia, sedangkan aku aja nggak pernah ada yang minta balikan," kataku dengan nada iri. Dan dia jawab dengan sinis, "Ah, lebih baik nggak pernah balikan, itu hanya untuk orang-orang yang egois dan berpikiran pendek,".

Sampai di situ, otakku dipaksa buat menganalisa. Mungkin itulah alasan aku pernah declare bahwa AKU NGGAK AKAN BALIKAN DENGAN MANTAN, KECUALI DIA BERUSAHA 10 KALI LIPAT (ATAU LEBIH) DARIPADA KETIKA DIA MENDAPATKAN AKU DULU.

Selama ini, jujur, aku nggak semudah itu putus dengan pacarku. Aku nggak mau putus begitu mudah lalu meminta/diminta balikan dengan mudah lalu kita sakit hati lalu putus lagi. Terjerat dalam siklus patah hati yang nggak berujung. Sebelum putus, hendaknya dipikirkan dulu. Jangan sampai menyesal. Dan sebisa mungkin jangan meninggalkan luka yang nggak bisa disembuhkan. Dan pernyataan temenku, "egois dan berpikiran pendek" mungkin ada benernya. Orang yang semudah itu menyatakan ingin menyudahi hubungan dan dalam waktu singkat menginginkannya kembali adalah bukti ketidakmatangan seseorang dalam mengambil keputusan (aku nggak beranggapan bahwa diriku matang lho, karena aku juga sering menyesal mengambil keputusan tersebut). Mereka yang tidak konsisten dengan keputusannya, suatu saat pasti akan berulang seperti itu lagi (dengan catatan, ada juga yang enggak lho). Kalau seperti itu, apa artinya hubungan itu? Apa sudah tidak berharga lagi, karena semudah itu dibuang terus diambil lagi??? Please, kalau kalian benar-benar menyayangi hubungan kalian dengan pasangan, dan menganggap pasangan kalian itu berharga, jangan semudah itu melepaskannya lalu kalian pungut kembali (maaf kalau perumpamaanku jelek ya...).

Mempertahankan hubungan itu sampai akhir dan berusaha yang terbaik, itulah yang membuat hubungan pasangan menjadi indah dan berarti.

With this kind of thought, aku menjadi merasa lebih baik. Pasangan yang baik buatku adalah orang yang mempertahankan keberadaanku dalam kondisi apa pun, bukan orang yang melepaskanku lalu menarikku kembali.

Daisuki da yo!


btw ini sama siapa sih?? guess who? hwakakakaka... (^___^)v

2 comments: